BPS Ungkap Sebab Konsumsi Pemerintah 2020 Tumbuh 1,94 Persen

Fikri Halim, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 1 menit

VIVA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi pemerintah pada 2020 tumbuh 1,94 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Pertumbuhan ini melambat dibanding 2019 yang tumbuh 3,25 persen dan 2018 yang tumbuh 4,8 persen.

Kepala BPS, Suhariyanto menjelaskan, pertumbuhan konsumsi pemerintah itu tertahan karena terjadinya penurunan belanja pegawai, berkurangnya insentif, dan menurunnya perjalanan dinas.

"Bahwa selama tahun 2020 ini, terjadi penurunan belanja pegawai, tidak ada insentif di 2020, dan adanya penurunan belanja perjalanan dinas," kata Suhariyanto dalam telekonferensi, Jumat 5 Februari 2021.

Sementara, dana dari APBN yang ditujukan untuk bantuan sosial dalam bentuk tunai, Suhariyanto menjelaskan bahwa hal itu dicatat sebagai konsumsi rumah tangga.

Di satu sisi, dia juga mengungkap ada optimisme kondisi perekonomian nasional, yang diprediksi masih akan tumbuh pada kuartal I-2021 ini. Walaupun tantangan yang cukup besar masih berasal dari dinamika penanganan pandemi COVID-19, namun sejumlah indikator telah menunjukkan adanya arah perbaikan di dalam perekonomian nasional saat ini.

"Harapan kita semuanya sudah bisa mulai recovery di kuartal I-2021 ini, dan sudah bisa mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi di kuartal II-2020 dan seterusnya. Tapi optimisme itu pun harus dibarengi dengan (penerapan) prokes," ujarnya.

Diketahui, BPS telah mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal IV-2020, tercatat mengalami kontraksi 2,19 persen yoy.

Sementara secara quarter-to-quarter, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tercatat mengalami kontraksi 0,42 persen. Sehingga, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2020 pun mengalami kontraksi atau minus sebesar 2,07 persen.

Baca juga: Jokowi Akhirnya Bicara soal Kudeta, Tapi di Myanmar