BRIN: Eksplorasi bahan baku litium dukung produksi baterai listrik

Peneliti Pusat Riset Metalurgi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Latifa Hanum Lalasari mengatakan perlu melakukan riset dan eksplorasi sumber bahan baku litium untuk mendukung pengembangan dan produksi baterai untuk kendaraan listrik dalam negeri.

"Kebutuhan litium sampai tahun 2030 dan seterusnya masih terus meningkat. Peran Indonesia, apakah Indonesia mampu menghasilkan bahan baku litium tersebut? Ini memang perlu eksplorasi dan riset secara bersama-sama," katanya dalam lokakarya tentang litium Indonesia yang diikuti dalam jaringan di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan konsumsi litium di dunia terus meningkat di mana pada 2022, pembangunan kendaraan listrik membutuhkan baterai, dan bahan baku utama baterai tersebut adalah litium. Oleh karenanya riset dan eksplorasi sumber bahan baku litium menjadi penting dilakukan.

"Kalau misalkan kita tidak melakukan riset tersebut, secara tidak langsung akan terjadi ketinggalan teknologi," katanya.

Di alam, kata da, litium ditemukan dalam berbagai konsentrasi dalam air laut, pegmatit, air laut, oil field brine, geothermal brine, dan batuan sedimen (Li rich clay).

Sumber bahan baku litium bisa dieksplorasi dari sumber daya primer seperti air laut dan batuan, dan sumber daya sekunder seperti baterai bekas dan hasil proses tambang.

"Indonesia memang pada saat sekarang lagi bergerak cepat untuk bisa mengejar ketertinggalan untuk proses ekstraksinya litium dari berbagai sumber daya primer maupun sekunder," katanya.

Latifa mengatakan salah satu pendekatan pengolahan ekstraksi litium dari sumber daya primer yang bisa dilakukan ke depan adalah mengekstraksi litium dari air laut atau geothermal brine.

Menurut dia, kegiatan riset dan inovasi perlu memecahkan salah satu isu nasional terkait penyediaan bahan baku baterai dari sumber daya lokal dalam rangka mendukung pengembangan mobil listrik nasional.

Untuk itu, upaya mengeksplorasi dan mengetahui ketersediaan sumber bahan baku litium dan mineral lain di Indonesia memerlukan kolaborasi lintas disiplin ilmu dan semua pihak termasuk universitas.

Data ketersediaan sumber bahan baku litium berguna untuk mendukung proses pengolahan litium dengan memperhatikan potensi dan ketersediaannya di alam Indonesia.

Selain menjawab isu ketersediaan sumber bahan baku litium, kegiatan penelitian dan pengembangan juga ditujukan untuk menghasilkan teknologi pengolahannya, demikian Latifa Hanum Lalasari ​​​​​​.

Baca juga: Dosen UNS sabet ITSF lewat penelitian baterai litium

Baca juga: Menristek dukung pemakaian baterai litium lokal untuk mobil listrik

Baca juga: Luhut: 2024 Indonesia produksi baterai litium tipe 811

Baca juga: Sulsel miliki peluang bangun pabrik baterai litium