BTN Diandalkan Genjot Pemulihan Ekonomi, Ini Pesan Kementerian BUMN

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 3 menit

VIVA – Kementerian Badan Usaha Milik Negara meminta, perusahaan-perusahaan BUMN harus menjadi lokomotif Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di tengah pandemi COVID-19. Salah satu yang diandalkan yaitu PT Bank Tabungan Negara Tbk.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan, harapan itu cukup mendasar. Sebab, secara permodalan BTN cukup kuat dalam bertahan dan berkembang dengan mengandalkan sektor pembiayaan properti tanpa perlu berubah menjadi bank yang universal.

Baca juga: Berkantor di Bali, Sandiaga Uno Punya Misi Khusus

“Dalam periode recovery ini, selain memperbaiki kualitas kredit dan funding, bagaimana kita juga bisa membangun transaction business yang kuat dimulai dari value chain mortgage yang menjadi core competence dari BTN,” kata Kartika saat membuka secara resmi Rapat Kerja Nasional BTN 2021 bertajuk ‘Transformation to Achieve Sustainable Growth’ di Jakarta, Kamis 28 Januari 2021.

Kartika menilai, kekuatan BTN pada pembiayaan properti harus tetap diperluas pada ekosistem value chain mortgage maupun customer based. Bisnis BTN yang berpusat pada bisnis pembiayaan perumahan dapat berjalan asalkan tekun menangkap aliran transaksi dalam ekosistem perumahan.

“Namun saya menekankan untuk Current Account and Saving Account atau CASA. Di mana BTN menargetkan sekitar Rp270 triliun pada road map, untuk itu transformasi cabang untuk menggalang CASA agar bisa mendapatkan funding flow yang sehat dengan cost yang lebih murah harus ditingkatkan," ungkapnya.

"Jika kredit, CASA (dana murah) dan transaksi jalan, benar-benar BTN dapat tumbuh berkembang sehat dengan profitabilitas yang baik,” tambahnya.

Rakernas BTN tersebut dihadiri oleh direksi dan komisaris, serta diikuti oleh BTNers dari seluruh Indonesia via daring tersebut membahas road map atau peta jalan serta rencana bisnis tahun ini. Khususnya, dalam melakukan tranformasi menjadi The Best Mortgage Bank in South East Asia pada tahun 2025.

Plt Direktur Utama Bank BTN, Nixon LP Napitupulu menjelaskan road map tersebut terdiri dari upaya peningkatkan low-cost funding sebesar dua kali lipat menjadi Rp270 triliun. Kemudian mendorong keterjangkauan akses perumahan bagi lebih dari enam juta masyarakat Indonesia dan membangun one stop shop financial solution untuk bisnis terkait perumahan.

Roadmap tersebut lanjut Nixon, disusun dengan mempertimbangkan sejumlah faktor. Di antaranya pencapaian BTN tahun 2020 dan faktor makro ekonomi salah satunya, prospek pertumbuhan ekonomi yang membaik dengan tingkat pertumbuhan 5,0-5,5 persen.

"Dan, proyek perumahan yang akan kembali berjalan serta adanya percepatan digital disruption yang didorong oleh virtual serta stay @home lifestyle,” papar Nixon.

Faktor ekonomi makro yang dimaksud Nixon, selain pertumbuhan ekonomi yang sudah membaik, adalah suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate yang tetap dipertahankan pada tingkatan yang akomodatif serta sektor riil yang kembali berdetak.

Hal ini akan membuat proyek pembangunan perumahan yang sebelumnya sempat tertunda dapat terakselerasi. Khususnya perumahan segmen menengah atas akan kembali aktif, dan diharapkan sekitar 172 sektor turunan properti dapat kembali bergairah.

“Sektor properti akan menjadi salah satu motor penggerak utama PEN dan kami mengapresiasi Pemerintah yang tetap berkomitmen mendorongnya dengan melanjutkan Program Sejuta Rumah dengan memberikan subsidi di sektor pembiayaan perumahan sebagai stimulus," ungkapnya.

"Semoga ini juga akan mendorong kebijakan stimulus lanjutan yang akan lebih berdampak pada sektor properti yang dampaknya akan diikuti oleh sekitar 172 industri turunannya tersebut,” kata Nixon.

Sementara pada 2020, menurut Nixon, bank dengan kode saham BBTN ini mencatatkan sejumlah kinerja yang diproyeksikan positif. Tahun 2021, BTN masih terus memperkuat inovasi dan digitalisasi.

"Karena target yang kami canangkan menyesuaikan visi Bank BTN. Adapun target tersebut di antaranya kredit dapat tumbuh sekitar 8 persen, DPK dapat ditingkatkan kurang lebih 10 persen. Sementara, laba kita harapkan dapat menembus sekitar Rp3 triliun dan rasio coverage bisa menyentuh sekitar 125 persen,” jelas Nixon.