BPS Ingatkan Musim Hujan hingga Liburan Bikin Harga Barang Naik

Raden Jihad Akbar, Arrijal Rachman
·Bacaan 1 menit

VIVA – Badan Pusat Statistik (BPS) meminta seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat secara umum untuk mengantisipasi adanya lonjakan harga pada akhir tahun ini. Sebab, mulai masuknya musim penghujan.

Mulai Oktober 2020, BPS sudah mencatat inflasi setelah sebelumnya selama tiga bulan berturut-turut, yakni Juli, Agustus, dan September 2020 terjadi deflasi. Pada Oktober inflasi 0,07 persen dan November 0,28 persen.

"Jadi memang perlu diwaspadai terkait mulai musim penghujan, kemudian adanya libur panjang beberapa waktu lalu," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, BPS, Setianto, Selasa, 1 Desember 2020.

Baca juga: Ma'ruf Tegaskan Forum Zakat Dunia Bisa Bantu Pulihkan Ekonomi Global

Setianto mengatakan, musim penghujan akan mengganggu aktivitas distribusi barang dan jasa. Kondisi itu memengaruhi kenaikan harga dari tingkat produsen ke konsumen.

"Terkait musim penghujan ke depan, barangkali terkait distribusi barang untuk cuaca ombak tinggi kemudian curah hujan tinggi, ini bisa menghambat distribusi barang dari produsen ke konsumen," tuturnya.

Pada November 2020, mayoritas kelompok komoditas yang dipantau harganya oleh BPS mengalami kenaikan. Terbesar adalah kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,86 persen.

Diikuti kelompok pengeluaran kesehatan 0,32 persen, transportasi 0,30 persen, pakaian dan alas kaki 0,14 persen, pendidikan 0,12 persen, serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran 0,11 persen.

Setelah itu, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga inflasi 0,08 persen, rekreasi, olahraga dan budaya inflasi 0,04 persen serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,02 persen.

"Sementara, dua kelompok komoditas seperti perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga deflasi 0,04 dan perawatan pribadi dan jasa lainnya deflasi 0,23 persen," ungkap Setianto. (art)