Bujet Rp20 Jutaan, Ini Suka Dukaku Mempersiapkan Pernikahan Sendirian di Perantauan

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: Nursittah Nasution

Momen pada saat mempersiapkan pernikahan menjadi kenangan yang tak terlupakan buatku. Momen yang dulunya paling aku tunggu-tunggu dan sekarang menjadi satu hal manis yang patut ku kenang.

Aku dilamar oleh mantan pacarku pada bulan Juni tahun 2018. Kenapa aku bilang mantan pacar, karena sebelumnya dia adalah pacarku sewaktu kami masih kuliah di salah satu universitas negeri di Kota Palembang. Namun lulus kuliah kami pun terpisah oleh jarak karena pekerjaan dan hubungan kami berakhir begitu saja.

Tak kusangka di awal tahun 2018 dia meneleponku dan mengutarakan niat baiknya untuk melamarku. Aku tentu saja menerimanya, toh aku memang masih mencintainya. Mungkin memang dialah jodohku yang meskipun kami telah terpisah namun kembali di persatukan.

Bulan Juni tepatnya hari kedua lebaran Idul Fitri rombongan keluarga inti dari calon suamiku datang jauh-jauh dari kota Palembang ke kediamanku di pelosok kota Padang. Hari itu untuk pertama kalinya keluargaku melihat dan berkenalan secara langsung dengan calon suamiku dan di hari itu pula lah dia langsung melamarku.

Memang agak aneh karena biasanya sebelum melamar harusnya pihak laki-laki terlebih dahulu berkunjung ke rumah pihak perempuan untuk perkenalan. Namun mengingat jarak tempuh yang jauh dan juga susahnya dapat libur dari pekerjaan aku hanya memperkenalkan calon suamiku kepada keluargaku lewat foto saja dan syukurnya mereka juga setuju dengan pilihanku.

Kedua keluarga sepakat untuk menggelar pernikahan kami pada bulan Agustus di tahun yang sama, yang artinya kami hanya punya waktu dua bulan untuk mempersiapkannya. Aku saat itu bekerja di Kota Palembang, dan calon suami bekerja di salah satu kabupaten di Sumsel dan hanya bisa keluar sebulan sekali. Aku terpaksa mempersiapkan segala sesuatunya sendirian tanpa suami dan tanpa keluarga juga dikarenakan keluargaku di kampung.

Setiap pulang ngantor aku mulai berkecimpung mengurus segala persiapan pernikahanku. Mulai dari cetak undangan, custom souvenir pernikahan yang saat itu aku memilih talenan kayu agar senada dengan motif undanganku. Masalah muncul ketika undangan untuk ngunduh mantu salah ketik jamnya. Karena acara ngunduh mantu direncanakan bulan Oktober, mertuaku berpesan untuk dipesankan saja sekaligus dengan undangan untuk acara di kampungku.

Mempersiapkan Segala Sesuatunya Sendiri

Menyiapkan pernikahan./Copyright Nursittah Nasution
Menyiapkan pernikahan./Copyright Nursittah Nasution

Sebanyak 700 undangan salah, dan semuanya telah dicetak. Mau ngulang lagi tak mungkin karena biayanya tentu tak murah, akhirnya dari pihak undangan memberikan solusi dengan membuat stiker dengan jam yang benar yang langsung di tempel di tulisan jam yang salah. Meskipun aku tetap harus mengeluarkan biaya lagi, karena memang kesalahannya ada padaku yang tidak teliti sebelum undangannya dicetak.

Tak sampai di situ ternyata 300 undangan yang telah kukirim ke kampung ada bagian yang kurang yaitu bagian "turut mengundang". Karena aku mengikuti format undangan dari Kota Palembang jadi ketika memesan undangan aku melupakan bagian itu. Akhirnya aku kembali memesan 300 lembar undangan untuk melengkapi bagian yang hilang.

Beres masalah undangan dan souvenir. Aku mulai hunting baju akad nikah, memang dari pihak wedding organizer di kampungku menyediakan baju sewaan yang sepaket dengan baju resepsinya namun aku kurang suka karena modelnya yang agak jadul. Akhirnya aku inisiatif mencari sendiri baju akad berupa gaun/dress putih.

Selama lebih kurang satu minggu aku berkeliling pasar, masuk toko keluar toko untuk mencari baju akad yang sesuai keinginanku, dan akhirnya aku menemukannya. Sederhana namun menurutku manis, harganya juga sangat murah yakni Rp250.000. Untuk hiasan hijab, aku membeli crown atau mahkota kecil yang kubeli dengan harga 15.000 namun sayangnya mahkota itu tak jadi kupakai karena ketinggalan di kost waktu aku pulang untuk menikah.

Aku juga tak lupa membelikan seragam berupa kain songket khas Palembang untuk saudara dan kerabat perempuan serta baju kemeja batik untuk pihak laki-laki. Semuanya kucari sendirian di pasar di Kota Palembang tentunya dengan budget yang murah.

Tak lupa untuk isi seserahan juga kubeli sendiri karena ibu mertuaku menginginkan aku untuk memilih sendiri isi dari hantaran. Mulai dari perlengkapan mandi, alat make up, baju, sepatu dan tas. Total hantaranku hanya 6 parsel. Sedangkan untuk seperangkat alat salat dan juga kain songket khas Palembang dibelikan oleh mertua.

Satu bulan sebelum pernikahan aku pulang ke kampung untuk melakukan suntik catin dari puskesmas setempat dan juga ada pengarahan dari KUA. Saat itu aku pulang dengan pesawat dan membawa 1 kardus undangan, 1 kardus souvenir kayu, 1 gulungan songket palembang asli, 6 buah keranjang hantaran serta 1 koper yang isinya baju seragaman keluarga.

Aku harus menambah bagasi karena telah melebihi batas maksimal 20 kg. Dan alhamdulillah pernikahan sederhana impianku pun terlaksana tepat pada tanggal 24 agustus 2018.

Mempersiapkan pernikahan seorang diri, memilih, dan mencari sendiri segala pernak perniknya menciptakan kepuasan tersendiri bagiku. Meski aku sering mengeluh karena capek sambil bekerja di kantor dan tidak adanya kendaraan pribadi di mana aku harus naik turun angkot, namun hasilnya membuatku puas. Aku bisa memilih dan mempertimbangkan segala sesuatunya sesuai budget dan alhamdulillah pesta pernikahan dan resepsiku hanya memakan biaya sekitar Rp20 jutaan.

Menurutku pernikahan itu tak harus wah dan mewah, tak harus di gedung, jika di rumah memungkinkan kenapa tidak? Yang penting sakral dan berkahnya. Sederhana saja karena segala sesuatu yang berlebih-lebihan itu tak baik dan tentunya disesuaikan dengan bujet yang kita punya.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel