BTPN Syariah raup laba bersih kuartal II-2021 Rp770 miliar

·Bacaan 3 menit

PT Bank BTPN Syariah Tbk meraup laba bersih pada kuartal II 2021 sebesar Rp770 miliar, naik 89,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp406 miliar.

Direktur Utama BTPN Syariah Hadi Wibowo mengatakan, laba perseroan ditopang oleh pembiayaan yang tumbuh 15 persen menjadi Rp10,05 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp8,74 triliun.

"Lebih dari satu dekade fokus melayani nasabah inklusi, pada masa pandemi seperti saat ini, kami menjadikan nasabah dan karyawan sebagai fokus utama bank," ujar Hadi dalam pernyataan di Jakarta, Rabu.

Hadi menyampaikan, selama masa penuh tantangan ini, nasabah pembiayaan benar-benar dijaga untuk tetap terhubung dengan bank

Dengan demikian, lanjut Hadi, semangat serta perilaku unggul yang dibangun bersama yaitu Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras dan Saling Bantu (BDKS) tetap menyala, dan, keinginan berusaha untuk keluar dari keterpurukan pandemi terus terbangun.

Berbagai program reward dan aktivitas sosial untuk nasabah, keluarga, dan lingkungan sekitar mereka seperti bantuan pendidikan untuk anak-anak nasabah tetap dijalankan.

Dalam kondisi terbatas, dengan dibantu oleh petugas di lapangan, nasabah pembiayaan turut diberikan pelatihan secara daring, untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan mereka dalam menyiasati pandemi yang berkepanjangan.

"Inilah yang membuat nasabah pembiayaan terus dapat berkomunikasi dengan petugas di lapangan, sehingga petugas memahami langsung bagaimana kebutuhan mereka saat ini, termasuk kebutuhan penambahan modal usaha," kata Hadi.

Di sisi karyawan, perhatian bank juga turut ditingkatkan. Sebagai aset perusahaan, menurut Hadi, kesehatan karyawan menjadi poin penting dalam melakukan pelayanan sepenuh hati terhadap nasabah yang membutuhkan.

Perhatian tersebut dimulai dari pemberian perlengkapan bekerja kala pandemi, sampai dengan program vaksin karyawan beserta keluarga, pemberian bantuan obat-obatan bagi yang terpapar virus, dan penggunaan telemedicine.

Program untuk karyawan juga dilakukan di kelas-kelas pembelajaran online, yang dikemas untuk membuat karyawan tepat menghadapi kondisi yang tak diinginkan.

Hadi menambahkan, membangun hubungan yang intensif dan memahami kebutuhan nasabah di masa pandemi ini merupakan salah satu kunci untuk tetap menjaga semangat optimisme nasabah prasejahtera, sehingga mereka merasa selalu memiliki pendamping.

"Lewat interaksi tersebut, menjadi kesempatan bagi kami untuk bisa memahami kebutuhan mereka dengan baik, misalnya perpanjangan angsuran, maupun mereka yang membutuhkan pembiayaan tambahan ketika melihat adaya potensi usaha yang cocok di masa pandemi," kata Hadi.

Di sisi lain, bank juga akan terus mengembangkan berbagai inovasi teknologi agar nasabah di segmen ini lebih efektif dalam bertransaksi, dengan menyesuaikan kemampuan beradaptasi mereka.

Perseroan menyiapkan aplikasi teknologi yang mengoptimalkan peran nasabah inspiratif BTPN Syariah yakni mereka yang telah tumbuh bersama dengan siklus pembiayaan yang panjang, sebagai mitra bank, yang disebut Mitra Tepat di mana mitra dapat memperkenalkan dan membawa layanan perbankan dalam ekosistem terdekat mereka.

Bank juga telah mengoptimalkan proses automasi pelayanan, dimana seluruh tim di lapangan telah menggunakan aplikasi termutakhir dalam melayani nasabah prasejahtera produktif.

Upaya tersebut selain untuk mendukung produktivitas para tim di lapangan dalam melayani nasabah menjadi lebih cepat dan tepat, juga menjadi ikhtiar kami dalam mengedukasi nasabah inklusi kami untuk beradaptasi dengan teknologi.

"Dengan demikian, di masa mendatang, mereka dapat membangun ekosistem digital dengan prinsip syariah khusus untuk masyarakat inklusif. Ini yang menjadi aspirasi kami," kata Hadi.

Hadi mengatakan, pertumbuhan di saat pandemi ini juga tetap mengedepankan kualitas pembiayaan yang sehat dengan menjaga rasio pembiayaan bermasalah atau Non Performing Financing (NPF) di posisi 2,4 persen.

Adapun sampai akhir Juni 2021, emiten berkode saham BTPS itu masih memiliki rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang kuat di posisi 52 persen, jauh di atas rata-rata industri.

Total aset tumbuh 14 persen (yoy) menjadi Rp17,41 triliun dari Rp15,27 triliun. Sedangkan Dana pihak ketiga tumbuh 12 persen (yoy) menjadi Rp10,61 triliun dari Rp9,46 triliun.

Baca juga: BTPN Syariah catatkan pertumbuhan pembiayaan 6 persen di kuartal I

Baca juga: BTPN Syariah salurkan pembiayaan Rp9,5 triliun sepanjang 2020

Baca juga: BTPN Syariah latih perempuan buat masker di Mataram

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel