Brilian, Guru Mengubah Ruang Belajar Jadi Pesawat Luar Angkasa

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Seorang guru bernama Farra mengubah taman kanak-kanak (TK) di sebuah desa di Malaysia menjadi pesawat luar angkasa. Hal ini untuk menciptakan ruang belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi seluruh siswanya.

Farra, yang mengajar di Tabika Talang Hulu, Perak, membagikan pengalamannya merombak ruang belajar di halaman Facebook pribadinya. Ia juga memperlihatkan bagaimana menghabiskan waktu di sekolah TK supaya kelasnya terlihat seperti pesawat luar angkasa yang mural yang dilukis dengan tangan.

Baca: Joe Biden Restui Pasukan Militer Bentukan Donald Trump

Karya seni dan desainnya yang mendetail meliputi galaksi lengkap dengan Matahari dan bintang, kokpit, dan astronot terapung di ruang angkasa. Farra membagikan gambar pesawat luar angkasanya kemajuan setiap minggu di Facebooknya.

Ia dan orang-orang yang membantunya mulai dengan mengecat langit-langit kelas dahulu, sebelum dinding. “Kami hanya orang desa biasa tapi hati kami besar. Mungkin tidak terlihat seperti aslinya, tapi setidaknya kami mencoba,” kata Farra, seperti dikutip dari situs Mashable, Senin, 8 Februari 2021.

Farra ingin mengubah pandangan banyak orang yang menganggap menjadi guru di desa adalah hal yang biasa dan membosankan. "Saya ingin mengubah pandangan itu lewat karya seni,” jelasnya.

Meskipun dirinya sudah cukup banyak merapikan taman kanak-kanak (TK), tetapi Farra ingin menambah ornamen bertema luar angkasa seperti poster dan penutup meja untuk melengkapi temanya. Hasil kerja kerasnya pun terbayar.

Sebelumnya, seorang siswa terpaksa harus mendaki bukit dan tidur di atas pohon demi mendapatkan sinyal internet untuk belajar online. Hal itu dialami orang Veveonah Mosibin (18), seorang warga desa di distrik Pitas, Negara Bagian Malaysia, Sabah timur, Kalimantan.

Nama Mosibin menjadi perbincangan publik ketika video YouTube yang viral pada Juni 2020, di mana ia menunjukkan bagaimana harus berjuang mendaki bukit dan tidur di pohon hanya untuk mendapatkan sinyal internet mengikuti ujian online.

"Tidak ada layanan internet di rumah saya. Desa saya banjir bulan lalu, dan saya harus membawa anak-anak saya ke sungai dengan perahu kecil untuk belajar karena airnya setinggi dada," kata Suzianah Bidin (32), ibu dari Veveonah Mosibin.