Briptu Rani Muncul di Televisi, Polda Jatim Berang

TEMPO.CO, Surabaya - Kepolisian Daerah Jawa Timur berang dengan kemunculan anggota Kepolisian Resor Mojokerto, Brigadir Polisi Satu Rani Indah Yuni Nugraeni, di sebuah televisi swasta nasional, Kamis kemarin, 13 Juni 2013. Dalam tayangan itu, polisi wanita berusia 25 tahun dan berparas cantik itu menceritakan tindak pelecehan yang dilakukan oleh Kapolres Mojokerto, Ajun Komisaris Besar Eko Puji Nugroho.

Selain sering diminta Eko menemani tamu-tamunya ke tempat karaoke, Rani juga mengaku dipegang-pegang badannya oleh atasannya itu saat pengukuran baju dinas. Rani yang merasa tak nyaman memilih pulang ke Jakarta dan hingga lebih dari tiga bulan tidak masuk kantor.

Kepala Sub-bidang Penerangan Masyarakat Polda Jawa Timur, Ajun Komisaris Besar Suhartoyo, mengatakan, sebagai anggota kepolisian, Rani tidak seharusnya mengumbar cerita itu ke media massa. "Ini, kan, masalah internal, seharusnya kalau dia punya bukti, laporkan saja Kapolres Mojokerto ke Divisi Profesi dan Pengamanan," kata Suhartoyo, Jumat, 14 Juni 2013.

Suhartoyo menyayangkan Rani lebih memilih membentuk opini negatif di media daripada menyelesaikan masalahnya melalui jalur organisasi. Sejauh ini, kata Suhartoyo, baru ibu Rani, Raya Boru Situmeang, yang melapor ke Propam Mabes Polri. "Kalau benar Rani merasa menjadi korban pelecehan, mengapa tidak dia sendiri yang lapor?" kata Suhartoyo.

Sebenarnya, menurut Suhartoyo, Bidang Propam Polda Jawa Timur telah proaktif memanggil Rani untuk mengklarifikasi informasi tersebut kendati tidak ada laporan dari yang bersangkutan. Selain Rani, Kapolres Eko juga turut dipanggil. "Tapi, sampai panggilan ketiga, Rani tidak mau datang," ujar Suhartoyo.

Suhartoyo mengaku pernah secara pribadi bertanya kepada Eko soal tudingan bahwa perwira dengan pangkat melati dua itu memegang-megang tubuh Rani saat pengukuran baju. Menurut Suhartoyo, Eko membantah. "Tidak benar itu, Mas. Bodoh namanya kalau saya seperti itu," kata Suhartoyo menirukan jawaban Eko.

Eko, kata Suhartoyo, menjelaskan, ketika pengukuran baju seragam itu, banyak orang di dalam ruangan. Selain penjahitnya sendiri, beberapa polisi wanita juga mengantre untuk menunggu giliran diukur. "Sayangnya tidak direkam," kata Suhartoyo.

Dikonfirmasi terpisah, Eko enggan berkomentar. Menurut mantan Kepala Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Surabaya itu, kasus Rani sudah diambil alih Propam Polda Jawa Timur. "Saya, kan, terlapor, biar Polda saja yang memberi penjelasan," kata dia.

KUKUH S WIBOWO

Terhangat:

Mucikari SMP | Taufiq Kiemas | Rusuh KJRI Jeddah

Baca juga:

Barca Tawar Torres Rp 263 miliar

MU Berharap Bale ke Real Madrid

Messi Dituding Menggelapkan Pajak Rp 52 Miliar

PSG Bidik Andre Villas-Boas

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.