Bukan Jeff Bezos, Raja Muslim Afrika Inilah Orang Terkaya Sepanjang Sejarah

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Bos Amazon, Jeff Bezos ataupun Elon Musk bos Tesla mungkin sering dikaitkan dengan gelar orang terkaya dunia. Kenyataannya, kedua orang terkaya dunia ini bukanlah yang paling kaya dalam sejarah manusia.

Seorang raja Muslim di tepi barat Afrika, Mansa Musa punya kekayaan yang tidak tertandingi bahkan di era modern saat ini. Mansa merupakan gelar yang dipakai untuk merujuk pada seorang 'Sultan' atau 'Kaisar'.

Mansa Musa yang juga memiliki nama Musa Keita I yang merupakan raja ke-10 dari kerajaan Mali. Sebuah imperium yang menguasai sebagian kawasan penting di wilayah Afrika Barat.

Mansa Musa memimpin kerajaan Mali pada abad ke-14. Selain terkenal dengan kekayaannya, Ia juga seorang pemimpin militer besar yang sukses memperluas kekuasaannya sampai 2.000 mil.

Dikutip dari Business Insider, Senin (26/4/2021) Kerajaan Mali dulu sempat menguasai wilayah yang saat ini dikenal sebagai negara Mali, Mauritania, Senegal, Gambia, Guinea, Burkina Faso, Niger, Nigeria, and Chad.

Negara-negara ini merupakan wilayah dengan cadangan emas yang melimpah, yang kemudian menyumbang terhadap kekayaan Mansa Musa.

Pada saat kepemimpinan Mansa Musa, sebagian besar Eropa sedang berjuang dan dan menghadapi penurunan produksi emas dan perak. Sementara banyak kerajaan di Afrika berkembang pesat berkat cadangan emas yang melimpah.

Pada masa kepemimpinan Mansa Musa, Kerajaan Mali menyumbang hampir setengah dari produksi emas dunia pada saat itu, menurut Museum Inggris seperti dikutip dari BBC. Dan semua cadangan emas itu berada di bawah kendali raja.

"Sebagai penguasa, Mansa Musa memiliki akses yang hampir tidak terbatas ke sumber kekayaan yang paling berharga di dunia abad pertengahan," kata Kathleen Bickford Berzock, seorang pengajar studi Afrika di Northwestern University.

"Pusat perdagangan utama yang memperdagangkan emas dan barang lainnya juga berada di wilayahnya dan dia mengumpulkan kekayaan dari perdagangan ini," tambahnya.

Jurnalis Jacob Davidson dari majalah Time menyebut nilai kekayaan dari Mansa Musa tidak bisa diprediksi. Menurutnya tidak ada cara untuk menghitung kekayaannya secara akurat, terlebih kisahnya itu sudah berlangsung dari beberapa abad silam. Karena itu cerita kekayaannya itu bisa saja dilebih-lebihkan.

Meski begitu, sebuah situs analisis keuangan asal Amerika Serikat, Celebrity Net Worth pada tahun 2012 memperkirakan nilai kekayaan Mansa Musa mencapai USD 400 miliar setara Rp 5.784 triliun.

Terkenal Murah Hati

Ilustrasi Mansa Musa I. (Independent)
Ilustrasi Mansa Musa I. (Independent)

Dengan harta berlimpah, Mansa Musa juga terkenal tidak pelit atas kekayaannya. Dia sering memberikan hadiah kepada pejabat yang ditemui.

Saat singgah di Kairo dalam perjalanan haji ke Arab Saudi, dia menghabiskan begitu banyak emas untuk orang miskin sehingga menyebabkan inflasi massal di wilayah yang disinggahinya.

Selain itu, kepemilikan terhadap aset yang melimpah hanyalah satu sisi dari kekayaan materi yang dimiliki Mansa Musa.

Dia merupakan sosok raja yang terkenal murah hati dan sifat dedikatifnya terhadap agama yang kemudian berpengaruh terhadap perkembangan Islam di Afrika.

Ia membangun kota Timbuktu menjadi peradaban Islam yang maju dengan membangun banyak sekolah, masjid dan universitas besar. Termasuk masjid bersejarah di kota ini, Djinguereber Mosque yang sampai masih berdiri megah hingga saat ini.

Warisan raja yang kaya bertahan selama beberapa generasi dan hingga hari ini, ada mausoleum, perpustakaan dan masjid yang berdiri sebagai buktinya. Periode kepemimpinannya dianggap "Zaman keemasan sejarah Mali," kata Jessica Smith seperti disebutkan dalam TED.

Perjalanan Haji yang Mahal

Ilustrasi Mansa Musa menunggangi unta. (Catalan Atlas of 1375)
Ilustrasi Mansa Musa menunggangi unta. (Catalan Atlas of 1375)

Sekalipun tidak diketahui pasti berapa nilai kekayaannya, eksistensi Mansa Musa sebagai orang terkaya di dunia mulai jadi sorotan setelah 12 tahun masa kepemimpinannya.

Saat itu, Ia berhasil menunaikan ibadah Haji dengan perjalanan jauh dari negaranya ke Mekkah, Arab Saudi. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan muslim Afrika pada saat itu.

Perjalanannya untuk bisa sampai ke Mekkah dilakukan sejauh 4.000 mil tanpa bantuan transportasi semaju saat ini. Perjalannya ini dilakukan dengan karavan dan dengan biaya yang mahal.

Jumlahnya bervariasi, tetapi karavan Mansa Musa yang dilaporkan berisi 60.000 orang yang dikatakan mencakup 1.000 petugas, 100 unta dengan muatan emas, membawa banyak musisi pribadi untuk hiburan selama perjalanan, serta 500 budak yang membawa tongkat emas.

Sejarawan kontemporer Ibn Khaldun kemudian mewawancarai salah satu orang yang pernah ikut dalam perjalanan haji sang raja.

Pria itu mengklaim bahwa, "Di setiap pemberhentian, dia akan menghibur kami dengan makanan langka dan camilan manis seperti gula-gula. Peralatan dan perabotannya dibawa oleh 12.000 wanita budak pribadi, mengenakan gaun brokat dan sutra Yaman," sebutnya.

Berkat perjalanan mahalnya ini, ia dimasukkan dalam Atlas Catalan 1375, salah satu peta dunia paling penting di Eropa pada Abad Pertengahan.

Cerita kekayaannya ini sampai ke telinga orang-orang Eropa, terutama populer bagi penduduk di wilayah Mediterania. Ini membuat Portugis yang pada abad ke-15 gencar-gencarnya menginvasi banyak negara dengan kekuatan lautnya, kemudian menyerang Mali.

Pada akhirnya, ziarah mewah sang kaisar membentuk pandangan Eropa tentang Mali sebagai "tempat kemegahan, kekayaan, dan kecanggihan," tulis sejarawan Chris Strobel.

Reporter: Abdul Azis Said

Saksikan Video Ini