Buka Toko Offline Saat Pandemi, Bisnis Wanita Ini Justru Untung 10 Kali Lipat

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketika pandemi Covid-19 berkecamuk di tahun 2020, sebagian besar kegiatan dunia terkunci dan terbatas, termasuk transaksi jual beli pun lebih banyak beralih ke belanja online. Namun Chrisanti Indiana, co-founder dan chief marketing officer Sociolla, melakukan hal yang tidak terduga dengan mengembangkan bisnis e-commercenya menjadi offline.

Startup e-commerce kecantikan dan perawatan pribadinya, Sociolla baru memiliki dua toko fisik di Indonesia pada 2019. Namun pada akhir 2021, jumlah itu telah tumbuh 10 kali lebih banyak. Ini tidak terlepas dari langkahnya yang sangat berani untuk membuka toko offline.

Padahal semua orang sedang menutup toko offline mereka karena berlangsungnya pandemi. Tapi menurut Chrisanti, langkah yang diambil telah diperhitungkan dengan baik untuk keberlangsungan Perusahaan Social Bella yang mengoperasikan Sociolla tersebut.

"Kita tahu bahwa inilah saatnya kita benar-benar bersiap untuk memastikan bahwa setelah pandemi, kita dapat melayani lebih banyak konsumen," katanya pada CNBC Make It.

Melihat jauh ke depan ternyata menjadi langkah yang tepat bagi pengusaha berusia 31 tahun itu. Dengan pendekatan online dan offline pada startup e-commerce-nya, memang telah mengubahnya menjadi konglomerat kecantikan bernilai jutaan dolar.

Sejak 2018, dia telah mengumpulkan kekayaan sekitar USD 225 juta atau setara dengan Rp 3,5 triliun. Chrisanti bahkan berhasil menarik daftar investor yang luar biasa seperti East Ventures, Jungle Ventures, Temasek dan Pavillion Capital.

Mengatasi Pemalsuan

Ide untuk Sociolla muncul pada tahun 2015, ketika dia pulang ke Jakarta, setelah belajar di Australia. Pecinta make up ini, menyadari bahwa di Australia, dia memiliki akses yang lebih mudah ke berbagai macam produk kecantikan dari merek internasional namun itu sangat kontras dengan di Indonesia.

"Tidak ada platform yang memiliki semuanya, saya harus mencari penjual tertentu di media sosial, bertanya kepada teman yang dapat membantu membelikan produk untuk tersebut di luar negeri," ungkapnya.

Yang membuat keadaan menjadi lebih buruk baginya adalah menjamurnya produk makeup palsu secara online yang terkadang dijual dengan harga miring dari harga aslinya. Dia masih ingat dengan jelas bahwa ada banyak penjual serupa secara online terutama di media sosial, yang mengklaim produk mereka 99% asli.

Dia memang mengetahui pemalsuan produk buatan lokal di Indonesia marak terjadi, berkat biaya tenaga kerja dan bahan yang murah. Dia juga menambahkan, menurut sebuah laporan lokal yang dibacanya, pihak berwajib di Indonesia telah menyita produk kosmetik ilegal senilai USD 9 juta pada tahun 2018 atau dua kali lipat dari jumlah tahun sebelumnya. Namun, membuatnya tambah bingung adalah melihat teman-temannya yang masih tergiur untuk membeli produk tersebut. Sehingga berangkat dari permasalah tersebut, ia membangun Sociolla.

"Ini perawatan kulit, itu makeup. Itu adalah sesuatu yang Anda kenakan di kulit Anda," tambahnya.

Bertekad untuk membangun ruang dimana konsumen bisa mendapatkan produk yang aman dan otentik, Chrisanti bekerja sama dengan saudara laki-laki dan temannya untuk meluncurkan Social Bella dengan bermodal awal USD 13.000. Kini, Sociolla telah berkembang dengan memiliki 47 toko di Indonesia dan 16 di Vietnam.

"Sejak kami mulai, kami memastikan bahwa kami hanya bekerja dengan distributor resmi atau pemilik merek," ujarnya.

Membangun Ekosistem

Sociolla mungkin telah dimulai sebagai platform e-commerce tetapi mereka sebagai pendiri memiliki mimpi yang lebih besar. Social Bella telah melampaui toko offline dengan menjadi distributor untuk produsen kecantikan dan perawatan pribadi di seluruh dunia.

“Kami menjadi associate partner bagi banyak merek global di Indonesia. Kami membantu mereka tidak hanya mendistribusikan produknya ke Indonesia, tetapi kami juga membantu mereka memahami pasar,” jelasnya.

Selain itu dia memaparkan, bisnisnya juga mengoperasikan Soco, suatu layanan review produk kecantikan online terbesar di Indonesia. Dari data perusahaan, Soco telah tercatat mengumpulkan lebih dari 2,5 juta ulasan untuk sekitar 36.000 produk, Menurut Chrisanti, 'perjalanan kecantikan' bagi pelanggan lebih dari sekadar memasukkan sesuatu ke dalam keranjang belanja dan check out.

Sociolla menyadari, bahwa menemukan produk yang tepat untuk diri sendiri bukan hanya tentang pergi ke toko dan mengambilnya. Tapi juga harus memastikan pelanggan telah membaca ulasan, berbicara dengan teman, atau mencari di internet terlebih dahulu. Oleh karena itu Sociolla meluncurkan Soco untuk semakin membantu pelanggan menemukan produk yang paling tepat bagi mereka.

"Soco memastikan bahwa mereka dapat mengakses banyak ulasan produk sebelum mereka membeli produk," lanjutnya.

Selain itu, Social Bella juga menyediakan jurnal kecantikan, situs web tentang gaya hidup dan rekomendasi produk untuk ibu dan bayi sebagai bagian dari membangun ekosistem bisnis terbaik. Terbukti dengan startup ini, sudah memiliki lebih dari 30 juta pengguna di semua unit bisnisnya. Serta telah menjual 12.000 produk dari 400 merek di seluruh dunia.

"Kami ingin melayani lebih banyak wanita, tidak hanya dalam kecantikan dan perawatan pribadi tetapi juga di industri lain," ungkapnya.

Rencana ke Depan

depan
depan.jpg

Selama dua tahun terakhir, Social Bella berkembang secara agresif. Tumbuh dari yang dulunya pada tahun 2020 hanya memiliki tiga toko Sociolla di Indonesia kini menjadi 47 toko dan juga 16 toko di Vietnam saat ini. Pendekatan cerdas Social Bella juga menarik perhatian investor, dimana dana terakhirnya pada Oktober 2022 tercatat telah menghasilkan USD 60 juta.

Dilaporkan juga bahwa perusahaan yang berbasis di Jakarta ini, sedang bernegosiasi untuk putaran pendanaan yang akan mendorong investasi mencapai USD 1 miliar. Meski begitu, perusahaan tersebut bertekad untuk tidak terburu-buru menjadi unicorn Indonesia berikutnya. Chrisanti menekankan bahwa menjadi unicorn tidak pernah menjadi tujuan.

"Kami ingin memastikan bahwa kami meningkatkan dan menjangkau lebih banyak konsumen. Kalau Social Bella jadi unicorn, itu bonus," pungkasnya.

Reporter Magang: Hana Tiara Hanifah [azz]