BPS: Inflasi Inti Masih Rendah, Daya Beli Masyarakat Belum Pulih

Daurina Lestari, Arrijal Rachman
·Bacaan 1 menit

VIVA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya inflasi pada Oktober 2020 sebesar 0,07 persen setelah tiga bulan berturut-turut terjadi deflasi atau turunnya harga-harga barang di dalam negeri. Tapi, inflasi pada bulan itu tidak menandakan daya beli masyarakat mulai naik.

Kepala BPS, Suhariyanto menjelaskan, kondisi itu disebabkan masih rendahnya inflasi inti. Pada Oktober 2020, inflasi inti 0,04 persen turun cukup curam dari posisi September 0,13 persen.

Sebagai informasi, Bank Indonesia mendefinisikan inflasi inti sebagai komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten di dalam pergerakan inflasi dan dipengaruhi oleh tiga faktor fundamental.

Faktor itu yakni interaksi permintaan-penawaran, lingkungan eksternal seperti nilai tukar, harga komoditas internasional, dan inflasi mitra dagang, serta ekspektasi Inflasi dari pedagang dan konsumen.

Baca juga: Anies Soal Penghargaan: Jakarta Bukan Kota Terbaik Transportasi

"Saya akan simpulkan bahwa inflasi inti ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat belum pulih," kata dia saat konferensi pers, Senin, 2 November 2020.

Menurut Suhariyanto, kondisi itu tidak terlepas dari kondisi masyarakat golongan 40 persen terbawah yang akibat pandemi COVID-19 banyak yang dirumahkan atau mengalami penurunan upah.

"Sehingga daya beli di lapisan bawah turun, tapi lapisan menengah ke atas mereka sebetulnya lebih menahan (belanja)," ungkap dia.

Inflasi yang terjadi pada Oktober 2020, menurut dia, lebih disebabkan oleh kenaikan harga pada komponen harga barang bergejolak, seperti peningkatan harga cabai merah, bawang merah, dan minyak goreng.

"Inflasi pada Oktober 2020 yang 0,07 persen itu terjadi karena terutama disumbang harga barang-barang bergejolak atau volatile price di mana terjadi inflasi 0,4 persen dan sumbangannya ke inflasi 0,07 persen," tutur dia. (art)