Budi Waseso Marah: Saya Tahu Permainan di Bulog, Saya Tak Ragu untuk Memecat

Merdeka.com - Merdeka.com - Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso menegaskan tak segan untuk menindak oknum-oknum di tubuh Bulog yang mempermainkan cadangan beras yang dikuasai perusahaan. Apalagi, oknum tersebut sampai mengambil keuntungan pribadi dari beras tersebut.

"Saya tahu permainan-permainan di Bulog, saya gak ada ragu-ragu untuk memecat yang bersangkutan," kata dia di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, Jumat (20/1).

Bukan omong kosong, Budi Waseso mencontohkan salah satunya terjadi di Sulawesi Selatan (Sulsel). Berdasarkan temuannya, ada oknum di tubuh Bulog yang mempermainkan stok dengan alasan sejumlah stok beras dipinjamkan ke pihak lain.

"Contoh di Sulsel, beras hilang, katanya dipinjamkan, makanya saya gak tunggu-tunggu, pecat duluan saja. Tapi kan ada lagi (oknum yang bermain), pengaruh itu ada terus," paparnya.

Dia kembali mengatakan akan fokus memberantas oknum-oknum tersebut. Bahkan, dia menegaskan tak butuh orang-orang seperti itu yang dinilainya tidak punya integritas dan komitmen dalam menjalankan tugas dari pemerintah.

"Jangan ikut main masalah perut kehidupan, ini makanya saya bilang ke internal Bulog, ayo bangun komitmen ini, kalau tidak bisa mundur atau dipaksa mundur," katanya tegas.

"Makanya saya ingin bersihkan yang punya budaya-budaya itu, di sini pure yang punya jiwa komitmen dan integritas bukan jiwa pedagang (yang mencari keuntungan)," sambung dia.

Ciduk Penggilingan Nakal

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mendapati adanya sejumlah pihak penggilingan padi nakal yang memainkan pasokan beras.

Temua itu didapatkannya saat melakukan pengecekan lapangan dalam upaya memenuhi target 1,2 juta ton beras hingga akhir 2022. Adapun berdasarkan surat Kementerian Pertanian (Kementan) per 29 November 2022, disebutkan ada 610.632 ton beras di penggilingan yang siap diserap Bulog.

Budi Waseso mengungkapkan, sebagian pasokan beras yang disampaikan Kementan sebenarnya sudah kontrak dengan Bulog. Bahkan, ada penggilingan yang justru memainkan harga beras.

"Mereka penggilingan ditanya, kemarin kontrak harga Rp10.200 (per kg), sekarang mengapa Rp11.000 (per kg)," kata dia dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (7/12).

Dalam hasil pengecekan lapangan bersama Satgas Pangan, pihaknya menemukan data penggilingan dengan jumlah pasokan berasnya berbeda dari data pada kontrak yang sudah dibuat Bulog. Tak cuma barangnya yang tak tersedia, harganya pun dinaikan.

"Yang tadinya katanya ada 30 ribu ton, padahal orang ini kontrak sama kita adanya hanya 3 ribu ton. Tapi dalam data yang diberikan ke kita, dia punya 30 ribu ton. Kontrak sama kita itu harga Rp10.200, begitu yang 30 ribu ton, dia mintanya Rp11.000. Begitu dicek di lapangan barangnya tidak ada," ungkapnya.

Adapun dari 610.632 ton beras yang disampaikan Kementan ke Bulog, Buwas mengakui pihaknya hanya mampu menyerap sebagian kecil saja. Pun bila terus dilanjutkan pada sisa akhir tahun ini, kenaikan pasokannya pun tidak signifikan.

"Jadi kalau saya bilang 600 ribu ton dari mana? Karena barangnya memang tidak ada. Sampai hari ini dengan kontrak kita tadi sampai Desember dengan para penggilingan datanya sama persis, itu hanya 166 ribu ton yang kita dapat. Mungkin akhir ini dapat tambahannya sedikit," tutupnya.

Reporter: Arief Rahman Hakim

Sumber: Liputan6.com [idr]