BTN Jual Aset Kredit Macet di Makassar, Nilainya Ratusan Miliar

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 2 menit

VIVA – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) terus menggenjot penjualan aset kredit bermasalah yang dimiliki saat ini dalam upaya mempercepat pemulihan aset yang dilakukan. Kali ini aset yang dijual berada di Makassar, Sulawesi Selatan.

Pada acara Asset Sales Festival di Makassar yang dihadiri baik on site maupun secara online, BTN menjual setidaknya 1.282 aset dengan nilai kurang lebih Rp249,28 miliar. Aset itu berupa rumah tinggal, apartemen maupun properti komersial.

Baca juga: Negara Anggota G20 Was-was Utang Membengkak untuk Tangani COVID-19

Direktur Utama Bank BTN, Pahala Nugraha Mansury mengatakan, aset yang dijual merupakan aset non produktif dari agunan kredit baik komersil, konsumer maupun syariah. Dia pun optimis penjualan ini akan direspons positif investor. Sebab, dalam waktu beberapa jam saja penjulan dibuka akhir pekan lalu, penawaran yang masuk sudah lebih dari Rp68 miliar.

"Kami mengajak para investor untuk membeli aset properti, karena merupakan asset class yang stabil, tahan terhadap gejolak makro ekonomi seperti resesi, inflasi dan sebagainya. Keuntungan lain juga akan diraih investor baik berupa pendapatan sewa atau capital gain dari harga properti yang terus meningkat jika dijual kembali,” kata Pahala dikutip dari keterangannya, Senin 23 November 2020.

Pahala mengatakan, investor yang membeli properti lewat ajang Asset Sales Festival dapat menikmati nilai tambah yang berbeda. Antara lain investor dapat menikmati cover agunan dengan sisa pokok yang besar. Kemudian, Kredit Modal Kerja (KMK) untuk renovasi, dan media pemasaran karena Bank BTN dapat menayangkan aset tersebut di portal rumahmurahbtn.co.id.

Lebih lanjut Pahala menjabarkan, pada rangkaian acara Asset Sales Festival yang digelar di Medan pada awal November 2020 lalu, BTN mencatatkan pembelian dari para investor sebesar Rp70 miliar. Sementara di Bandung, jumlah penawaran yang masuk mencapai Rp111 miliar.

Dengan recovery aset yang baik, pada kuartal III tahun ini rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) net turun di level 2,26 persen. Dari posisi pada bulan yang sama tahun sebelumnya yang berada pada level 2,33 persen. Dengan penjualan aset bermasalah ini, kata Pahala, perseroan berharap bisa menurunkan NPL di bawah 2 persen.

“Salah satu fokus selama tahun 2020 dan tahun 2021 adalah penjualan aset yang membebani rasio kredit macet perseroan,” tegas Pahala.

Penjualan aset bermasalah BTN bisa diakses konsumen dengan berbagai cara. Antara lain, melalui portal, penjualan via katalog, penawaran langsung melalui Asset Sales Festival dan penjualan lewat kantor cabang.

Adapun mekanisme penjualan dapat dilakukan dengan lelang, fiat eksekusi atau putusan pengadilan, pengalihan hak tagih serta novasi atau pembaharuan utang.

Hingga saat ini BTN memiliki aset bermasalah yang nilainya mencapai Rp11,6 triliun. Adapun dari jumlah tersebut aset yang sudah siap untuk dijual sekitar Rp7 triliun dan ditargetkan tahun ini bisa terjual sekitar Rp2 triliun.