Brigadir Frillyan Disanki Demosi 2 Tahun, Polri: Dia dan Bharada S Rampas HP Wartawan

Merdeka.com - Merdeka.com - Mantan BA Roprovos Divpropam Polri, Brigadir Frillyan Fitri Rosadi dijatuhi sanksi demosi selama 2 tahun. Frillyan dianggap tidak profesional dalam menjalankan tugas menangani kasus pembunuhan Brigadir J alias Nopriansyah Yoshua Hutabarat.

Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan, pelanggaran etik yang dilakukan oleh Brigadir Frillyan Fitri yakni juga merampas handphone milik awak media pada saat melakukan peliputan.

"Dia (Brigadir FF) dan Bharada S yang merampas HP media saat peliputan," kata Dedi saat dihubungi, Rabu (14/9).

"Anggota provost yang jaga saat itu," tambahnya.

Sanksi Demosi Dua Tahun

Mantan BA Roprovos Divpropam Polri Brigadir Frillyan Fitri Rosadi dijatuhi sanksi demosi selama 2 tahun. Dia terbukti tidak profesional dalam menjalankan tugas menangani kasus pembunuhan Brigadir J alias Nopriansyah Yoshua Hutabarat.

"Sanksi administratif, yaitu mutasi bersifat demosi selama 2 tahun," kata Wakil Ketua Sidang KKEP Kombes Rahmat Pamudji, dilihat dari TV Polri, Selasa (13/9).

Majelis sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) menilai Brigadir Frillyan terbukti melanggar Pasal 5 Ayat 1 huruf b dan atau Pasal 5 Ayat 1 huruf c Perpol Nomor 7 Tahun 2022 tentang Kode Etik Profesi dan Komisi Kode Etik Polri.

Permintaan Maaf Lisan dan Tulisan

Selain disanksi demosi, majelis juga menjatuhkan sanksi terhadap Frillyan dengan menyampaikan permintaan maaf secara lisan dan tertulis kepada pimpinan Polri.

"Kewajiban pelanggar meminta maaf secara lisan di hadapan Komisi Kode Etik Polri dan secara tertulis kepada Pimpinan Polri," tuturnya.

Brigadir Frillyan menerima keputusan tersebut tanpa mengajukan banding. Dia langsung membacakan permintaan maafnya di hadapan komisi sidang etik.

Nama Brigadir Frillyan sebelumnya sempat masuk dalam 24 personel yang dimutasi ke Pelayanan Markas (Yanma) Polri terkait kasus pembunuhan Brigadir Yosua. Mutasi tersebut tertuang dalam surat telegram rahasia dengan nomor ST /1751/ VIII/ KEP./2022 tertanggal 23 Agustus 2022.

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Nurul Azizah mengatakan, Brigadir Frillyan diduga tidak profesional dalam menjalankan tugas. Namun tak dirinci apa ketidakprofesionalan yang dimaksud.

"Sedangkan wujud perbuatan yaitu ketidakprofesionalan dalam melaksanakan tugas," ucapnya.

Total ada 4 saksi yang dihadirkan dalam sidang etik itu, yakni Kompol SM, Ipda DDC, Briptu Firman Dwi Ariyanto, serta Bharada Sadam. [lia]