Buku Kartun Tentang Domba dan Serigala Jadi Simbol Perlawanan Hong Kong

Merdeka.com - Merdeka.com - Lima warga Hongkon divonis bersalah oleh pengadilan karena menerbitkan buku anak-anak yang dianggap menghasut. Pihak berwenang menilai buku itu memiliki pesan politik.

Buku tersebut menceritakan tentang domba yang berusaha mengusir serigala dari desa mereka. Otoritas menginterpretasikan kisah domba dan serigala ini bertujuan politis.

Setelah dua bulan persidangan, hakim memutuskan tujuan buku itu sangat jelas untuk menghasut, dikutip dari BBC, Kamis (8/9).

Hakim Kwok Wai-kin menyampaikan, buku itu dapat membuat orang percaya bahwa otoritas China datang ke Hong Kong dengan tujuan jahat untuk menghancurkan kehidupan warga kota tersebut.

Kebebasan sipil sangat dibatasi di Hong Kong setelah China mengesahkan undang-undang keamanan nasional yang baru pada 2020. China berdalih UU ini diperlukan agar tercipta stabilitas di Hong Kong, tapi para pengkritik menyebut UU itu bertujuan untuk membungkam masyarakat yang berbeda pendapat.

Buku anak-anak ini ditulis lima ahli terapi berbicara yaitu Lai Man-ling, Melody Yeung, Sidney Ng, Samuel Chan, dan Fong Tsz-ho. Buku yang mereka tulis dianggap bertujuan untuk menjelaskan tentang gerakan pro demokrasi Hong Kong kepada anak-anak.

Mereka telah ditahan lebih dari setahun sembari menunggu vonis dan akan mulai menjalani hukuman dua tahun penjara dalam beberapa hari ke depan.

Kelima penulis yang berusia antara 25 dan 28 tahun itu mengaku tidak bersalah.

"Di Hong Kong hari ini, Anda bisa dipenjara karena menerbitkan buku anak-anak dengan gambar serigala dan domba. Putusan "hasutan" ini merupakan contoh hancurnya hak asasi di kota ini," kata Gwen Lee dari Amnesty International. [pan]