BPTJ: Integrasi Antarmoda Kunci Efektivitas LRT Jabodebek

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kemenhub menilai integrasi antarmoda pada Light Rail Transit (LRT) Jabodebek yang direncanakan beroperasi pada pertengahan 2022, akan menjadi faktor penting efektivitas moda tersebut sebagai angkutan umum massal.

BPTJ pun sejak 2018 telah melakukan berbagai langkah koordinasi menjembatani penyusunan konsep integrasi moda LRT Jabodetabek, antara Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) dan PT Adhi Karya yang mendapatkan penugasan pembangunan LRT Jabodebek dengan para stakeholder lain.

"Konsep tentang bagaimana integrasi moda tersebut saat ini telah tersusun, meski masih terus membutuhkan langkah-langkah lanjut dan penyempurnaan agar konsep tersebut dapat terealisasikan," ungkap Kepala BPTJ, Polana B Pramesti, dalam keterangan resminya pada Jumat (5/2/2021).

Banyaknya pemangku kepentingan yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan transportasi, memunculkan sekat-sekat baik di dalam kebijakan maupun realitas layanan transportasi di lapangan. Di sinilah langkah-langkah koordinasi untuk menyinergikan pengelolaan moda perlu dilakukan untuk mewujudkan integrasi antar moda tersebut.

Kendati demikian agar harapan tersebut tercapai banyak hal yang harus dipersiapkan dari awal, termasuk diantaranya menyangkut integrasi LRT Jabodebek ini dengan moda lainnya.

"Masyarakat tentu akan mengandalkan LRT Jabodebek jika angkutan massal ini dapat memberikan kemudahan untuk mobilitas mereka. Masyarakat akan diuntungkan jika misalnya waktu tempuh lebih cepat dibanding kendaraan pribadi, serta terdapat kemudahan akses menuju stasiun terdekat ataupun kemudahan akses berganti moda dari stasiun pemberhentian menuju titik terakhir tujuan mereka," jelas Polana.

Lintasan LRT Jabodetabek

Foto arial proyek pembangunan jalur Light Rail Transit (LRT) Jabodebek rute Cawang-Dukuh Atas yang mencapai 77, 7 persen di Jakarta, Jumat (29/1/2021). Target operasi secara komersial untuk LRT Jabodebek adalah awal Juli 2022. (merdeka.com/Imam Buhori)
Foto arial proyek pembangunan jalur Light Rail Transit (LRT) Jabodebek rute Cawang-Dukuh Atas yang mencapai 77, 7 persen di Jakarta, Jumat (29/1/2021). Target operasi secara komersial untuk LRT Jabodebek adalah awal Juli 2022. (merdeka.com/Imam Buhori)

Secara keseluruhan, lintasan layanan LRT Jabodebek total memiliki panjang 44,43 km yang terbagi dalam 3 lintas pelayanan. Cawang-Cibubur sebagai lintas pelayanan I memiliki panjang lintasan 14,89 km dengan 4 stasiun di dalamnya.

Sementara itu lintas pelayanan II adalah Cawang - Dukuh Atas sejauh 11.05 km dengan 8 stasiun. Lintas pelayanan terakhir (III) adalah Cawang - Bekasi Timur sejauh 18,49 km dengan 6 stasiun termasuk di dalamnya stasiun integrasi antara LRT Jabodebek dengan Kereta Cepat Jakarta Bandung.

Meski hanya sepanjang 44, 43 km, implikasi pembangunan LRT ini disebut cukup kompleks karena banyaknya pemangku kepentingan yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung.

Setidaknya ada dua Pemerintah Provinsi, tiga pemerintah kota/kabupaten, beberapa kelembagaan Pemerintah Pusat, BUMN, BUMD, swasta, dan lembaga sosial maupun masyarakat secara langsung yang harus diselaraskan kepentingannya dan didorong partisipasinya guna mendukung kelancaran pembangunan dan pengoperasian LRT Jabodebek.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: