Bulog pastikan Harga Beras dan Gula Stabil Meski Impor Tersendat

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso (Buwas) memastikan stabilisasi harga bahan pokok beras dan gula melalui operasi pasar yang dilaksanakan di seluruh Indonesia berjalan lancar. Sebelumnya sempat mengalami keterlambatan izin impor gula dari Kementerian Perdagangan yang bisa menghambat program pemerintah soal pangan pokok.

Buwas mengatakan, berdasarkan pantauan yang terus-menerus di tengah situasi perang mengatasi penyebaran Corona, harga beras sudah kembali normal sejak awal kemunculan wabah ini pada awal Maret lalu.

"Sedangkan harga gula mulai terasa normal sejak Bulog melakukan operasi pasar khusus gula secara serentak ditanah air sejak awal Mei 2020," kata Budi Waseso, dalam keterangan tertulis, Kamis (21/5/2020).

Selain melakukan distribusi yang cepat dari gudang-gudang Bulog agar kebutuhan beras terpenuhi, perusahaan plat merah ini juga menjamin kecukupan pangan pokok bisa bertahan hingga akhir tahun dengan stok beras yang dikuasai Bulog sebesar 1,4 juta ton, tersebar merata di seluruh Indonesia.

Namun berbeda halnya dengan stok gula yang mulai langka menjelang akhir tahun. Sebagai antisipasinya, sejak November 2019 Bulogsudah mengajukan ijin impor namun baru diberikan Kementerian Perdagangan pada tanggal 7 April 2020.

Sebagai informasi, harga beras kini berkisar di harga Rp 11.750 - 12.000,- per kilogram, sedangkan harga gula di pasaran ditetapkan sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET- ketetapan pemerintah) senilai Rp 12.500 per kilogram. Bulog sendiri menjualnya seharga Rp 11.900,- per kilogram.

 

Impor

Pekerja tengah menata gula pasir di Gudang Bulog Jakarta, Selasa (14/2). Kemendag menyatakan, penetapan harga eceran tertinggi (HET) gula kristal putih sebesar Rp12.500 per kilogram akan dilakukan pada bulan Maret 2017. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, pada 5 Mei lalu Perum Bulog telah menggelontorkan sedikitnya 22.000 ton gula yang baru datang dari India dan langsung didistribusikan ke seluruh Indonesia guna menjamin stabilisasi harga dan ketersediaan stok gula di masyarakat.

Impor gula tersebut, kata Budi, baru sebagian dari ijin impor yang diberikan Kementerian Perdagangan dari total permintaan sebanyak 50.000 ton.

"Sejak awal kami sudah mengantisipasi kelangkaan gula dan minta kuota impor gula pada akhir 2019, namun ijin impor Bulog baru diberikan pada 7 April 2020 sehingga menyebabkan suplai gula terlambat kata Mantan Kabareskrim itu," bebernya.

Sebagaimana diketahui bahwa harga gula pasir di tingkat konsumen sejak menjelang bulan Ramadhan melonjak hingga Rp 20.000 per kilogram sehingga perlu intervensi yang masif dari pemerintah. Dengan stok yang dikuasai, Perum Bulog sangat optimis dapat menekan harga gula kembali ke HET Rp 12.500 per kilogram.