BRIN beri penghargaan Huawei di AIIS 2021 atas kontribusi di AI

·Bacaan 2 menit

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kolaborasi Riset dan Inovasi Nasional (Korika) memberikan penghargaan utama kepada penyedia solusi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Huawei karena dinilai mampu memberikan kontribusi dalam perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.

Penyerahan penghargaan tersebut dilakukan dalam gelaran Artificial Intelligence Innovation Summit (AIIS) pada Rabu. Sejak diselenggarakan pada 2020, AIIS diharapkan menjadi gelaran edukatif yang memfasilitasi para pemangku kepentingan untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang ditetapkan Strategi Nasional (Stranas) AI.

Baca juga: LPDP akan berkoordinasi dengan BRIN untuk penelitian

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengapresiasi atas komitmen Huawei Indonesia dalam mendukung serta berkontribusi terhadap realisasi Strategi Nasional (Stranas) AI dan penguatan peran AI untuk meraih sejumlah capaian penting nasional.

“Kami menghargai dan mengapresiasi dukungan Huawei, dalam mendukung visi pemerintah terutama untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju berbasis riset dan inovasi yang selaras dengan visi-misi Stranas AI,” kata Handoko melalui siaran pers dikutip Rabu.

Pihaknya berharap Huawei Indonesia akan meningkatkan perannya dalam mendukung optimalisasi pengaplikasian teknologi AI di berbagai bidang strategis.

Handoko menyebutkan bahwa AI akan dimanfaatkan untuk menyelesaikan beberapa tantangan di lima area prioritas demi mengamankan masa depan Indonesia.

Kelima area prioritas yang dimaksud adalah layanan kesehatan, perampingan birokrasi, pendidikan dan riset, keamanan pangan, serta mobilitas, transportasi, dan smart city.

Oleh karena kelima area tersebut menjadi komponen wajib agar Indonesia dapat menyandang status negara maju, kekuatan AI untuk mengotomatisasi berbagai pekerjaan manual dan menganalisis data dengan volume yang besar patut digunakan secara maksimal.

Sementara itu, Ketua Umum Korika Hammam Riza menyebutkan beberapa tantangan yang menghambat laju adopsi AI, salah satunya adalah kesiapan tenaga kerja dan talenta digital.

Selain itu, kesiapan regulasi untuk mengatur penggunaan AI secara etis dan bertanggung jawab, kesiapan infrastruktur teknologi dan ketersediaan data, serta kesiapan industri serta sektor publik dalam mengadopsi berbagai inovasinya sendiri juga menjadi deretan tantangan yang perlu diperhatikan.

“Di ambang digitalisasi perekonomian Indonesia secara masif, kita perlu bersama-sama memastikan bahwa ekosistem sudah cukup matang untuk menyambut berbagai inovasi yang bisa dimunculkan teknologi AI,” tutur Hammam.


Baca juga: BRIN bangun empat unit rumah komposit tahan gempa pada 2021

Baca juga: BRIN: Indonesia sebagai jalan raya genetik kuno hubungkan Asia-Pasifik

Baca juga: BRIN kembangkan pemecah gelombang untuk melindungi kawasan pantai

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel