Bukan Budak Seks Jepang, Ini 12 Fakta Geisha yang Jarang Diketahui Orang

Liputan6.com, Jakarta - Perbincangan soal budak seks Jepang belakangan tengah mencuri perhatian. Bagi mereka yang minim pengetahuan tentang Negeri Matahari Terbit, umumnya menyebut para pekerja seks komersial (PSK) di sana dengan Geisha yang identik dengan menggunakan bedak tebal berwarna putih.

Namun ternyata, anggapan tersebut salah. Bahkan sepenuhnya tak benar. Geisha atau geiko yang menjadi salah satu ikon Jepang bukanlah PSK, dan mereka tak selalu membubuhkan bedak tebal berwarna putih di wajahnya.

Selain itu, geisha tak selalu perempuan. 

Geisha sejatinya adalah seniman sekaligus penghibur tradisional Jepang. Untuk mendapatkan status tersebut bukan perkaran gampang.

Mereka harus bekerja keras mengasah bakat artistiknya, berlatih memainkan musik dan menari selama bertahun-tahun.

Geisha biasanya memainkan alat musik gesek yang disebut shamisen, dan beberapa dari mereka bahkan terkenal karena menggubah musik sendiri yang berirama "melankolis".

Sementara, lainnya punya nama setelah merancang tarian yang lambat dan anggun yang dipenuhi simbolisme yang kompleks.

Pada masa kejayaannya, mereka memulai pelatihannya pada usia muda, bahkan ada yang masih bocah berusia 6 tahun.

Rumah-rumah geisha menggelar pelatihan seni. Para gadis muda akan dipasangkan dengan mentor pribadi.

Rata-rata, seorang gadis menempuh banyak pelatihan selama lima tahun atau lebih sebelum dia diizinkan untuk menyebut dirinya seorang geisha.

Berikut sejumlah fakta Geisha yang jarang orang ketahui, Liputan6.com dari tsunagujapan.com, Sabtu (14/12/2019):

Fakta 1-6

Geisha magang atau maiko di Kyoto, Jepang (AFP)

1. Geisha adalah istilah yang sama untuk geiko dan geigi.

Mereka semua memiliki karakter yang sama - gei, yang berarti hiburan, atau sesuatu yang membutuhkan keterampilan, dan ide tertentu. Sha berarti orang atau benda. Ko berarti anak.

Gi berarti seorang wanita yang melayani di jamuan dengan musik tradisional Jepang atau bernyanyi. Semua istilah berarti seorang wanita yang menghibur para tamu dengan tarian, musik tradisional Jepang dan bernyanyi di sebuah jamuan makan.

2. Geisha tak hanya wanita, tapi juga pria.

Selama periode Edo di Kyoto dan Osaka, geisha berarti houkan, dan geiko berarti seorang wanita.

Houkan adalah pekerjaan untuk menghibur para tamu dengan menunjukkan bakat mereka dan membantu geiko dan maiko. Pada era Meiji, kata geisha menjadi kata wanita.

3. Ada nama khusus untuk mereka yang masih dalam pelatihan menjadi geisha.

Mereka disebut maiko.

Maiko memberikan hiburan seperti tarian tradisional Jepang, ohayashi di jamuan makan, dan sedang dalam pelatihan untuk menjadi geisha.

Ohayashi adalah bentuk musik Jepang yang dilakukan selama festival, dan menunjukkan keragaman di berbagai wilayah di seluruh Jepang.

4. Anda bisa membedakan geisha dan maiko dengan gaya rambut mereka.

Geisha memiliki mage shimada, sementara Maiko memiliki momoware.

5. Anda dapat membedakan geisha dan maiko dengan kimono mereka.

Geisha memakai tsumesode kimono. Kimono Tsumesode adalah kimono yang tidak memiliki celah di samping di bawah ketiak.

Maiko memakai hikizuri kimono. Hikizuri mirip dengan furisode, atau kimono formal yang dikenakan wanita pada Seijin-no-hi (Coming of Age Day), karena mereka berdua memiliki lengan panjang. Tapi hikizuri memiliki panjang, bantalan empuk yang menjejak di sepanjang lantai, sedangkan furisode memiliki panjang reguler.

6. Baik geisha dan maiko memakai oshiroi.

Oshiroi adalah bubuk putih. Mereka menggunakannya untuk menutupi wajah dan bagian depan serta belakang leher mereka. Di masa lalu, bubuk itu mengandung timbal, yang kemudian menyebabkan masalah kesehatan yang serius.

Mereka melengkapi tampilan dengan eyeliner hitam, sedikit bayangan mata merah di ujung kelopak mata mereka, dan bibir yang sangat merah. Biasanya ketika geiko semakin tua, dia akan berhenti memakai oshiroi.

Fakta 7-12

Ilustrasi bendera Jepang (AFP/Toru Yamanaka)

7. Di masa lalu, geisha memiliki gigi hitam.

Kebiasaan ini disebut ohaguro.

Bukan hanya untuk geisha, tetapi untuk wanita pada umumnya. Makna itu berubah sepanjang zaman, tetapi itu untuk kecantikan.

Saat ini, maiko akan menghitamkan gigi mereka ketika mereka mencapai tahap sakkou, atau ketika mereka lulus dari menjadi maiko.

8. Anda perlu menghubungi seorang Okiya untuk menemui geisha.

Okiya adalah tempat geisha berada.

Para tamu akan menelepon atau memberi nama geisha melalui Okiya. Anda tidak dapat melihat atau memilih geisha secara langsung. Untuk melihat geisha, Anda harus mengenal seseorang yang memiliki koneksi ke Okiya.

9. Memiliki geisha di perjamuan Anda membutuhkan koneksi.

Untuk memanggil geisha ke perjamuan Anda, Anda harus memberi tahu Ryotei.

Ryotei adalah restoran Jepang kelas atas yang dilengkapi dengan kamar pribadi besar.

Ryotei kemudian akan mengatur jumlah geisha sesuai dengan anggaran dan keinginan para tamu. Jika Anda orang ternama, Anda dapat langsung memanggil geisha.

Kendati demikian, Anda tidak bisa selalu memanggil geisha ke setiap Ryotei. Ada aturan ketat.

10. Nilai gaji Geisha memiliki gaya tertentu.

Tingkatan gaji disebut ohanadai, gyokudai, atau senkoudai.

Dai berarti harga. Ohana berarti bunga. Gyoku berarti bola atau permata. Senkou berarti dupa. Memberi nama sesuatu secara tidak langsung menggunakan kata-kata lain adalah suatu bentuk keindahan dalam bahasa Jepang, seperti halnya bagi banyak budaya lain.

11. Geisha memiliki pelanggan, yang disebut danna.

Danna adalah pria yang kuat dan kaya yang membayar semua biaya geisha.

Untuk menjadi geisha membutuhkan banyak waktu dan uang. Danna akan membayar dan merawat geisha sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, status sosial yang tinggi untuk menjadi danna.

Itu menunjukkan bahwa mereka punya cukup uang untuk menjadi pelindung geisha. Hubungan mereka tidak bersifat seksual.

12. GEISHA BUKAN PEKERJA SEKS.

Banyak orang bingung geisha dengan oiran, yang merupakan pekerja seks kelas tinggi.

Memang benar bahwa beberapa geisha melakukan pekerjaan seks, tetapi secara teknis mereka adalah penghibur.