Bukan GameStop, Archegos Capital yang Bikin Cemas Pasar Keuangan AS

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street meski bergejolak tetapi mampu ditutup positif selama kuartal I 2021.

Bahkan wall street menutup kuartal I 2021 dengan performa kinerja saham yang tinggi seiring investor kembali beralih ke sektor saham teknologi sambil menimbang rencana belanja besar infrastruktur Presiden Amerika SerikatJoe Biden.

Selama kuartal I 2021, indeks saham Dow Jones dan S&P 500 masing-masing naik 7,8 persen dan 5,8 persen. Indeks saham Nasdaq mencatat kinerja buruk karena saham teknologi sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga karena bergantung pada pinjaman uang murah untuk investasi dalam pertumbuhan ke depan. Selama kuartal I 2021, indeks saham Nasdaq hanya naik 2,8 persen.

Selama kuartal I 2021, sejumlah cerita mewarnai pasar keuangan global. Berdasarkan laporan Ashmore, dikutip Minggu, (4/4/2021), sejumlah cerita mewarnai pasar keuangan itu mulai dari GameStop, NFT hingga terjebaknya kapal kontainer raksasa di Terusan Suez.

Akan tetapi, sentimen itu bukan mempengaruhi pasar modal seperti Archegos Capital yang menyeret sejumlah bank global berpotensi rugi.

Hal ini seperti mengingatkan untuk berpikir dua kali saat memberikan kesempatan kedua. Apalagi Archegos Capital seperti cerita klasik yang melibatkan Bill Hwang yang ditangkap oleh United Securities and Exchange Commision (SEC) atau Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat pada 2012.

Penangkapan pendiri Tiger Asia Capital tersebut berkaitan dengan insider trading dan manipulasi pasar sehingga mendapatkan denda sebesar USD 44 juta atau sekitar Rp 640,78 miliar (asumsi kurs Rp 14.563 per dolar AS).

Timbulkan Margin Call dan Bank Berpotensi Rugi

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Setelah Tiger Asia Capital ditutup, Hwang menjalankan Archegos Capital, family office yang mengelola dana lindung nilai keluarga kaya.

Dengan menampilkan beberapa reformasi aksinya, Hwang mendapatkan kepercayaan dari bank global seperti Goldman Sachs, Morgan Stanley, Nomura dan Credit Suisse untuk meminjamkan uang Archegos. Kemudian digunakan untuk membeli saham memakai utang dengan menggunakan saham Archegos sebagai jaminan.

Apa yang terjadi beberapa minggu terakhir ini? Satu dari kepemilikan Archegos berkurang secara signifikan karena estimasi analis yang lebih rendah memicu aksi jual.

Archegos meminjam uang untuk membeli saham, aksi jual di beberapa sahamnya memicu margin call. Archegos perlu menambah agunannya. Lantaran Archegos tidak bisa memberikan lebih banyak agunan dan gagal membayarnya telah menempatkan pemberi pinjaman dalam potensi rugi.

Goldman Sachs dan Morgan Stanley dilaporkan dengan kerugian terbatas. Akan tetapi, hal terjadi sebaliknya dengan Nomura dan Credit Suisse. Credit Suisse telah mengumumkan ada potensi dampak terkait Archegos. Sedangkan Nomura dilaporkan berpotensi rugi USD 2 miliar.

Hal terkait Archegos itu mendorong penjualan saham bank. Dalam jangka pendek kemungkinan besar investor kurangi saham bank.

Apakah Serupa dengan 2008?

Ekspresi spesialis Michael Pistillo (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)
Ekspresi spesialis Michael Pistillo (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Lalu apakah ini akan menimbulkan risiko sistemik yang serupa dengan 2008?

Ashmore menilai hal itu tidak mungkin saat ini. Archegos dilaporkan kehilangan hampir USD 35 miliar dengan delapan saham, sedangkan modal sendiri hanya USD 10 miliar.

Potensi kerugian bank diperkirakan sekitar USD 6-USD 8 miliar. Dibandingkan 2008, total kerugian USD 2 triliun membuat sistemik menjadi nyata. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah bagi SEC yang mengawasi para pelaku pasar.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini