BRIN: Peta area situs perlu dibuat lindungi Candi Balekambang Jateng

Ketua Tim Arkeolog Pusat Riset Arkeologi Sejarah dan Prasejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Agustijanto Indrajaya mengatakan peta kawasan situs perlu dibuat untuk melindungi struktur bangunan candi bata di area situs Balekambang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

"Peta kawasan situs Balekambang menjadi penting karena saat ini situs tersebut berada di areal perkembangan tahap dua Kawasan Industri Batang. Peta kawasan situs diperlukan agar tidak rusak atau hancur karena arealnya menjadi pabrik nantinya," kata Agus saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Agus menuturkan berdasarkan analisis pertanggalan carbondating C-14 di laboratorium, Candi Balekambang yang terletak di Desa Sawangan, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah tersebut dibangun pada pertengahan abad ke-7 sehingga usianya lebih tua dari Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.

Candi Borobudur diperkirakan dibangun sekitar abad ke-8 dan ke-9 Masehi di era Dinasti Syailendra yang merupakan penganut agama Buddha Mahayana.

"Temuan wadah berisi arang yang ditemukan di dalam parit pondasi candi dikirim untuk penanggalan radiokarbon ke laboratorium DirectAMS (di Amerika Serikat). Hasilnya menunjukkan pada pertengahan abad ketujuh," ujar Agus.

Baca juga: Arkeolog Prancis dan BRIN kaji penemuan Candi Batu di KIT Batang

Baca juga: BRIN: Kuasai teknologi produksi sorgum antisipasi krisis pangan

Sampel kedua secara berurutan juga dikirim ke laboratorium yang berbeda yaitu Universitas Waikato di Selandia Baru, untuk melakukan pemeriksaan silang penanggalan, dan hasilnya sama. Itu menjadi dasar kesimpulan bahwa Candi Bata Balekambang adalah candi tertua di Jawa Tengah, lebih tua dari Candi Borobudur.

Agus mengatakan penelitian di situs Balekambang masih perlu dilakukan termasuk survei di areal perbukitan yang dulu merupakan hutan sehingga sulit untuk dilakukan survei, namun sekarang sudah terbuka sehingga memungkinkan untuk melaksanakan survei.

Penelitian di situs Balekambang sudah dimulai sejak 2014 yang merupakan kerja sama antara Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan institusi riset École française d'Extrême-Orient (EFEO) Prancis. Dr Veronique Degroot adalah arkeolog dari EFEO yang terlibat di dalam penelitian di situs Bale Kambang.

Pada 2019, setelah areal hutan industri yang berbatasan dengan situs Bale Kambang, ditebang, ada informasi gundukan tanah yang di atasnya terdapat banyak fragmen bata.

Baca juga: BRIN: Saksikan fenomena tengah hari lebih awal pada 3 November

Saat ditemukan, Agus menuturkan kondisinya berupa gundukan tanah dengan sebaran fragmen bata. Pihaknya melakukan penggalian dengan membuka sisi timur dari gundukan tanah tersebut.

Ia mengatakan keberadaan candi tersebut penting bagi rekonstruksi sejarah Indonesia terutama masa Hindu-Buddha sehingga perlindungan harus dilakukan mulai dari kawasan candi hingga mencakup lanskap sekitar candi dari dataran aluvial ke puncak bukit dan di area yang cukup untuk menghindari polusi visual.

"Situs Balekambang merupakan situs arkeologi yang sangat penting dalam sejarah periode Hindu-Budha di Indonesia," ujarnya.

Demikian juga, keberadaan sumber air tawar di mata air Balekambang dan Sekluntung merupakan bagian integral dari situs dan harus dilindungi dari sumber pencemaran oleh industri atau aktivitas manusia di sekitarnya.

Baca juga: BRIN: Amati gerhana bulan total pada 8 November 2022

Baca juga: BRIN: Teknologi dan riset penting kembangkan sektor industri halal