Bukan Pertama Kali, Negara Ini Juga Pernah Merayakan Natal Saat Pandemi Tahun 1918

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Saat ini dunia tengah dilanda Pandemi COVID-19. Virus ini telah membuat lebih dari 78 juta orang positif terinfeksi virus corona, dan menyebabkan lebih dari 1,7 juta orang meninggal di seluruh dunia. Pandemi COVID-19 banyak membawa perubahan pada manusia saat beraktivitas, termasuk saat merayakan Natal.

Amerika Serikat sebagai negara dengan jumlah kasus positif COVID-19 tertinggi di dunia, pemerintahnya memberlakukan peraturan ketat terkait mobilitas penduduk dan masuknya warga asing saat Natal.

Ini bukan pertama kali AS merayakan Natal saat pandemi, sebelumnya, pada tahun 1918, masyarakat Amerika juga terpaksa merayakan Natal saat dunia tengah dilanda pandemi flu spanyol.

Flu spanyol diketahui memiliki gelaja mirip influenza, dan dapat menular dengan sangat cepat.

Dilansir dari Nypost, di AS pada Desember 1918, pemerintah federal memperingatkan masyarakat agar tidak menghadiri pesta ataupun pertemuan Natal karena berpotensi membawa virus ke anggota keluarga lainnya.

"Anda bisa menunjukkan cinta Anda kepada ayah dan ibu, saudara laki-laki, saudara perempuan dan yang lainnya dengan tetap tinggal di rumah. Itu bertentangan dengan segala hal yang kita suka untuk tidak merayakan musim liburan, tapi kita harus tetap tidak melakukannya," ujar salah satu komisaris kesehatan dari negara bagian Ohio dalam jurnal terbitan Ohio State edisi 21 Desember 1918.

Saat itu perang dunia pertama baru saja berakhir, banyak tantara Amerika yang terpaksa tidak bisa berlibur bersama keluarganya akibat pandemi tersebut. Banyak masyarakat juga yang mengeluh karena gereja ditutup.

Malam Natal Saat Pandemi Flu Spanyol

Pada Malam Natal, Dewan Kesehatan Negara Bagian Nebraska mengkategorikan flu spanyol sebagai ‘Penyakit yang dapat dikarantinakan’, sehingga setiap orang yang terinfeksi harus di karantina. Di wilayah Omaha, setidaknya 500 keluarga dikarantina di rumahnya, dan tidak boleh ada yang keluar rumah sampai empat hari setelah demamnya turun.

Rumah dari orang-orang yang terinfeksi juga akan ditempel kartu besar berwarna biru, sebagai simbol ‘Bahaya’. Denda sebesar $15 hingga $100 akan diberikan untuk setiap pelanggaran terhadap perintah karantina.

Hampir seluruh negara bagian memberlakukan masker sebagai atribut wajib, dan memerintahkan segala bisnis harus segera ditutup apabila bisnis tersebut tidak terlalu penting. Meskipun akhirnya kebijakan tersebut mendapat penolakan dari masyarakat.

Belum adanya vaksin, membuat penanganan flu spanyol di Amerika hanya mengandalkan pada intervensi non-farmasi, seperti isolasi, karantina, kebersihan pribadi, penggunaan disinfektan, dan batasan pertemuan publik.

Imbasnya, Amerika yang saat itu hanya berpenduduk sekitar 10,3 juta orang, diperkirakan memiliki jumlah korban meninggal akibat flu spanyol sebanyak 675.000 orang.

(Rizki Febianto)

Infografis

Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya (Liputan6.com/Triyasni)

Simak juga Video Menarik Berikut Ini