Bukan dengan Sumur Resapan atau Pompa Mobile, Ini PR Besar Jakarta Tangani Banjir

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Tata Kota, Nirwono Joga mengkritik sejumlah kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menanggulangi bencana banjir di Ibu Kota.

Dia menyoroti proyek sumur resapan yang dinilai tidak efektif menangani banjir di Jakarta. Menurutnya, sumur resapan hanya sanggup mengurangi genangan lokal berskala kecil.

Nirwono juga menilai bahwa kegiatan gerebek lumpur seharusnya terus dilakukan sepanjang tahun, bukan hanya seremoni jelang musim hujan saja.

"Penambahan pompa mobile tidak akan banyak membantu jika Pemprov DKI tidak serius mengatasi sumber penyebab banjir," katanya kepada Liputan6.com, Jumat malam (12/11/2021).

Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan ini membeberkan pekerjaan rumah (PR) yang harus serius dilakukan Pemprov DKI dalam mengatasi banjir di Jakarta.

Kata dia, Pemprov DKI harus membenahi 13 sungai utama dan merelokasi permukiman liar yang ada di bantaran kali. Tujuannya untuk memperlebar dan memperdalam sungai.

"Ini untuk mengatasi banjir kiriman yang terjadi seperti di Kali Ciliwung dan Kali Pesanggrahan," ucap Nirwono.

Revitalisasi Waduk hingga Restorasi Kawasan Pesisir

Alat berat tengah melakukan pengerukan lumpur di kali Mookervart, Jakarta Barat, Selasa (12/10/2021). Antisipasi banjir, Pemprov DKI Jakarta gelar gerebek lumpur di sepanjang aliran Kali Mookervart, pengerukan lumpur  untuk mengatasi permasalahan banjir di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Alat berat tengah melakukan pengerukan lumpur di kali Mookervart, Jakarta Barat, Selasa (12/10/2021). Antisipasi banjir, Pemprov DKI Jakarta gelar gerebek lumpur di sepanjang aliran Kali Mookervart, pengerukan lumpur untuk mengatasi permasalahan banjir di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Nirwono mendorong, Pemprov DKI dapat merevitalisasi 109 situ/danau/embung/waduk (SDEW) yang ada di Jakarta dan menambah 20 waduk baru hingga 2030. Harapannya, revitalisasi dan penambahan waduk ini mampu menampung luapan/limpasan air dari sungai maupun saluran air terdekat.

"Seluruh saluran air kota dan terhubung dengan 109 SDEW direhabilitasi untuk menampung air dan cadangan air baku, ini untuk mengatasi banjir lokal seperti terjadi di Falatehan, Blok M, Dharmawangsa, Panglima Polim," rinci Nirwono.

Nirwono menambahkan, ruang terbuka hijau (RTH) sebagai daerah resapan air kota juga harus ditambah. Dia meyakini, RTH baru bisa menampung limpasan air ke saluran-saluran terdekat.

"Terakhir restorasi kawasan pesisir pantai sepanjang 500 meter ke arah daratan bebas bangunan juga harus dilakukan untuk mengatasi banjir rob di daerah permukiman seperti yang terjadi di Martadinata, Penjaringan dan Pluit," kata Nirwono menandasi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel