Bukan Akal-akalan, Ini Alasan Mobil Tidak Dipakai Perlu Ganti Oli

Yunisa Herawati
·Bacaan 1 menit

VIVA – Para pemilik mobil umumnya sudah mengetahui, bahwa kendaraan mereka membutuhkan perawatan berkala jika ingin awet dipakai. Salah satunya, mengganti oli dengan teratur.

Banyak yang beranggapan, proses tersebut hanya perlu dilakukan apabila sudah menempuh jarak tertentu. Mereka umumnya berpatokan dari buku manual kendaraan tersebut.

Namun, ada informasi lain yang juga tercantum tapi jarang diperhatikan, yakni ada faktor lain yang juga mempengaruhi waktu penggantian oli.

Faktor yang dimaksud adalah berapa lama zat kimia itu berada di dalam mesin. Sebab, meski kendaraan tidak pernah digunakan selama berbulan-bulan, atau bahkan tahunan, maka kondisi olinya bisa jadi tidak layak pakai.

Hal itu diungkapkan oleh Junior Technical Specialist HSD Engine Oil PT Pertamina Lubricants, Brahma Putra Mahayan, saat konferensi pers virtual belum lama ini.

“Menurut buku manual, memang harus diganti. Kalau dipakai, jelas harus diganti. Kalau enggak dipakai, memang ada apa?” ujarnya, dikutip VIVA Otomotif Rabu 3 Maret 2021.

Brahma menjelaskan, mesin kendaraan mengandung berbagai macam material. Mulai dari besi tembaga, nikel hingga partikel lain.

“Meski mesin tidak bergerak, tapi partikel-partikel ini berfungsi sebagai katalis,” tuturnya.

Menurut Brahma, awalnya oli melumasi mesin dengan normal. Tapi, kehadiran partikel membuatnya bereaksi terhadap oli tersebut, sehingga menghasilkan zat lain yang berbahaya.

“Hadirnya partikel-partikel keausan mesin ini akan mengakibatkan keduanya (oli dan mesin) bereaksi,” ungkapnya.

Meski pelumas saat ini sudah dibekali dengan aditif untuk mencegah timbulnya korosi atau perubahan kimia lain, namun hal itu sifatnya hanya sementara.

“Mau aditif sehebat apa pun, tidak akan bisa menghilangkan proses alamiah yang terjadi, Juga dengan Metal Deactivator yang memang penggunaannya mencegah terjadinya efek katalis, tetapi ya tidak ada yang ideal,” jelasnya.