Bulutangkis Indonesia Buta Kekuatan China di Olimpiade Tokyo

·Bacaan 2 menit

VIVA – Tidak mudah bagi 11 atlet Indonesia yang akan bertarung di Olimpiade Tokyo untuk melakukan persiapan. Mereka minim pertandingan level internasional yang berguna untuk mengasah kemampuan karena merebaknya pandemi COVID-19 di seluruh dunia.

Kepala Bidang Peningkatan Prestasi (Kabid Binpres) PP PBSI, Rionny Mainaky mengatakan, upaya semaksimal mungkin sudah dilakukan oleh jajaran pelatih untuk mempersiapkan para atlet. Ada sisa waktu 10 hari lagi untuk para pemain berlatih lanjutan di Makumoto, Jepang.

Waktu itu akan dimaksimalkan sebaik mungkin oleh pelatih untuk persiapan lebih lanjut. Tapi, yang utama menurut dia adalah penerapan protokol kesehatan yang ketat agar semuanya aman untuk bertanding.

"Persiapan tim memang tidak mudah karena akhir ini COVID-19 melonjak. Tapi puji syukur di setiap sektor, para pelatih sudah pengalaman dan persiapkan pemain dengan maksimal. Saya harap ketika sudah sampai di Jepang kita bisa lebih maksimal, termasuk dalam penerapan protokol kesehatan," kata Rionny dalam konferensi pers virtual, Rabu 7 Juli 2021.

Yang jadi penghambat persiapan adalah banyaknya pembatalan kejuaraan yang sudah diagendakan oleh Federasi Bulutangkis Dunia (BWF). Ini bukan cuma bermasalah dari segi persiapan teknis ke masing-masing atlet, tapi juga minim pengetahuan mengenai kekuatan lawan.

"Sudah lama kita tidak ada bertanding, jadi lawan juga kekuatannya sampai di mana tidak tahu. Tapi tetap kami memantau, meski video lama," imbuh Rionny.

Pelatih ganda putra Indonesia, Herry Iman Pierngadi menganggap Olimpiade Tokyo kali ini suasananya berbeda sekali. Bisa dibilang sangat unik. Musuh yang dihadapi anak asuhnya bukan cuma lawan, tapi juga diri sendiri.

Bagaimana Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dituntut untuk bisa menjaga diri dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Belum lagi persiapan yang tak bisa maksimal, serta kekuatan lawan yang tidak diketahui perkembangannya.

"Menurut saya, event sebesar ini, semua tim juga persiapannya semaksimal mungkin. Tapi kali ini lain sekali, jadi musuhnya banyak. Jaga diri sendiri, bertanding, dan ketemu lawan. Unik juga kali ini buat kami," tutur Herry.

"Memang dialami semua tim. Jadi kalau tim mana yang diwaspadai, menurut saya kita semua 0-0. Kevin/Marcus dan Ahsan/Hendra terakhir main di All England, setelah itu tidak ada pertandingan sama sekali," tambahnya.

Saingan berat Indonesia dalam perebutan medali di sektor ganda putra adalah China, Li Jinhui/Liu Yuchen. Herry mengatakan, kontingen Negeri Tirai Bambu sudah satu setengah tahun absen dalam turnamen internasional. Perubahan dalam tim mereka sama sekali tidak diketahui.

Belum lagi ada pasangan dari Taiwan, Lee Yang/Wang Chi-lin yang dalam tiga turnamen terakhir, Thailand Open I dan II serta BWF World Tour Finals berhasil menjadi juara. Mereka akan jadi ancaman ganda putra Indonesia dalam perburuan medali Olimpiade Tokyo.

"China, satu setengah tahun belum bertanding. Kita tidak tahu kekuatan sesungguhnya musuh. Belum lagi ada pemain dari Taiwan. Kita harus perhatikan satu per satu," Herry

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel