BPS luncurkan NIT beri gambaran menyeluruh perekonomian Indonesia

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono meluncurkan Neraca Institusi Terintegrasi (NIT) yang menyajikan data perekonomian nasional secara komprehensif serta gambaran secara menyeluruh.

"Penyediaan NIT juga komitmen Indonesia untuk memenuhi rekomendasi Data Gap Initiative (DGI), khususnya pada poin 2.8 mengenai diseminasi Sectoral Accounts and Balance Sheet (SAB) atau dalam bahasa Indonesia kita terjemahkan sebagai NIT," kata Margo dalam Peluncuran dan Sosialisasi NIT di Jakarta, Selasa.

Proses penyusunan NIT dilakukan melalui serangkaian tahapan, mulai dari pengumpulan data dari berbagai kementerian dan lembaga, rekonsiliasi data, hingga review, dan analisis data.

Dalam penyusunan NIT, BPS bekerja sama dengan Bank Indonesia serta mendapat dukungan penuh dari Kementerian Keuangan, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai penyedia data utama.

Baca juga: BPS: Neraca Perdagangan RI surplus 5,67 miliar dolar pada Oktober 2022

"NIT merupakan muara dari data makro ekonomi yang terintegrasi, komprehensif, dan koheren. Oleh karena itu, kolaborasi dan kerjasama antar instansi dalam penyusunan NIT harus tetap dijaga dan diperkuat," katanya.

Penyusunan NIT juga dilakukan dengan melakukan harmonisasi untuk memastikan konsistensi data makro ekonomi antara lain, harmonisasi data Produk Domestik Bruto (PDB) dari tiga sisi pendekatan, baik produksi, pengeluaran, dan pendapatan.

Selanjutnya juga dilakukan konsistensi data NIT dengan government’s finansial statistic yang dirilis Kementerian Keuangan, konsistensi NIT dengan monetary-financial statistic dari Bank Indonesia, dan konsistensi NIT dengan data balance of payment dari BI.

"Upaya harmonisasi ini merupakan langkah untuk menjaga konsistensi berbagai sumber data dalam rangka menjamin kualitas data makro ekonomi Indonesia," ucapnya.

Baca juga: BPS: Kenaikan harga BBM tak pengaruhi ekonomi seluruh triwulan III

Baca juga: BPS catat ekonomi Indonesia tumbuh 5,72 persen pada triwulan III