BPS: Jumlah Penduduk Miskin 29,13 Juta

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin mengungkapkan jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2012 mencapai 29,13 juta orang atau 11,96 persen , atau turun 890.000 orang dibandingkan bulan yang sama 2011.

"Jumlah penduduk yang berada dalam garis kemiskinan turun 0,89 juta orang," kata Suryamin di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan angka penduduk miskin turun 0,89 juta orang atau 0,53 persen dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2011 yang tercatat sebesar 30,02 juta orang atau 12,49 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

Menurut dia, dalam setahun penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang sekitar 399.500 orang dari 11,05 juta orang menjadi 10,65 juta orang, sementara di daerah pedesaan berkurang 487 ribu orang dari 18,97 juta orang menjadi 18,48 juta orang.

Suryamin mengatakan faktor yang terkait penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin selama setahun terakhir adalah upah harian buruh tani dan buruh bangunan meningkat selama triwulan I-2011 dan triwulan I-2012.

"Upah harian pada dua periode ini meningkat masing-masing sebesar 2,96 persen dan 4,81 persen," ujarnya.

Kemudian, Suryamin mengatakan penerima beras murah atau raskin dalam tiga bulan terakhir pada kelompok 20 persen penduduk dengan pendapatan terendah, meningkat dari 13,3 persen menjadi 17,2 persen di daerah perkotaan.

"Begitu juga di daerah pedesaan terjadi peningkatan dari 13,3 persen menjadi 17,2 persen," katanya.

Penerima pelayanan kesehatan gratis selama enam bulan terakhir pada 20 persen penduduk dengan pendapatan terendah juga mengalami peningkatan dari 4,6 persen menjadi 5,6 persen di perkotaan.

"Hal yang sama juga terjadi di daerah pedesaan, penerima pelayanan kesehatan gratis di kelompok tersebut meningkat dari 3,9 persen menjadi 4,7 persen," kata Suryamin.

Selain itu, faktor lain yang ikut mendukung adalah inflasi umum yang relatif rendah yaitu sebesar 3,97 persen dan perbaikan penghasilan petani yang ditunjukkan oleh kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 1,32 persen dalam setahun terakhir.

Suryamin mengatakan perekonomian pada triwulan I-2012 yang tumbuh 6,3 persen terhadap triwulan I-2011 juga ikut membantu, sedangkan pengeluaran konsumsi rumah tangga tumbuh 4,9 persen pada periode yang sama.

Dari sisi ukuran subyektif, persentase rumah tangga dengan 20 persen penduduk pendapatan terendah yang menyatakan bahwa penghasilannya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam sebulan terakhir meningkat dari 8,1 persen menjadi 12,4 persen di daerah perkotaan.

"Di daerah pendesaan meningkat 8,5 persen menjadi 11 persen pada 2012," ujar Suryamin.

Pada Maret 2012, komoditi makanan yang memberi sumbangan terbesar pada Garis Kemiskinan adalah beras yaitu sebesar 29,23 persen di perkotaan dan 35,61 persen di pedesaan.

Selain itu, rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua dengan 8,13 persen di perkotaan dan 7,07 di pedesaan, telur ayam ras dengan 3,41 persen di perkotaan dan 2,62 persen di pedesaan serta gula pasir dengan 2,63 persen di perkotaan dan 3,68 persen di pedesaan.

Sementara, komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada Garis Kemiskinan adalah biaya perumahan dengan 10,32 persen di perkotaan dan 7,16 di pedesaan, biaya listrik dengan 2,32 persen di perkotaan dan 2,06 persen di pedesaan serta biaya pendidikan dengan 2,88 persen di perkotaan dan 1,64 persen di pedesaan.

Suryamin mengatakan dari jumlah penduduk, sebagian besar penduduk miskin berada di Jawa yaitu sebanyak 16,11 juta orang, sementara penduduk miskin terkecil berada di Kalimantan dengan 950.000 ribu orang.

"Namun, dari persentase, jumlah penduduk miskin terbesar berada di Maluku dan Papua, yaitu sebesar 24,77 persen," katanya. (tp)


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.