Buku SD Berbau Porno, Kemendikbud Harus Awasi Penerbitan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyesalkan kasus  beredarnya buku SD pelajaran Bahasa Indonesia yang memuat cerita bernuansa pornografi kembali terjadi.

Buku tersebut beredar di dua sekolah Bogor, SDN Polisi dan SDN Gunung Gede.  Di halaman 57 buku pelajaran tersebut, ada kisah seorang perempuan yang bekerja sebagai seorang PSK di kota akibat masa lalunya yang kelam.

Anggota Komisi X asal PKS Surrahman Hidayat mengaku pihaknya  menyayangkan kinerja Kemendikbud yang kembali kecolongan dalam kasus ini. Ia mendesak Kemendikbud untuk menarik Buku Pelajaran tersebut dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses penerbitan buku.
 
“Saya sangat menyesalkan kejadian ini, kenapa kasus seperti ini selalu terjadi berulang-ulang. Ini jelas tidak boleh di diamkan.  Kemendikbud harus segera perbaiki alur penerbitan buku pelajaran dengan ketat dengan pengawasan ekstra karena membahayakan bagi para siswa,” kata Surrahman dalam keterangan yang diterima Tribunnews.com, Kamis (11/7/2013).
 
Surrahman berharap pihak Kemendikbud beserta BSNP ( Badan Standar Nasional Pendidikan) dan Puskurbuk( Pusat Kurikulum Perbukuan) untuk segera berkoordinasi dan melakukan evaluasi cermat dan detail.  
 
“Hal ini agar segera diketahui di mana letak kesalahan proses, sehingga kasus seperti ini selalu terjadi berulang-ulang dan harus ada sanksi yang tegas atas keteledoran semacam itu," tutur Ketua Dewan Syariah Pusat (DSP) PKS ini.

Sebelumnya, sejumlah orang tua siswa kelas VI di beberapa sekolah dasar negeri di Kota Bogor dikejutkan munculnya buku tambahan pelajaran Bahasa Indonesia yang memuat kisah vulgar. Mereka mendesak buku itu ditarik dari peredaran.

"Pagi ini ada orang tua siswa yang melapor ke saya. Sementara ini, kami ketahui buku pelajaran pendamping itu digunakan di SDN Gunung Gede dan SDN Polisi 4," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor Fetty Qondarsyah, Rabu (10/7).

Menurut Fetty, Dinas Pendidikan Kota Bogor tidak pernah memberi rekomendasi atas buku yang dicetak pertama kali pada Maret 2013 itu. Dia juga menyesalkan peredaran buku itu untuk siswa didik tahun ajaran baru ini.

Fetty mengatakan akan memanggil kedua kepala sekolah itu serta mengeluarkan surat edaran agar tidak ada sekolah di Kota Bogor yang menggunakan buku itu.

"Kami sudah melarang pihak sekolah untuk jual-beli buku pelajaran karena buku pelajaran pokok sudah diberikan secara gratis melalui sekolah. Kalaupun pihak sekolah ingin menggunakan buku tambahan, maka harus sepengetahuan dan seleksi dari Dinas Pendidikan," ujar Fetty.

Di dalam buku itu, tepatnya di halaman 57-60 terdapat sebuah cerita dengan judul "Anak Gembala dan Induk Serigala". Cerita tersebut mengisahkan seorang pria yang masuk ke sebuah warung remang-remang lengkap dengan kisah perjalanan seksnya dengan perempuan tersebut. Dalam naskah cerita tersebut, juga terdapat kalimat-kalimat yang tidak pantas dibaca oleh anak-anak usia 11-12 tahun.

"Kalimat-kalimatnya sepintas saya baca tidak mendidik anak-anak," kata Fetty.

Salah satu kutipan naskah dalam cerita tersebut antara lain, "...Dari tempat hina di dunia ini, warung remang-remang tempat dia menjajakan badan... Jakunnya bergerak turun naik melihat kemolekan perempuan itu. Akhirnya terjadilah peristiwa yang merenggut kegadisannya, sekaligus menimbulkan tumbuhnya janin di perutnya...."

Kutipan lain dalam cerita tersebut, "Bergairahlah lelakiku. Aku ingin sekali menyempurnakan keinginanmu. Lelaki itu tersenyum lebar. Dia mengulurkan segelas minuman pada perempuan itu yang segera disambut dan dituntaskan dalam satu tegukan. Mereka tenggelam dalam pelukan dan ciuman."

Buku pelajaran Bahasa Indonesia itu dibeli orang tua murid seharga Rp 31.500 dari salah satu toko yang sudah direkomendasikan pihak sekolah. Buku itu kini sudah beredar dan dimiliki oleh murid-murid SD di Kota Bogor.

Baca Juga:

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.