BTPN yakin makin banyak industri perlu pembiayaan berkelanjutan

·Bacaan 2 menit

PT Bank BTPN Tbk meyakini akan semakin banyak industri yang memerlukan pembiayaan berkelanjutan berupa fasilitas kredit yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola.

"Dengan dukungan dari regulator dan pemerintah, Bank BTPN optimis semakin banyak industri akan membutuhkan skema pembiayaan green financing seperti yang kami sediakan," kata Direktur Utama Ongki Wanadjati Dana dalam Public Expose Live 2021 di Jakarta, Jumat.

Di segmen korporasi, sebagai bagian dari SMBC Group, Bank BTPN ikut mendukung insiatif SMBC Group Green X Globe 2030 (GG 2030) dalam kegiatan ekonomi berkelanjutan. Bank BTPN mengimplementasikan GG 2030 dalam bentuk sustainable financing atau green financing.

Pembiayaan tersebut diberikan untuk kegiatan atau proyek ekonomi yang bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca dan proyek ekonomi yang berkelanjutan lainnya.

Beberapa proyek penting yang telah dibiayai dengan skema green financing dari Bank BTPN bersama dengan induk usaha SMBC di antaranya Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Sidrap yang merupakan wind farm pertama di Indonesia berkapasitas 75 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Air Asahan dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Sarula, serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung Cirata yang merupakan proyek pembangkit tenaga surya skala besar pertama di Indonesia.

"Pada masa mendatang, perseroan juga siap memperluas pembiayaan di sektor-sektor di luar energi terbarukan, seperti proyek yang mampu menciptakan efisiensi energi dalam operasinya, menekan tingkat polusi, hingga transportasi bersih," ujar Ongki.

Sepanjang semester I 2021, emiten berkode saham BTPN itu mencatatkan kinerja yang baik dan menjaga fundamental bank tetap sehat di tengah tantangan perlambatan ekonomi global dan dalam negeri akibat pandemi COVID-19 yang masih berlanjut hingga pertengahan 2021.

Laba bersih setelah pajak perseroan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada semester I 2021 tercatat di angka Rp1,64 triliun, tumbuh 47 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) dari Rp1,12 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pencapaian itu ditopang oleh beban bunga yang turun sebesar 40 persen (yoy) dari Rp3,14 triliun menjadi Rp1,88 triliun, serta biaya kredit yang lebih rendah sebesar 43 persen dari Rp1,22 triliun menjadi Rp696 miliar.

Pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lainnya juga menunjukkan peningkatan. Pendapatan bunga bersih tercatat naik 4 persen (yoy) menjadi Rp5,59 triliun dalam enam bulan pertama 2021, dibanding Rp5,37 triliun setahun sebelumnya.

Pendapatan operasional lainnya tumbuh 5 persen (yoy) menjadi Rp960 miliar dari Rp913 miliar, yang terutama berasal dari peningkatan fee. Bank BTPN juga berhasil menjaga efisiensi operasional usaha, sehingga beban biaya operasional relatif sama dengan tahun lalu.

"Hal ini merupakan hasil dari strategi bisnis kami untuk bisa tangkas dan adaptif dalam upaya kami senantiasa menyesuaikan diri dalam menghadapi tantangan pandemi yang belum berakhir ini. Kami merasa optimis pemulihan ekonomi nasional akan terjadi seiring dengan semakin terkendalinya penanganan COVID-19 dan semakin banyaknya anggota masyarakat yang mendapat vaksin," kata Ongki.

Baca juga: Bank BTPN catat pertumbuhan laba bersih 47 persen di Semester I 2021
Baca juga: BTPN tak bagikan dividen demi perkuat fundamental
Baca juga: BRI salurkan kredit Rp579,7 triliun ke sektor usaha berkelanjutan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel