Buku "Historiografi Khittah dan Politik Nahdlatul Ulama" diluncurkan

·Bacaan 2 menit

Buku "Historiografi Khittah dan Politik Nahdlatul Ulama" karya Ahmad Basho diluncurkan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat secara lebih mendalam mengenai khittah dan politik NU.

"Latarbelakang penerbitan buku ini bermula dari kegelisahannya terhadap deviasi pemahaman tentang Khittah NU," kata Ketua Yayasan Garuda Bumandala, Taufiq R. Abdullah, di Bandarlampung, Rabu.

Ia yang punya andil besar dalam penerbitan buku tersebut mengatakan Khittah NU kerap menjadi dalih untuk mereduksi perjuangan NU, pada sebatas komitmen untuk berdakwah dan berkarya di jalur sosial budaya belaka.

Padahal, perjuangan NU sejak awal kelahirannya, mencakup pula kesediaan untuk memasuki arena politik praktis, demi menyuarakan serta membela kemaslahatan umat, sekaligus ikut memastikan tegaknya agama dan negara secara harmonis dalam koridor NKRI.

"Khittah NU banyak disalahpahami, terjadi semacam deviasi pemahaman. Bahkan ada yang menganggap confused (membingungkan, red) dalam konsepsi. Deviasi pemahaman itu terlihat dari reduksi dan simplifikasi, ada yang mempertentangkan khittah dan politik," ujarnya.

Di sisi lain, sebagian memahami bahwa khittah yang dicetuskan tahun 1984, adalah sesuatu yang situasional, karena kondisi represi Orde Baru.

Baca juga: Ma'ruf Amin: Khittah NU adalah kemaslahatan agama dan sosial

Baca juga: Ma'ruf Amin kenang NU pernah jadi seperti bulus

"Padahal, jika melihat sejarah, para muassis NU sangat fleksibel, dan tidak anti politik," ujarnya.

Anggota Komisi I DPR RI itu juga mempertanyakan, bahwa apabila memahami khittah sebagai sikap anti politik, apakah tidak sama dengan menempatkan NU pada ruang hampa?.

"Apakah tidak sama dengan menyalahkan para muassis dan kiai NU. Apakah tidak sama dengan menyalahkan Hadratussyeikh Hasyim Asy'ari yang mendirikan Partai Masyumi?" tambahnya.

Ia juga menyesalkan ketika khittah kerap menjadi isu musiman, untuk menjegal kader atau aktivis NU yang memutuskan terjun di dunia politik praktis.

Baca juga: Yenni Wahid: Dua kandidat Ketum PBNU punya kedekatan dengan Gus Dur

"Kegelisahan inilah yang mendorong saya, mengajak Mas Basho untuk mendiskusikan ini, saya meminta untuk menuliskannya," imbuhnya.

Hasilnya adalah Buku "Historiografi Khittah dan Politik Nahdlatul Ulama" yang telah diluncurkan oleh Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin.

"Dan saya setuju paparan beliau, bahwa khittah adalah permanen, tetapi langkah-langkah kita, yang disebut dengan khatwah itu harus adaptif," imbuhnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel