BTPN tak bagikan dividen demi perkuat fundamental

Faisal Yunianto
·Bacaan 2 menit

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank BTPN Tbk memutuskan untuk tidak membagikan dividen demi mempertahankan fundamental perseroan di tengah pandemi.

"Keputusan RUPS Tahunan untuk tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham di tengah situasi saat ini yang masih sangat menantang bagi kami mencerminkan komitmen kuat dari pemegang saham terhadap penguatan fundamental Bank BTPN, serta dukungan nyata atas rencana-rencana pertumbuhan perseroan secara berkelanjutan," kata Direktur Utama Bank BTPN Ongki Wanadjati Dana melalui keterangan di Jakarta, Kamis.

RUPST juga menyetujui pengunduran diri Yasuhiro Daikoku sebagai direktur, yang telah ia jabat sejak 1 Februari 2019. Sebagai pengganti, pemegang saham telah menyetujui pengangkatan Kan Funakoshi.

"Mewakili manajemen, kami menyampaikan apresiasi atas kontribusi dan dedikasi Daikoku-san dalam memajukan perseroan, terutama dalam memandu bisnis korporasi di tengah pandemi," ujar Ongki.

Kan Funakoshi adalah alumnus Waseda University, Tokyo, dan pernah ditugaskan di PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, Jakarta, pada Desember 2001 hingga Juli 2009.

Setelah itu, ia melanjutkan penugasannya di Tokyo, Moskow, dan Seoul, sebelum kembali dipercaya untuk menangani bisnis korporasi di Indonesia.

Funakoshi telah lulus uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) dari Otoritas Jasa Keuangan dan akan efektif menjabat setelah izin terkait ketenagakerjaan asing diperoleh secara lengkap.

Di tengah tantangan pandemi yang menciptakan tekanan luar biasa pada perekonomian global termasuk sektor perbankan nasional, per 31 Desember 2020 Bank BTPN mencatatkan kenaikan total aset dari Rp181,6 triliun menjadi Rp183,2 triliun atau naik 1 persen (yoy).

Rasio-rasio bank berada di tingkat yang sehat, dimana rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) terjaga pada 25,55 persen, rasio likuiditas (loan-to-funding ratio/LFR) sebesar 93,6 persen, liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 281,7 persen, sedangkan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 115,34 persen.

Meskipun Bank BTPN mencatatkan penurunan penyaluran kredit sebesar 4 persen (yoy) menjadi Rp136,2 triliun, namun segmen korporasi masih mencatat pertumbuhan sebesar 4 persen menjadi Rp78,6 triliun (yoy).

Di sisi lain, Bank BTPN masih dapat menjaga penyaluran kredit tetap sehat dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian. Hal ini tercermin pada rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sebesar 1,21 persen pada akhir Desember 2020.

Untuk pemenuhan kebutuhan pembiayaan kredit, perseroan menghimpun pendanaan sejumlah Rp145,5 triliun sampai dengan akhir Desember 2020.

Adapun laba bersih setelah pajak (net profit after tax/NPAT) yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,75 triliun, turun 32 persen secara tahunan.

"Sejumlah indikator keuangan ini menunjukkan diperlukan langkah-langkah strategis untuk menjaga kondisi fundamental perseroan," kata Ongki.

Baca juga: BTPN Syariah catatkan pertumbuhan pembiayaan 6 persen di kuartal I
Baca juga: Astra International bakal bagi dividen sebesar Rp4,6 triliun
Baca juga: Pemegang saham BNI setujui bagi dividen Rp820,1 miliar