Budayawan Ajak Masyarakat Tiru Strategi Dakwah Sunan Bonang

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Budayawan Ngatawi Al-Zastro mengungkapkan hati mengajarkan orang untuk bertindak-tanduk baik dalam kehidupan. Karena pentingnya hati, semua generasi bangsa diminta agar pandai menatanya sehingga hidup tenang akan tercapai

Hal itu disampaikannya pada acara ngabuburit bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat PDI Perjuangan dengan tema "Dakwah Sunan Bonang; Menata Hati Menata Kehidupan, pada hari Minggu (9/5/2021).

“Saat ini menata hati bukan masalah yang mudah. Jika mensyukuri apa yang dianugerahkan Allah Swt, pekerjaan dijalankan dengan ikhlas, maka hidup akan tenang. Hati disini, substansinya adalah sebagai motor, penggerak, dinamisator, evaluator, itu adalah hati kita," Jelas Zastrow.

Zastrow menuturkan dakwah yang penting adalah yang mampu mengajak pendengarnya sama-sama menata hati, sebagaimana halnya dakwah yang dilakukan Sunan Bonang. Sebagaimana kita tahu bagaimana saat ini banyak sekali tarekat-tarekat yang membantu manusia dalam membersihkan dan menata hati. Begitu juga dengan Sunan Bonang. Pendekatan spiritual yang di kemas lewat seni dan budaya sudah banyak terabadikan dalam karyanya.

"Strategi yang dipakai oleh Sunan Bonang dalam berdakwah adalah melalui lagu riyadhoh, lagu spiritual dengan pendekatan tasawuf. Maka buku-buku yang ditulis Sunan Bonang intinya banyak yang berbicara tentang tasawuf, tentang menata hati,” lanjut Zastrow

Salah satu buku yang ditulis Sunan Bonang terkait upayanya dalam menata hati masyarakat, buku Suluk Wuragil. Suluk Wuragil ini adalah suluk guidance untuk menghidupkan hati manusia supaya kehidupan di dunia bisa tertata dengan baik.

Dalam buku disebutkan, dalam menatara hati ada empat hal penting. Pertama manusia harus sering melakukan intropeksi diri. Zastrow mengajak semua untuk menjenguk hatinya masing-masing. Kedua, kalau ingin pembaharuan, harus bertanya kepada ahlinya. Dalam hal ini adalah ilmu tasawuf yang berperan penting dalam menata hati.

"Hal terpenting bahwa dalam bertasawuf juga ada gurunya, ada ahlinya yang akan membimbing kita dalam menata hati. Jadi ketika bertasawuf harus mempunyai guru," ucap dia.

Latih Husnudzon

Selanjutnya, harus melatih diri untuk husnudzan kepada Allah dalam segala kondisi. Terakhir, harus selalu menjadikan kejujuran sebagai pemandu dalam setiap langkah kita.

Selain ke empat poin penting ini, Zastrow menuturkan bahwa hal yang paling penting lagi adalah harus menempuh segala usaha dalam upaya menghidupkan dan menata hati kita. Misalnya dengan cara berdzikir, membaca Qur'an, dan shalat malam.

"Semangat yang bisa kita tarik adalah semangat menata hati, kuncinya adalah menata hati. Makanya orang itu bisa radikal karena hatinya mati, orang bisa menjadi intoleran karena hatinya beku. Jadi kalau hatinya hidup, maka hati ini bisa menangkap nur ilahi," pungkas Zastrow.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: