BRI Liga 1: Manajemen PSS Kecam Aksi Pengeroyokan Suporter hingga Meninggal

Bola.com, Sleman - Sepak bola Indonesia kembali berduka. Seorang suporter PSS Sleman bernama Aditya Eka Putranda meninggal dunia usai dikeroyok oleh beberapa oknum suporter usai menonton pertandingan antara PSS menghadapi Persebaya, Sabtu (27/8/2022) malam lalu.

Aditya adalah korban kedua dari suporter PSS Sleman dalam sebulan terakhir. Pada awal Agustus 2022 lalu, suporter Elang Jawa bernama Tri Fajar Firmansyah juga meninggal dunia.

Direktur Utama PT Putra Sleman Sembada, Andywardhana prihatin dengan kejadian meninggalnya suporter PSS Sleman itu. Ia juga mengecam kejadian tersebut.

"Kami keluarga besar PSS turus prihatin dan berbelasungkawa atas meninggalnya salah satu keluarga kami dari BCS yaitu saudara Aditya," kata Andy.

"Kami sangat menyesalkan dan mengecam kejadian ini kembali terulang serta akan mengawal hingga tuntas sampai pelaku diberikan hukuman yang setimpal," ujar direktur utama PT Putra Sleman Sembada (PT PSS), sambungnya.

Tidak Ada yang Lebih Berharga dari Nyawa

<p>Flare yang dinyalakan oleh beberapa pendukung Persib Bandung saat menghadapi PSS Sleman, Jumat (19/8/2022) lalu. (dok. PSS Sleman)</p>

Flare yang dinyalakan oleh beberapa pendukung Persib Bandung saat menghadapi PSS Sleman, Jumat (19/8/2022) lalu. (dok. PSS Sleman)

Andy pun menyatakan tidak ada yang lebih berharga dari nyawa. Bahkan jika harus dibandingkan dengan sepak bola sekalipun.

"Tidak ada yang lebih berharga dari sepak bola daripada nyawa itu sendiri. Tentu menjadi suatu impian dari kita semua dari PSS saya rasa juga dari klub lain bahwa rivalitas itu hanya ada di lapangan selama 90 menit, lalu setelah itu kita tetap sebagai suatu keluarga dan juga menjunjung tinggi sportifitas," ujar Andy.

Prihatin

Direktur Keuangan PSS Sleman, Andy Wardhana Putra (Bola.com/Vincentius Atmaja)
Direktur Keuangan PSS Sleman, Andy Wardhana Putra (Bola.com/Vincentius Atmaja)

Andy kemudian menyatakan sebelumnya ia sudah menyatakan tak ingin kejadian serupa terjadi kembali saat Tri Fajar Firmansyah meninggal dunia pada awal bulan Agustus lalu. Namun, kejadian serupa justru kembali terjadi.

"Dari kejadian sebelumnya, saya sudah tidak ingin ini terjadi kembali. Membayangkan bagaimana orang tuanya melepas anaknya untuk mendukung kebanggan dan ternyata ia tidak pernah kembali membuat hati saya sangat teriris," urainya.

Hukuman Setimpal

Saling respek juga ditunjukkan kedua suporter yang secara bergantian menyanyikan lagu kebesaran masing-masing klub sepanjang laga PSS Sleman melawan Persib Bandung. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)
Saling respek juga ditunjukkan kedua suporter yang secara bergantian menyanyikan lagu kebesaran masing-masing klub sepanjang laga PSS Sleman melawan Persib Bandung. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Pria berkacamata itu kemudian meminta pihak Kepolisian untuk bisa tegas. Pelaku yang terlibat di dalam pengeroyokan itu harus dihukum dengan hukuman setimpal.

"Siapapun pelakunya, semoga pihak kepolisian bisa memberikan hukuman yang setimpal. Saya berharap kejadian ini tidak terulang lagi dan menjadi pembelajaran untuk kita yang cukup mahal," ungkapnya.

Kejadian Terakhir

Direktur Utama PT PSS Sleman, Andy Wardhanaputra. (Dok. PSS Sleman)
Direktur Utama PT PSS Sleman, Andy Wardhanaputra. (Dok. PSS Sleman)

Menurut Andy, sapaan akrabnya, berharap agar dari kejadian ini, suporter sepak bola di seluruh Indonesia bisa sadar dan hal serupa seperti ini tidak perlu terjadi lagi.

"Saya berharap dengan kejadian ini, seluruh suporter sepak bola di seluruh Indonesia bisa sadar dan membuka mata kalau sepak bola tidak lebih berharga daripada nyawa. Semoga kita bisa lebih baik lagi menata kekeluargaan di antara para suporter sepak bola di Indonesia," tegas Andy.

Yuk Tengok Persaingan Tim Favoritmu Saat Ini