BPS: Kenaikan harga BBM tak pengaruhi ekonomi seluruh triwulan III

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengatakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) hanya terjadi pada satu bulan di triwulan III-2022, yakni pada September, sehingga dampaknya tidak terjadi pada keseluruhan kuartal.

Adapun perekonomian Indonesia berhasil tumbuh tinggi pada triwulan III-2022, yakni 5,72 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy) atau lebih tinggi dari triwulan II-2022 yang sebesar 5,45 persen (yoy).

"Namun ini tetap butuh kajian lebih lanjut karena belum bisa kami lihat secara langsung bagaimana dampak kenaikan BBM itu kepada pertumbuhan ekonomi," ungkap Margo dalam Konferensi Pers Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2022 yang dipantau secara daring di Jakarta, Senin.

Kendati demikian, ia menjelaskan secara sederhana BBM digunakan hampir di seluruh sektor perekonomian Indonesia saat ini.

Baca juga: BPS: Tingkat pengangguran terbuka turun jadi 5,86 persen di Agustus

Maka dari itu, kenaikan harga BBM tentunya akan berdampak kepada biaya produksi dan meningkatnya harga barang dan jasa, sehingga akan memberi dampak kepada kemampuan masyarakat untuk mengkonsumsi barang dan jasa.

Pada kondisi normal karena biaya produksi meningkat, kata Margo, maka pilihan bagi pelaku usaha adalah menaikkan harga barang dan jasa.

"Hal ini yang tentu saja terkompensasi juga kalau misalkan daya beli masyarakat bisa terjaga atau semakin meningkat," tuturnya.

BPS mencatat konsumsi rumah tangga pada triwulan III-2022 tercatat sebesar 5,39 persen (yoy). Namun angka tersebut sedikit melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mampu meningkat hingga 5,51 persen (yoy).

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan ketiga tahun ini ditopang oleh peningkatan mobilitas, meningkatnya aktivitas belanja pada kelompok masyarakat menengah-atas khususnya untuk kebutuhan tersier, serta daya beli kelompok masyarakat bawah yang terbantu oleh bantuan sosial dan subsidi energi.

Baca juga: BPS paparkan naiknya harga tambang beri "windfall" ekonomi regional