BSI Dorong Digitalisasi Transaksi di Rest Area Tol

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bank Syariah Indonesia (BSI) terus memperkuat layanan digital dengan mendorong penerapan digitalisasi transaksi untuk memudahkan masyarakat dalam melakukan aktifitas keuangan. Salah satu upaya yang dilakukan BSI adalah dengan mendukung Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon menerapkan transaksi digital di kawasan rest area ruas tol Cipali-Palikanci.

Kick off digitalisasi system pembayaran melalui QRIS tersebut dilakukan oleh Bupati Majalengka Karna Sobahi, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon Bakti Artanta Dan Regional CEO Bank Syariah Indonesia (BSI) Region 7 Bandung Dade Dermawan di Masjid Bank Syariah Indonesia rest area km 166 Majalengka,Jawa Barat, Kamis (18/3/2021).

Menurut Regional CEO BSI Region 7 Bandung Dade Dermawan, QRIS merupakan solusi pembayaran digital yang mudah, cepat, nyaman dan aman bagi masyarakat terutama di tengah kondisi kenormalan baru.

Selain itu, penguatan layanan digital BSI juga merupakan bagian dari dukungan terhadap percepatan transformasi perekonomian digital Indonesia yang mana digitalisasi ini akan menjangkau masyarakat daerah secara luas dan mempermudah kegiatan perekonomian baik itu transaksi maupun pendanaan.

"Dengan QRIS, masyarakat tidak perlu menggunakan uang tunai yang berpindah dari tangan ketangan, tetapi cukup memindai QR code menggunakan aplikasi BSI Mobile dalam handphone,” kata Dade.

Sejak mengimplementasikan metode pembayaran kode respons cepat berstandar nasional (QRIS), lanjut Dade, Bank Syariah Indonesia telah bekerjasama dengan 1.507 merchant di wilayah kerja Region 7 Bandung.

“Kami juga terus melakukan kerjasama dengan masjid dan lembaga donasi dalam menyediakan metode QRIS untuk pembayaran zakat, infak, sedekah, wakaf (ziswaf) ataupun kebutuhan ibadah lainnya seperti kurban, akikah, dan lain-lain," jelas Dade.

Selain rumah ibadah, saat ini BSI juga focus pada beberapa ekosistem lain seperti Perumahan, ekosistem pasar mulai dari transaksi belanja jual beli hingga pembayaran parkir, ekosistem tempat wisata untuk pembayaran tiket/souvenir, ekosistem sekolah/universitas mulai dari pembayaran biaya SPP hingga pembayaran iuran keanggotaan/denda perpustakaan, dan masih banyak lainnya.

Bos BEI Sebut BRIS Jadi Game Changer Ekonomi Syariah

Nasabah menunggu di kantor cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta Selasa (2/2/2021). Dirut BSI Hery Gunardi menjelaskan bahwa integrasi tiga bank syariah BUMN yakni Bank BRI Syariah, BNI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri telah dilaksanakan sejak Maret 2020. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Nasabah menunggu di kantor cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta Selasa (2/2/2021). Dirut BSI Hery Gunardi menjelaskan bahwa integrasi tiga bank syariah BUMN yakni Bank BRI Syariah, BNI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri telah dilaksanakan sejak Maret 2020. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, Pemerintah membentuk PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk/BRIS yang telah diluncurkan awal Februari lalu. BSI merupakan hasil penggabungan (merger) tiga bank syariah milik BUMN, yakni Bank Rakyat Indonesia Syariah, Bank Syariah Mandiri dan BNI Syariah.

Sebagai bank hasil penggabungan, pada posisi Desember 2020 Bank Syariah Indonesia memiliki total aset sebesar Rp 240 triliun. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Inarno Djajadi menilai, BSI bisa menjadi game changer dalam percepatan pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.

"Dengan mergernya tiga bank syariah tersebut, BSI bisa menjadi game changer dalam akselerasi implementasi ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia," kata dia dalam Webinar Era Baru Pembayaran Syariah, Rabu (17/3/2021).

Selain itu, sebagai bank hasil merger, Inarno mengatakan BSI dapat menciptakan kekuatan kapital serta perluasan jangkauan dan fasilitas. Hal ini mengingat sebelumnya ketiga bank tersebut memiliki visi dan segmentasi yang berbeda.

Inarno menjabarkan, ekonomi dan keuangan syariah dapat turut mendorong proses pemulihan ekonomi nasional di masa pandemi ini. Dengan dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan syariah dibutuhkan untuk menjaga pemulihan di sektor prioritas .

"Dari sisi pemerintah dukungan pembiayaan diwujudkan melalui penerbitan SBSN untuk membiayai pembangunan prasarana publik serta green sukuk untuk mendukung kelestarian lingkungan,” kata dia.

Sementara dari industri perbankan syariah adalah melalui penyaluran pembiayaan atau kredit. Selama tahun 2020, pembiayaan yang disalurkan melalui perbankan syariah tumbuh sebesar 8 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan industri perbankan konvensional yang sedang terbang secara total terkontraksi sekitar -2,41 persen yoy.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: