Bulan Bahasa dan pendidikan kita

Saat bangsa ini merayakan Bulan Bahasa, terkait sejarah Sumpah Pemuda, ternyata masih ada segelintir kaum muda yang tidak ingat momen heroik yang terjadi pada 28 Oktober 1928 itu.

Kisahnya begini, ketika di warung kopi, di depan sebuah kampus, sejumlah mahasiswa asyik dengan gadget, spontan kutanya, "Bulan apa ini?" Dua orang mahasiswa menjawab nyaris bersamaan, "Oktober."
"Lha iya, bulan apa?"

Tanpa dosa mereka melongo, "Maksudnya?" Kujawab dengan gemas, "Bulan Bahasa kan?"

"Bulan Bahasa?" sergah salah seorang di antara tujuh mahasiswa dengan pandangan sinis, "Untuk apa Bulan Bahasa?"

Tentu, realitas pengetahuan mahasiswa di atas tidak menggambarkan fakta keseluruhan dari kaum muda banga kita tentang Bulan Bahasa.

Saya sempat ingin marah, tetapi spontan ingat jargon pendidikan mutakhir, "Pendidikan ramah anak." Bagaimana mereka mengenal sejarah di balik Bulan Bahasa jika ingat pun tidak, bahkan bertanya dengan nada "kritis" begitu. Saya tidak tahu, jangan-jangan ini produk dunia pendidikan lima tahun terakhir?

Saya teringat, jargon filosofis dari Ki Hadjar Dewantara yang nyaris lenyap ditelan oleh kelatahan "falsafah" pendidikan mutakhir yang tanpa akar. Padahal ada pesan penting yang menarik dipikirkan dalam pembudayaan Bulan Bahasa dalam falsafah Ki Hajar.

Ajaran adiluhung macam "Jer Basuki Mowo Bea, Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karso" seakan lenyap tergulung ragam "ideologi" baru yang abstrak.

Pendidikan nasional jangan sampai kehilangan kesederhanaan dan habituasinya, sebagai dasar kuat agar pendidikan tidak disepelekan. Kesederhaan itu termakan sejumlah abstraksi pendidikan mutakhir yang lebih menyerupai jargon politik. Untuk apa? Bagi saya, ini bisa menghancurkan generasi, yang tak "gila" sejarah, yang tak mau tahu masa lalu kelahiran bangsa.

Bahasa Indonesia (BI) secara historis adalah alat juang pemuda kala itu, terikat satu filosofi, begitulah pemuda dahulu memimpikan Indonesia melalui eksistensi BI. Kongres pemuda 1926 dan 1928 adalah bukti otentiknya.

Generasi milenial kini cenderung latah mendulang tanpa daras informasi, tanpa nalar tetapi langsung forward, atau copy paste. Generasi tanpa nalar, generasi buih, sebagaimana ironi yang tersinggung di awal tulisan, "Bulan Bahasa? Untuk apa ada Bulan Bahasa?" Generasi tanpa kecerdasan literasi hanyalah gundukan sampah, objek empuk zaman kapitalisme.


Mengakarkan Bulan Bahasa

Agar Bulan Bahasa (yang di dalamnya termasuk sastra) tumbuh segar selaksa pohon yang rimbun dan memiliki manfaat guna bagi generasi mutakhir, maka hal-hal berikut menarik direnungkan.

Pertama, penting membangun ulang akan eksistensi Bulan Bahasa di dunia pendidikan.

Kunci sukses pendidikan adalah kecakapan berbahasa dan berpikir. Jika BI sebagai alat keilmuan direndahkan, dipandang kalah kelas dengan bahasa Inggris, misalnya, sungguh ini menyesatkan. Sama artinya dengan merendahkan bangsa dan negara.

Eksistensi BI dalam perwujudan eksistensinya membutuhkan keterlibatan semua pihak. Jika para tokoh pergerakan dan perjuangan kemerdekaan di masa lalu berandil besar terwujudnya kesatuan berbahasa Indonesia, maka kini peran tokoh, pejabat, dan birokrat kebangsaan penting ikut menjaganya. Bukan sekadar tanggung jawab dunia pendidikan, apalagi dibebankan tanggung jawab itu pada jurusan bahasa Indonesia.

Kedua, perlunya kesadaran kolektif bahwa Bulan Bahasa terkandung pesan historis akan kiprah pemuda 1928. Dengan kesadaran kolektif tentang makna historis yang esensial, maka akan mengulik kesadaran generasi mutakhir tersadarkan dan mau terlibat langsung mengawalnya. Jika kesadaran historis hilang, sama artinya dengan kehilangan nasionalisme berbangsa. Akar historis Bulan Bahasa sesungguhnya simbol nasionalisme, alat persatuan, dan alat perjuangan. Tokoh pemuda Muh Yamin sebagai sekretaris pelaksana Sumpah Pemuda berperan penting di samping sejumlah pemuda dari berbagai suku bangsa di Indonesia.

Pendidikan kita hilang kesabaran (bahkan kesadaran) bahwa pendidikan itu wajib menyejarah dan berproses panjang. Pendidikan itu memandirikan, bukan mengabdi pada kapitalisme. Jargon siap kerja, siap pakai, dan matching dengan industri mestinya hanya salah satu sisi dari tujuan pendidikan. Bukan yang utama. Bisa jadi, pelajar dan mahasiswa, kehilangan makna kesadaran di balik Bulan Bahasa yang heroik dan filosofis.

Jika tinggal merawat eksistensi historis sumpah pemuda melalui bulan bahasa saja tidak menyadarkan generasi, bisa jadi Muh Yamin dkk jika mengetahuinya akan menangis. Melihat betapa rapuhnya mental, etos, nasionalisme, dan spiritualitas generasi pengisi kemerdekaan. Tinggal mengisi kemerdekaan saja dengan mencintai BI dengan sepenuh jiwa dan rasa saja tidak bisa.

Ketiga, pentingnya penciptaan iklim kampus atau sekolah yang peduli Bulan Bahasa. Di jelang datangnya Bulan Bahasa, kampus atau sekolah mestinya bisa menciptakan sejumlah kegiatan cinta bahasa dan sastra. Kegiatan macam pameran karya sastra terdidik dan pendidik, kajian historis di balik Bulan Bahasa, hingga bagaimana lomba berbahasa yang baik dan benar. Harapannya, kecintaan pada BI berlipat karena akar historis dan perjuangan yang lindap di dalamnya.

Jika tidak, pohon generasi milineal kita hanya sebagai generasi plastik, generasi mi instan. Ibarat pohon tumbuh di atas air. Rapuh. Bukan generasi berakar kuat yang tumbuh di atas tanah subur sejarah juang, yang akarnya menjalar dan menghunjam dalam. Menukik dalam seperti pohon beringin.

Jika bulan Bahasa saja tidak tahu sebagaimana disinggung di awal tulisan, mereka hanya akan menjadi generasi pohon-pohon perdu yang rendah dan mudah goyah terarus air hujan, mudah rapuh oleh terpaan angin zaman. Mencintai bahasa (sastra) dengan demikian adalah belajar nasionalisme itu sendiri, sehingga lahir generasi beretos tinggi, pejuang, pantang menyerah, dan berkontribusi pada bangsa dan negerinya.

Keempat, jiwa Bulan Bahasa yang menyatu di nurani para dosen dan guru. Salah satu ironi adalah realita guru dan dosen sendiri, yang seringkali tak paham substansi mengapa Bulan Bahasa ada.

Untuk itu, agar jiwa Bulan Bahasa menyatu pada diri guru dan dosen, maka mereka penting selalu mengulik jejak historisnya, makna kesadarannya, hingga pesan cinta Tanah Air yang berurat berakar. Kegiatan produksi dan resepsi bahasa dan sastra berbasiskan keteladanan guru dan dosen akan menjadi habituasi yang masif dan menggerakkan.

Kelima, ada kegiatan kreatif dan inovatif berbasis bahasa dan sastra di Bulan Bahasa. Setelah kegiatan bahasa dan sastra yang kreatif berbasis kelas, yang inspirator utamanya pendidik, maka gerakan demikian bisa disinergikan secara kultural kelembagaan. Sekolah dan kampus penting menyediakan anggaran cinta bangsa, via cinta Bulan Bahasa.

Pameran karya siswa (mahasiswa) dan guru (dosen) selama sebulan penuh di lingkungan sekolah atau kampus, misalnya, akan memiliki daya lesap yang latin pada bawah sadar terdidik. Di berbagai tempat strategis bisa dipajang aforisme cinta bahasa dan sastra, yang menyentuh dan menyadarkan. Aforisme kekaryaan para sastrawan, misalnya, penting dikomunikasikan secara tak henti. Jika perlu, tak sekadar di Bulan Bahasa. Contoh pajangan itu, misalnya, "Cinta bahasa itu tamasya kesadaran di balik jejak para pejuang bangsa", "Ciri manusia itu menulis dan membaca, jika tidak, bukanlah manusia."

Keenam, pentingnya gerakan cinta bahasa dan sastra sepanjang masa, yang berangkat dan berhenti di Bulan Bahasa. Terlebih di era digital, semua kegiatan kreatif bisa disemarakkan di puncak Bulan Bahasa. Selanjutnya, di bulan-bulan kemudian tinggal mengulik-ulik ulang.

Jangan sampai zaman digital justru menjebak generasi mutakhir akan sihir kemudahan tanpa diiringi mentalitas kuat sebagaimana aktor Sumpah Pemuda 1928. Jangan sampai pemuda kekinian seperti buih yang terombang-ambing oleh samudera, terapung-apung gelombang dan angin karena kegagalannya mengulik spiritualitas kesadaran dan gerak di balik Bulan Bahasa.


Akhirnya

Dengan menyadari Bulan Bahasa sebagai simbol sejarah pergerakan dan perjuangan pemuda, maka siapa pun kita rasanya wajib untuk terus mengulik-ulik hikmah kesadaran akan persatuan bangsa. Jika di zaman itu belum lahir Pancasila, maka sesungguhnya satu-satunya simbol dinamo gerak di balik Sumpah Pemuda adalsh, "Bertanah Air Satu, Berbangsa Satu, dan Berbahasa Satu, Indonesia."

Jika para pemuda kala pergerakan dan perjuangan kemerdekaan saja di bawah tekanan penjajah mampu menggelorakan kesadaran kesatuan bahasa dalam berbagai aktivitasnya macam gerilya pikiran dan atur strategi politik organisasi, maka apa yang bisa kita perbuat sekarang?

Mereka mampu berbahasa yang tajam, bernas, baik pidato, diplomasi organisasi, sampai pada estetika karya sastra juang yang dihasilkan. Sebuah kesadaran juang yang mendalam. Sebuah nasionalisme berbangsa dan bernegara melalui cerdas berbahasa.

*) Dr. Sutejo, M.Hum adalah budayawan, dosen STKIP PGRI Ponorogo, alumni S3 Unesa Surabaya.