Bukan Senang, Pedagang Kaki Lima Ini Justru Komplain Saat Pelanggan Ucapkan Terima Kasih

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Seperti di Indonesia, mengucapkan terima kasih setelah bertransaksi juga ada dalam kultur Malaysia. Bedanya, kebanyakan warga Malaysia akan balik mengatakan "terima kasih," ketimbang menjawab "sama-sama."

Namun demikian, seorang pedagang kaki lima di Kuala Lumpur, Malaysia justru mengaku keberatan dengan interaksi yang dianggap sopan itu. Melansir Says, Sabtu, 9 Oktober 2021, ia mengaku merasa cukup dengan semua ucapan terima kasih.

Dalam sebuah video, ia menyebut bahwa semua "terima kasih" yang datang bersama anggukan telah menyebabkannya menderita sakit leher. Klip itu dilaporkan diunggah di Douyin, setara TikTok China, akhir bulan lalu.

Di rekaman berdurasi satu menit tersebut, penjual pancake ala Tianjin ini mengatakan bahwa orang Malaysia memiliki "kebiasaan buruk" yang tidak bisa ia tahan lagi. "Beginilah cara mereka (orang Malaysia) datang dan membeli barang. Mereka terus mengucapkan 'terima kasih,'" katanya.

"Hanya untuk membeli satu pancake, beberapa orang akan mengucapkan 'terima kasih' hingga tiga kali. Ada begitu banyak orang seperti itu," ucapnya bercerita. "Biarkan saya mendemonstrasikan: 'Pak, beri saya satu pancake.' Saya bertanya, 'Rasa apa?' (Pelanggan menjawab) 'Original.'"

"Saya menjawab, 'Baik (dan mereka pergi),' 'Terima kasih.' Ketika saya selesai membuat pesanan dan memberikannya, mereka mengatakan 'terima kasih' saat membayar," tuturnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Setidaknya 3 Kali

Ilustrasi pedagang kaki lima. (dok. unsplash @evankrause_)
Ilustrasi pedagang kaki lima. (dok. unsplash @evankrause_)

Si pedagang kaki lima ini melanjutkan, "Ketika saya memberi uang kembalian, mereka berkata, 'terima kasih.' Anda mendengar total tiga kali. Banyak orang di sini mengatakan tiga kali." Ia juga meniru bagaimana pelanggan Malaysia menganggukkan kepala setiap kali mengucapkan "terima kasih."

Penjual mengatakan jika pelanggan sangat sopan, ia sebagai warga negara China juga harus ramah untuk menghindari mempermalukan negaranya.

"Mereka bilang 'terima kasih,' saya harus merespon. Sebagai warga negara China, saya tidak hanya mewakili diri saya sendiri tapi juga negara saya. Belakangan orang bilang warga negara China tidak punya sopan santun," tuturnya.

"Saya harus menjawab. Mereka mengucapkan 'terima kasih,' saya mengucapkan 'terima kasih,'" ujarnya. "Saudara-saudara terkasih, hanya karena 'terima kasih' ini, sakit leher saya telah memberi saya banyak masalah, tahukah kalian?"

Bagian dari Kebiasaan

Ilustrasi pedagang kaki lima. (dok. unsplash @adliwahid)
Ilustrasi pedagang kaki lima. (dok. unsplash @adliwahid)

Pedagang kaki lima ini mengatakan, "Ada begitu banyak (orang Malaysia), tapi di sini saya sendirian. Apakah ini 'perang roda' bagi kalian?" Istilah "perang roda" ini mengacu pada musuh yang menyerang satu per satu secara berurutan seperti roda, alih-alih sekaligus.

"Kalian semua ingin mengucapkan terima kasih, lalu mengucapkan terima kasih (sebagai jawaban). Mengapa kalian mengangguk? Mengapa kalian membungkuk?" imbuhnya. "Sebaiknya saya menyerah. Masalah leher saya sudah muncul."

Di kolom komentar, warganet Malaysia membenarkan bahwa warga Negeri Jiran memang terbiasa mengucapkan terima kasih. "Itu (ucapan terima kasih) keluar begitu saja tanpa disadari karena sudah terbiasa," komentar seorang pengguna.

Sementara yang lain menyebut bahwa mereka mengucapkan terima kasih sebagai bentuk apresiasi karena sudah dilayani. "Anda tidak harus membungkuk untuk membalasnya," tulisnya.

Infografis Tampilan Kekinian Camilan Tradisional

Infografis tampilan kekinian camilan tradisional. (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis tampilan kekinian camilan tradisional. (Liputan6.com/Triyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel