Buku Matematika 140 Tahun Ungkap Kondisi Indonesia Dijajah Belanda

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Seorang pengguna Facebook bernama Khir Johari menemukan buku latihan matematika abad ke-19 yang ditulis dengan gaya bahasa Belanda khas Indonesia. Ia memberi kita gambaran seperti apa kehidupan di Indonesia pada saat itu ketika dijajah Belanda dalam rangkaian soal matematika.

Buku berjudul 'Inilah Beberapa Hitoengan' yang artinya 'Inilah Beberapa Hitungan' dalam bahasa Indonesia. Buku ini ditulis dalam bahasa Indonesia ejaan lama bergaya Belanda, di mana menggunakan banyak huruf khusus Belanda seperti 'oe' yang dibaca 'u' dan 'j' diucapkan seperti huruf 'y'.

Baca: Hindari Pelecehan Seksual di Ponsel dengan Cara Ini

"Tidak, ini bukan tentang angka. Buku ini lebih banyak bercerita tentang manusia biasa, kehidupan sehari-hari orang pada titik waktu yang berbeda. Buku ini memberi kita pandangan menyeluruh tentang masyarakat, budaya, dan orang," tulis Johari dalam postingan Facebook, seperti dikutip VIVA Tekno dari situs Mashable, Kamis, 11 Maret 2021.

Ia pun memberi contoh penggunaan kata 'Malajoe' sebagai pengganti 'Melayu'. Meskipun 'Malajoe' terdengar seperti bahasa dari China, nyatanya kata 'Joe' berasal dari bahasa Belanda. Buku tersebut ditulis untuk didistribusikan di kota Batavia, atau sebagaimana orang Belanda menyebutnya, Ratu dari Timur yang sekarang berubah nama menjadi Jakarta.

Masalah yang menjadi fokus buku ini berkisar pada keuntungan, sewa bulanan, pinjaman, cicilan, upah, dan harga eceran. Buku ini memiliki banyak konsep merantau, kemungkinan sesuai dengan perkembangan zaman pada saat itu ketika orang meninggalkan kampung halaman untuk mencari peruntungan yang lebih baik di tempat lain.

Konsep itu masih relevan hingga saat ini, di mana banyak orang Asia Tenggara memilih untuk berimigrasi, bukan karena ketidaksetiaan kepada komunitas mereka, tetapi lebih sebagai upaya untuk membuat hidup lebih baik bagi diri mereka sendiri dan orang yang mereka cintai.

Ada juga perbedaan yang jelas antara orang pedesaan dan orang kota. Orang pedesaan disebut sebagai 'orang kampoeng' yang secara harfiah berarti orang desa. Saat itu wanita tidak diperlakukan dengan adil.

Buku ini juga menampilkan masalah lain, seperti kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan, yang mana perempuan selalu berpenghasilan paling rendah. Kata-kata yang ditampilkan sudah jarang digunakan untuk saat ini atau sudah kuno. Sebut saja kata 'anggur' yang digunakan untuk menyebut minuman anggur.

Saat ini kata 'anggur' hanya digunakan untuk merujuk pada buah anggur. Lalu, 'Nyiur' dan 'krambil' digunakan untuk menyebut kelapa, 'kamedja' digunakan untuk menyebut kemeja berkerah. Kata 'kamedja' berasal dari bahasa Portugis 'camisa'.

Mereka juga menambahkan kata 'si' sebelum nama seseorang. Itu digunakan untuk orang yang tidak hadir dalam percakapan, seperti 'Si Anna', 'Si Mark', 'Si Roha' atau 'Si Maruli'.

Meski begitu, kata 'si' masih banyak digunakan orang Indonesia dan Malaysia modern. Misalnya, jika seseorang bertanya, “Ke mana Danial pergi?, kata-kata yang terlontar adalah “Si Danial itu pergi ke mana?”. Tapi kata-kata ini tidak digunakan sesering sebelumnya, meskipun masih ada.

Buku matematika ini telah memberikan wawasan yang luar biasa tentang Indonesia ketika dijajah Belanda. Waktu telah banyak berubah sejak saat itu. Tapi cukup menakjubkan untuk bisa melihat nuansa Tanah Air berabad-abad silam, jauh sebelum kemerdekaan.