Bukan Cuma Wanita, Pria Juga Bisa Merasakan Rasa Tak Nyaman Saat Istri Hamil

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kelelahan, mual, dan refluks adalah beberapa gejala yang mungkin dialami wanita selama tahap tertentu dalam kehamilannya.

Apa yang dia tidak harapkan adalah bahwa pasangannya mungkin juga mengembangkan beberapa di antaranya, terlebih lagi karena pria tidak bisa hamil.

Tetapi meskipun demikian, pria sebenarnya dapat mengalami beberapa ketidaknyamanan yang dialami wanita saat hamil.

Faktanya, penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Men's Health menemukan 25 hingga 72 persen pria di seluruh dunia juga merasakan gejala kehamilan ketika sang istri sedang berbadan dua, atau disebut juga dengan Sindrom Couvade.

Dilansir dari Bright Side, berikut adalah penyebab dari fenomena aneh tersebut.

Asal Mula Sindrom Couvade

Salah satu kunci kebahagiaan suami dalam rumah tangga adalah Miss V milik istrinya awet muda. Bagaimana cara mewujudkannya?
Salah satu kunci kebahagiaan suami dalam rumah tangga adalah Miss V milik istrinya awet muda. Bagaimana cara mewujudkannya?

Ketika pasangan sedang mengharapkan bayi, mereka mungkin berbagi sesuatu yang lebih dari sekedar kegembiraan, keraguan, dan jam berbelanja yang panjang untuk menyambut bayi mereka. Kemungkinan mereka juga berbagi beberapa gejala.

Sindrom Couvade berasal dari bahasa Prancis, dan artinya seperti "menetas".

Namun, mungkin Anda mengenalnya dengan nama yang lebih populer: kehamilan simpatik. Nama ini benar-benar tepat, karena pasangan pria mungkin mengalami perubahan kadar hormon, mual, penambahan berat badan, kelelahan, insomnia, dan bahkan nyeri persalinan, tergantung pada kasusnya.

Seberapa Umum Kondisinya?

Ilustrasi mual menatap layar (Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels).
Ilustrasi mual menatap layar (Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels).

Meskipun kondisi ini belum sepenuhnya diakui sebagai gangguan yang berhubungan dengan kesehatan, terdapat perbedaan pendapat di antara dokter dan ilmuwan lain tentang penyebabnya. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami sifat sindrom ini.

Namun, beberapa penelitian menemukan bahwa kondisi ini agak umum terjadi. Ini dapat memengaruhi sebagian besar calon ayah. Hasil dapat bervariasi tergantung pada kebangsaan mereka, dan gejala dapat muncul di akhir bulan ketiga atau lebih jauh pada trimester terakhir kehamilan seorang wanita.

Mengapa Sindrom Couvade Terjadi?

Ilustrasi Kehamilan Credit: pexels.com
Ilustrasi Kehamilan Credit: pexels.com

Meski para ahli masih belum mengetahui mengapa beberapa pasangan pria menunjukkan gejala-gejala tersebut, ada sejumlah teori yang mencoba menjelaskannya.

Menurut peneliti tertentu, ini mungkin merupakan respons somatisasi. Walaupun namanya mungkin tampak menakutkan, gejala somatik hanyalah gejala fisik yang memiliki akar emosional. Pikirkan, misalnya, saat Anda sedang jatuh cinta atau sangat bersemangat dan Anda merasakan "kupu-kupu di perut".

Mungkin stres dan antisipasi bayi baru dan tanggung jawab baru yang datang dengan menjadi ayah dapat menghasilkan gejala pada pria, mirip dengan yang dialami selama kehamilan.

Sarjana lain mengklaim bahwa sindrom couvade dapat disebabkan oleh serangkaian perubahan hormonal yang dialami pria saat pasangannya hamil. Mereka mengira mungkin ada penurunan produksi testosteron dan kortisol serta peningkatan prolaktin dan estrogen, hormon yang biasanya terkait dengan tubuh wanita.

Di sisi lain, ada ilmuwan yang percaya bahwa semakin terlibat seorang calon ayah dengan kehamilan dan persalinan pasangannya, semakin besar kemungkinan dia untuk berbagi ketidaknyamanan pasangannya. Ini akan menjadi cara untuk mengekspresikan empati dengan ibu dan keinginan yang kuat untuk mengidentifikasi peran barunya sebagai ayah.

Cara Mengatasi Kondisi Tersebut

ilustrasi meditasi/unsplash
ilustrasi meditasi/unsplash

Untungnya, begitu seorang wanita melahirkan, gejala pasangannya cenderung hilang secepat dan tiba-tiba seperti pertama kali muncul.

Sementara itu, ada baiknya untuk diingat bahwa ini hanyalah penyakit sementara yang tidak akan membahayakan kesehatan siapa pun. Cara terbaik untuk menanganinya adalah dengan menemukan cara untuk meredakannya.

Beberapa pilihan yang disarankan adalah untuk Anda berolahraga atau bahkan bermeditasi untuk mengatasi kecemasan.

Anda juga dapat mengonsumsi obat-obatan alami dan yang terpenting, penting untuk memiliki diet seimbang untuk mengatasi ketidaknyamanan perut atau, jika perlu, terapi untuk solusi yang lebih personal. Bagaimanapun, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter untuk pilihan lain.

Reporter: Lianna Leticia

Saksikan Video Berikut Ini: