BSI Sebagai Pijakan Baru bagi Ekonomi Syariah di Indonesia

Syahdan Nurdin, salsaacel-620
·Bacaan 5 menit

VIVA – Pengembangan perbankan syariah di Indonesia saat ini kian melejit, ditandai dengan bersatunya tiga bank syariah milik BUMN, yakni PT Bank BNI Syariah, PT Bank Rakyat Indonesia Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri yang telah resmi beroperasi sejak bulan Februari lalu.

PT Bank Syariah Indonesia Tbk. yang merupakan nama baru untuk hasil gabungan ketiga bank tersebut menjadi salah satu pijakan bagi negara kita untuk memasuki peringkat pada bidang perbankan syariah di mata internasional.

Perbankan syariah memiliki peranan penting bagi perekonomian saat ini. Pada dasarnya, perbankan syariah dan perbankan konvensional memiliki fungsi yang sama, yaitu lembaga keuangan yang bergerak di sektor riil dan berperan sebagai perantara keuangan dalam perekonomian suatu negara.

Tetapi meski begitu, tetap saja ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Berbeda dengan konvensional, perbankan syariah tentunya dilandasi prinsip-prinsip syariah yang telah diatur dan ditentukan sesuai dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI.

Dengan berlakunya prinsip-prinsip syariah yang ada, diharapkan perbankan syariah ini dapat memberikan kemaslahatan umat bagi masyarakat di seluruh penjuru Indonesia dan dapat memberikan kontribusi yang maksimal bagi perekonomian negara.

Berdirinya Bank Syariah Indonesia (BSI) ini memunculkan harap, agar dapat menjadi sumbangan besar bagi prestasi negara kita di bidang perbankan syariah, yang nantinya akan berpengaruh juga terhadap peningkatan posisi Indonesia dalam ekonomi syariah dari seluruh negara di dunia.

Seperti yang telah kita ketahui, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia. Dilansir dari Wikipedia, saat ini Indonesia menduduki posisi pertama untuk negara berpenduduk muslim terbanyak se-Asia Tenggara.

Sejalan dengan hal tersebut, menurut The State of Global Islamic Economy Indicator Report 2020, Indonesia berada di peringkat keempat untuk ekonomi syariah. Tentunya hal ini merupakan suatu pencapaian yang patut kita pertahankan dan justru harus kita tingkatkan, karena selangkah lebih maju lagi kita akan menempati Top 3 Global Islamic Economy dari seluruh negara yang ada di dunia. Terlebih setelah Bank Syariah Indonesia (BSI) mulai berdiri, rasanya menjadi peringkat pertama pun tak ada salahnya kita jadikan acuan.

Bahkan, telah disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam pidatonya yang menyebutkan bahwa Indonesia harus mampu menjadi pusat gravitasi ekonomi syariah baik secara regional maupun global.

Karena sudah menjadi identitas global bahwa Indonesia merupakan negara mayoritas muslim, maka sudah sewajarnya jika negara kita ini menjadi negara yang terdepan dalam pertumbuhan dan perkembangan ekonomi syariah. Dalam mencapai hal tersebut, tentunya Bank Syariah Indonesia (BSI) mempunyai peranan besar yang sangat fundamental.

Berkaca pada hal tersebut, dapat kita ketahui bahwa meski tren industri halal di Indonesia kian meningkat namun jika kita melihat potensinya, sebetulnya masih dibutuhkan perhatian lebih pada industri halal ini. Karena bagaimana pun juga, apa-apa yang masuk ke dalam aspek industri halal menjadi salah satu faktor penyokong ekonomi syariah di Indonesia agar dapat lebih maju lagi.

Hal ini menjadi salah satu alasan kuat bahwa dibutuhkannya perbankan syariah yang besar di Indonesia untuk mendukung industri halal di pasar Indonesia. Dibuktikan dengan dikembangkannya bisnis pembiayaan pada properti syariah oleh Bank Syariah Indonesia (BSI), menjadi salah satu bentuk sumbangsih yang nyata terhadap aspek bisnis syariah dalam negara.

Selain dari itu, Bank Syariah Indonesia (BSI) bergandengan dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengarahkan pembiayaan modal kerja dan investasi kepada UMKM brand Modest Fashion yang mana hal ini juga menjadi satu bentuk lain dukungan BSI terhadap pengembangan ekosistem ekonomi syariah di Indonesia.

Tak terlewat, Bank Syariah Indonesia pun mencanangkan pembukaan kantor cabang luar negeri di Dubai. Rencana tersebut bukanlah tanpa alasan, pasalnya Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI), Hery Gunardi, menerangkan bahwa pembukaan cabang di negara tersebut karena potensi sukuk global yang memungkinkan.

Bersamaan dengan itu, pada awal Maret lalu Dubai Islamic Bank digadang-gadang akan menjadi partner Bank Syariah Indonesia (BSI). Tentunya hal ini merupakan berita baik yang dapat menjadi gerbang pengantar BSI di kancah internasional, bahkan membawa pertumbuhan yang berarti pada sektor ekonomi syariah negara Indonesia.

Namun sebelum itu, Indonesia juga harus mampu memasuki 10 bank syariah terbesar di dunia dengan melihat kapitalisasi pasar atau aset yang dimiliki. Jika Top Global Islamic Economy tadi menjadi harapan utama Presiden Jokowi, maka beriringan dengan itu Menteri BUMN Erick Tohir juga menyampaikan harapannya yang ingin menjadikan Bank Syariah Indonesia (BSI) tembus ke 10 besar bank syariah dari seluruh penjuru dunia yang ditargetkan pada tahun 2025.

Lebih lanjut lagi, Erick menuturkan bahwa lahirnya Bank Syariah Indonesia (BSI) merupakan suatu pembuktian bahwa Indonesia, negara yang penduduknya mayoritas muslim ini mempunyai bank yang kuat secara fundamental.

Selanjutnya, agar dapat bersaing dengan pangsa pasar konvensional, Bank Syariah Indonesia (BSI) harus dapat menjadi lembaga keuangan yang terbuka atau universal, artinya Bank Syariah Indonesia (BSI) ini terbuka untuk semua golongan.

Kendati berlabelkan ‘syariah’ namun bukan berarti Bank Syariah Indonesia (BSI) ini hanya diperuntukkan untuk muslim saja, tetapi juga ditujukan untuk semua golongan masyarakat tanpa terkecuali. Maka dari itu, diharapkan masyarakat juga sebaiknya tidak memandang sebelah mata terhadap semua perbankan syariah yang ada di Indonesia.

Tak lupa di tengah kondisi saat ini yang masih dihantui pandemi, agaknya membuat digitalisasi semakin penting kehadirannya. Oleh karena itu, diharapkan Bank Syariah Indonesia (BSI) mampu beradaptasi di segala kondisi dengan mengedepankan konsep digital dalam segala aspek yang dibutuhkan agar memudahkan masyarakat dalam bertransaksi.

Kemudian yang tak kalah penting ialah mampu meningkatkan literasi keuangan syariah kepada masyarakat luas agar tingkat pengguna bank syariah di Indonesia ini sebanding dengan besarnya jumlah penduduk muslim. Literasi keuangan syariah menjadi satu dari banyaknya tantangan yang harus dihadapi dalam penguatan bank syariah.

Taraf literasi yang tinggi akan menaikkan kesadaran masyarakat terkait fasilitas pembiayaan syariah sehingga akan memunculkan kepercayaan publik yang menjadi elemen utama dalam memperluas pangsa pasar bank syariah.