Bulan Bung Karno, PDIP Instruksikan Kader Serentak Turun ke Desa

·Bacaan 2 menit

VIVA – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan telah mengambil tema besar terkait peringatan Bulan Bung Karno di bulan Juni tahun ini. Sikap itu ditunjukkan dengan menginstruksikkan kader mereka untuk turun secara serentak ke desa.

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, mengungkapkan upaya itu sekaligus menunjukkan diri jati diri partai bahwa selama ini partainya adalah organisasi yang bertumpu pada akar rumput, melekat identitas dengan Wong Cilik dan sebagai partai massa. Maka selama ini pun banyak kader partai juga menyebut dirinya kader desa.

"Selama Bulan Bung Karno yang dimulai dari peringatan hari lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni, lahirnya Bung Karno pada tanggal 6 Juni, dan wafatnya Bung Karno pada tanggal 21 Juni, partai memfokuskan diri dengan hadir di desa, membangun spirit kemajuan dari desa dan mengembangkan desa sebagai taman sari peradaban nusantara," kata Hasto dalam keterangannya yang diterima VIVA, Senin 31 Mei 2021.

Dengan hadir di desa, maka kader diminta bergumul dengan persoalan rakyat sehari-hari. Instruksi itu memang kerap kali disampaikan dalam setiap kali kesempatan. Agar kegiatan partai tidak melulu mengejar politik elektoral yang dilakukan jelang Pemilu digelar. Kata Hasto, politik elektoral berbasis populartas bukan lah karakter partai berlogo banteng.

Hasto menegaskan, kader di seluruh Indonesia sering diingatkan agar turun ke bawah menyapa masyarakat. Dan pada Bulan Bung Karno dengan tema besar 'Bhinneka Tunggal Ika, Gotong Royong untuk Rakyat, Desa Maju, Indonesia Kuat dan Berdaulat' kegiatan turun ke desa makin diperkuat.

"Aspek elektoral sering dimanipulasi oleh pencitraan. PDI Perjuangan membangun elektoral dengan basis kebudayaan, dengan basis kekuatan riil di akar rumput dan dengan merasakan seluruh napas keseharian rakyat guna menampilkan seluruh watak kekuasaan yang membumi," ujarnya.

"Kita diajarkan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri tentang jati diri dan watak politik yang sebenarnya, yakni politik yang berbicara tentang keseharian rakyat, seperti politik yang memastikan ketersediaan pangan dengan harga terjangkau, politik tentang pentingnya kebersihan lingkungan hidup, politik menanam (tanaman), politik yang membangun kesiapsiagaan rakyat terhadap bencana, politik yang membahas asupan gizi rakyat, politik kuliner, pariwisata, politik pendidikan, dan pendeknya watak politik yang menyentuh seluruh aspek kehidupan rakyat," sambung politisi asal Yogyakarta itu ketika menyerap pesan-pesan Megawati selama ini.

Dari desa lah, kata Hasto, PDIP terus menggali eskpresi kehidupan masyarakat di tingkat paling bawah tersebut. Mereka jauh dari perkotaan, justru hidup dengan semangat kebinekaan, saling gotong royong, toleransi, ikut menjaga kelestarian alam dan tentunya memegang penuh prinsip berdikari.

Maka Bulan Bung Karno juga mengeskpresikan kebudayaan rakyat yang sesungguhnya dari desa seperti budaya lesung, kuliner, seni bahkan hingga permainan anak.