Bukan Saatnya Lagi Jadi Petani Tradisional

Lazuardhi Utama
·Bacaan 1 menit

VIVA – Sandang pangan sangat identik dengan industri pertanian. Artinya, sektor ini harus mampu memproduksi hasil taninya demi memenuhi kebutuhan pokok bagi seluruh masyarakat, terlebih lagi jika hasil pertanian Indonesia bisa tembus ke pasar luar negeri.

Semakin banyaknya permintaan maka produktivitas pertanian juga harus ditingkatkan. Saat ini petani harus melakukan transformasi dari tradisional ke modern. Ciri-ciri pertanian modern antara lain pemanfaatan produk bio sains. Yaitu, varietasnya berpotensi mendapatkan hasil yang tinggi.

Baca: Mau Jadi Petani Makmur, Jangan Gaptek

Kemudian, pemanfaatan alat mesin pertanian serta pemanfaatan teknologi informasi, internet, big data, robot construction, dan semua yang terkait dengan inovasi teknologi era industri 4.0. Adapun indikasi pertanian modern yaitu meliputi produktivitas yang tinggi dan hemat.

Indonesia merupakan rumah untuk lebih dari 30 juta petani. Sektor pertanian menyumbang 14 persen dari PDB Indonesia atau setara US$140 miliar (Rp2 ribu triliun lebih) dengan pertumbuhan 8 persen setiap tahunnya.

Sejak 2016 hingga saat ini, Kalimantan Selatan mampu terus mengenjot produksi beras sebanyak 1,4 juta ton, dan setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Kalimantan Selatan juga dikenal memiliki lahan yang luas. Namun, bila tidak dikelola dengan cerdas, maka akan sia-sia alias menjadi lahan tak produktif.

Kemampuan Kalimantan Selatan tetap mengamankan stok pangan, terutama di tengah pandemi COVID-19, yang membuat perekonomian nasional dan dunia mengalami defisit merupakan prestasi yang luar biasa. Hal tersebut karena transformasi pertanian dengan pendekatan teknologi.

"Ini yang menjadi faktor penentu mengapa petani tetap bersemangat walau dalam kondisi perekonomian yang lesu akibat pandemi COVID-19. Roda ekonomi bergerak dengan melihat potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia," kata Koordinator Koalisi Rakyat Banjar, Zul Fahmi, Minggu, 4 April 2021.