BRIN sediakan skema fasilitasi riset untuk akuisisi pengetahuan lokal

·Bacaan 2 menit

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengatakan pihaknya menyediakan skema fasilitasi riset untuk akuisisi pengetahuan lokal dalam melestarikan dan mendokumentasikan kearifan lokal.

"Ini adalah upaya kita untuk tidak hanya sekedar menggali dan mendokumentasikan berbagai kearifan lokal, pengetahuan lokal yang ada di segenap penjuru Tanah Air kita," kata Handoko dalam acara Webinar Fasilitasi dan Pendanaan Riset dan Inovasi di Jakarta, Selasa.

Eksplorasi dan dokumentasi kearifan dan pengetahuan lokal tersebut juga bisa menjadi bahan yang memicu kreativitas bagi para periset di BRIN.

Dokumentasi tersebut menjadi petunjuk bagi para peneliti dalam mengembangkan suatu produk riset dan inovasi, misalnya di suatu daerah dikenal ada daun dari tanaman tertentu bisa memiliki khasiat menurunkan panas.

Baca juga: BRIN fasilitasi riset ekspedisi dan eksplorasi kekayaan hayati daratan

Baca juga: Sikap DPRD kota Bogor tetap minta BRIN menolak wisata Glow

Berdasarkan petunjuk pada pengetahuan lokal tentang manfaat tanaman tersebut, maka para peneliti kemudian mengeksplorasi dan melakukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan potensi dalam pengembangan obat tertentu seperti obat herbal terstandar dan fitofarmaka.

Akuisisi pengetahuan lokal tersebut juga ditujukan untuk memastikan seluruh kearifan dan pengetahuan lokal di seluruh penjuru Tanah Air bisa terjaga atau terkonservasi dan diturunkan ke generasi berikutnya dalam bentuk suatu dokumentasi yang baik.

"Kalau untuk dokumentasi saat ini tidak hanya buku tapi juga audio visual," ujar Handoko.

Handoko menuturkan sebagian besar pengetahuan lokal di Indonesia hanya diteruskan secara lisan dari generasi ke generasi dan tidak terdokumentasikan dengan baik.

Pengetahuan lokal tersebut dikhawatirkan akan menghilang jika tidak didokumentasikan dengan baik. Padahal pengetahuan lokal itu bisa memberikan petunjuk seperti pengembangan obat dari suatu tanaman potensial.

Pengetahuan dan kearifan lokal tersebut dapat didokumentasikan dengan baik dalam bentuk buku terbitan ataupun audiovisual, yang menjadi informasi yang sangat berharga bagi para periset untuk menindaklanjutinya dengan riset lanjutan.*

Baca juga: 14 jenis baru celurut ditemukan di Sulawesi

Baca juga: 28 unit penelitian dan pengembangan K/L resmi diintegrasikan ke BRIN

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel