Bripka RR dan Kuat Maruf Hari Ini Kembali Bertemu ART & Ajudan Ferdy Sambo di Sidang

Merdeka.com - Merdeka.com - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) hari ini kembali menggelar sidang lanjutan kasus dugaan pembunuhan berencana Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat. Agenda sidang kali ini pemeriksaan saksi untuk terdakwa Ricky Rizal dan Kuat Maruf.

"Jadwal sidang kasus pembunuhan berencana untuk terdakwa KM dan RR dengan agenda pemeriksaan saksi," kata Humas PN Jaksel Djuyamto saat dihubungi, Rabu (9/11).

Kuasa hukum Kuat Maruf, Irwan Irawan mengatakan bahwa saksi yang akan diperiksa dalam persidangan kali ini adalah Asisten Rumah Tangga (ART) dan ajudan dari terdakwa Ferdy Sambo.

"Sama dengan saksi yang diperiksa (untuk Sambo dan Putri), ajudan dan ART," kata Irwan saat dikonfirmasi.

Daftar Saksi

Alfonsius Dua Lurang (Security)

Abdul Somad (ART)

Marjuki (Security Komplek)

Diryanto alias Kodir (ART)

Adzan Romer (Ajudan)

Prayogi Iktara Wikaton (Sopir)

Farhan Sabilillah (Anggota Polri)

Susi (ART)

Damianus Laba Kobam alias Damson (Security)

Daden Miftahul Haq (Ajudan)

Dakwaan Pembunuhan Berencana

Dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah mendakwa total lima tersangka yakni, Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf.

Mereka didakwa turut secara bersama-sama terlibat dengan perkara pembunuhan berencana bersama-sama untuk merencanakan penembakan pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Komplek Polri Duren Tiga No. 46, Jakarta Selatan.

"Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain," ujar jaksa saat dalam surat dakwaan.

Atas perbuatannya, kelima terdakwa didakwa sebagaimana terancam Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP yang menjerat dengan hukuman maksimal mencapai hukuman mati.

Sedangkan hanya terdakwa Ferdy Sambo yang turut didakwa secara kumulatif atas perkara dugaan obstruction of justice (OOJ) untuk menghilangkan jejak pembunuhan berencana.

Atas hal tersebut, mereka didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP.

"Timbul niat untuk menutupi fakta kejadian sebenarnya dan berupaya untuk mengaburkan tindak pidana yang telah terjadi," sebut Jaksa.

Reporter: Nanda Perdana Putra [gil]