Bule Panjat Pohon Sakral Terulang, Pemkab Bali Gencarkan Sosialisasi Tempat Suci

Merdeka.com - Merdeka.com - Wakil Bupati Tabanan, I Made Edi Wirawan merespons peristiwa Warga Negara Asing (WNA) asal Australia bernama Samuel Lockton yang memanjat pohon sakral di kawasan Pura Dalem Prajapati Desa Adat Kelaci Kelod, Banjar Dakdakan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali.

Dia mengatakan, kejadian seperti itu sudah terjadi dua kali di kawasan Kabupaten Tabanan, Bali. Kejadian pertama dilakukan Alina Fazleeva yang berpose telanjang di sebuah kayu putih di Tabanan.

"Kita sudah dua kali kejadian di Tabanan seperti itu, kita akan mulai di tempat-tempat suci kita, melakukan sebuah peringatan yang mana boleh yang mana tidak. Karena, yang namanya tamu asing itu tidak paham tentang kebudayaan kita," kata dia saat ditemui di Pesta Kesenian Bali (PKB) ke 44, di Denpasar, Bali, Minggu (12/6).

"Tentunya, kita yang mulai membuat sebuah aturan dan peringatan-peringatan terhadap tempat-tempat suci, mungkin itu yang kita prioritaskan dan lakukan di Tabanan dan Bali pada umumnya," imbuhnya.

Dia juga menyebutkan, bahwa nantinya akan disosialisasikan dresta atau tata krama bagi wisatawan yang berkunjung ke wilayah suci di Kabupaten Tabanan. Selain itu, juga akan mensosialisasikan kepada konsulat-konsulat yang ada di Bali.

"Nanti, dari (Pemerintah) Provinsi yang akan menertibkan dan memberitahu konsulat mereka semua, kita mendorong itu di Tabanan. Dengan kejadian awal tamu telanjang di pohon kita sudah berikan sosialisasi ke Desa Adat, baik Banjar Adat, Desa Adat, semua isi tulisan-tulisan yang tidak boleh dilakukan, bukan wisatawan saja, kita orang Hindu harus menjaga itu juga," jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Majelis Desa Adat (MDA) di Tabanan, dan juga terus melakukan pengawasan di setiap tempat-tempat suci di Tabanan.

"Itu, kebetulan saja ada wisatawan yang tampil beda, dikiranya pohon itu sama dengan pohon yang lain. Pengawasan sudah kita lakukan, tapi ini kembali seperti tadi tidak setiap hari kita bisa awasi setiap tempat-tempat suci, apalagi skup-nya lebih kecil dan di mana-mana ada," ujarnya.

Sementara, untuk papan pengumuman pihaknya mengaku sudah mulai ditempatkan di tempat-tempat suci dalam bentuk bahasa Inggris, bahasa Bali dan juga bahasa Indonesia agar antisipasi kejadian tidak terulang kembali.

Sementara, di tempat yang sama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno juga menanggapi soal peristiwa tersebut. Ke depannya, pihaknya akan lebih menggencarkan sosialisasi dan edukasi kepada para wisatawan asing yang datang ke Bali.

"Akan kita berikan sosialisasi dan edukasi yang lebih gencar lagi dan melibatkan semua pihak dan juga di Tabanan sendiri," katanya.

Dia juga menyatakan ke depannya akan ada beberapa wisata berbasis alam seperti kebun binatang dan wisata lainnya di Tabanan.

"Akan ada beberapa wisata berbasis alam seperti kebun binatang yang akan kita dorong dan wisata-wisata lain. Dan di samping itu, tentunya sosialisasi dan edukasi, di mana keluhuran dan kelestarian adat istiadat dan budaya kita berikan prioritas. Kita jaga keluhuran dan dengan adanya Pesta Kesenian Bali ini mudah-mudahan tersosialisasi dan tereduksi dengan baik," ujarnya.

Kasus Warga Negara Asing (WNA) yang memanjat pohon sakral kembali terjadi di Kabupaten Tabanan, Bali. Kali ini, dilakukan oleh seorang pria Warga Negara Asing (WNA) asal Australia bernama Samuel Lockton dan video bule itu juga terekam kamera dan viral di media sosial.

Bule tersebut, memanjat pohon beringin yang disakralkan di kawasan pura tepatnya di setra atau kuburan Desa Adat Kelaci Kelod, Banjar Dakdakan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, pada Sabtu (11/6) sekitar pukul 15.00 Wita.

"Yang bersangkutan, tidak tahu daerah tersebut adalah areal sakral bagi umat Hindu dan yang bersangkutan memang mempunyai hobi memanjat pohon untuk menikmati keindahan alam," kata Kapolres Tabanan AKBP Ranefli Dian Candra saat dikonfirmasi, Minggu (12/6).

Kronologinya, saat itu sekitar pukul 16.00 Wita, warga setempat menemukan bule tersebut memanjat Pohon Beringin. Waktu berada di atas pohon bule itu memfoto dan mendokumentasikan situasi di sekitar Pura Dalem Adat Klaci Kelod.

Kemudian, warga meminta bule tersebut untuk turun karena pohon yang dipanjat dekat Pura Dalem Prajapati disakralkan. Saat diinterogasi, dia mengaku mempunyai hobi memanjat pohon di negara asalnya dan sering memanjat pohon tinggi untuk menikmati keindahan alam dari atas.

"Alasannya dia, ingin memperlihatkan kepada orang orang yang ada di negaranya bahwa di Bali masih banyak ada pohon pohon besar tinggi dan indah. Yang bersangkutan, pada saat itu dalam keadaan sadar tidak dalam pengaruh minuman berakohol hanya saja sangat mencintai keindahan alam terutama terhadap pohon pohon besar," imbuhnya.

Sebagai sanksinya, pihak Desa Adat Kelaci Kelod membebani bule itu untuk biaya upacara pembersihan atau prasita guna menghilangkan leteh atau kotor tempat tersebut sebesar Rp500 ribu.

"Di mana saat itu, yang bersangkutan hanya membawa uang Rp150 ribu dan akan datang kembali ke Adat Klaci Kelod untuk melunasi sisa dari denda tersebut, serta yang bersangkutan sudah meminta maaf kepada kepada Tokoh Adat Kelaci," jelasnya. [rnd]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel