BUMN "go global", perpaduan sinergi dan restrukturisasi

Ahmad Buchori
·Bacaan 7 menit

Mendengarkan kata “BUMN Indonesia” mungkin yang muncul dalam benak seseorang adalah BUMN itu identik dengan perusahaan yang tidak efisien, merugi, monopoli, ajang korupsi, hingga ajang intervensi politik.

Bisa jadi, penilaian tersebutlah yang membuat anggapan bahwa peran BUMN sebagai agen pembangunan masih belum maksimal.

Namun, anggapan itu tidak sepenuhnya benar, karena masih banyak BUMN yang memiliki kinerja kinclong dan mampu berkontribusi besar terhadap APBN.

Menurut data, total kebutuhan anggaran untuk pembangunan infrastruktur periode 2019-2024 diperkirakan mencapai Rp6.445 triliun. Sebesar 21 persen di antaranya merupakan kontribusi BUMN.

Pada akhir 2019 total aset BUMN mencapai sekitar Rp8.400 triliun setara dengan 56,6 persen PDB Indonesia, total pendapatan sekitar Rp2.400 triliun. Laba bersih sekitar Rp180 triliun, sementara setoran dividen dan pajak sekitar Rp261 triliun.

Dengan besaran kontribusi terhadap APBN itu, maka BUMN sangat pantas disebut sebagai agen pembangunan yang menjadi pilar ekonomi nasional.

Saat ini, BUMN berjumlah 107 perusahaan yang bergerak pada 12 sektor yaitu industri energi, minyak dan gas, industri mineral dan batubara, jasa asuransi dan dana pensiun, perkebunan dan kehutanan, jasa telekomunikasi dan media.

Selanjutnya, industri pangan dan pupuk, jasa pariwisata dan pendukung, industri kesehatan, industri manufaktur, jasa infrastruktur, jasa logistik dan jasa keuangan.

Presiden Joko Widodo pada beberapa kesempatan selalu mengultimatum agar BUMN terus bergerak memperbaiki kinerjanya. Arahan itu tegas, agar BUMN bergerak lincah, memiliki daya saing dan daya cipta yang tinggi.

Saat mengumumkan Kabinet Indonesia Maju pada 23 Oktober 2019, Jokowi menunjuk pengusaha nasional Erick Thohir sebagai Menteri BUMN.

Tidak ingin kehilangan momentum, sejak awal Erick langsung menargetkan kinerja BUMN naik dua kali lipat pada 2024, terutama laba yang diproyeksikan mencapai sekitar Rp300 triliun.

Untuk mencapai target tersebut, Erick menyiapkan lima prioritas Kementerian BUMN, yakni nilai ekonomi dan sosial untuk Indonesia, inovasi model bisnis, kepemimpinan teknologi, peningkatan investasi, dan pengembangan talenta.

Paling terbaru, Erick meluncurkan semacam semboyan AKHLAK yang merupakan nilai inti BUMN yaitu Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat karena BUMN merupakan perpanjangan tangan negara sebagai agen pembangunan dan juga pengelola kekayaan negara.

Semua karyawan BUMN dituntut memiliki kompetensi untuk selalu meningkatkan kapabilitas, kemudian harmonis yang kunci keserasian dalam bekerja sama, saling peduli, dan menghargai perbedaan. Selanjutnya, loyalitas yang harus mengutamakan kepentingan bangsa, adaptif dengan cara terus berinovasi serva kolaboratif, yang mendorong peningkatan sinergitas seluruh pihak.

Meskipun membutuhkan waktu, namun AKHLAK tersebut bisa merupakan peletakan pondasi yang penting untuk melakukan transformasi dan mengubah budaya korporasi di BUMN.

Go global

Di satu sisi banyak pihak yang meragukan kemampuan BUMN, namun di sisi lain beberapa perusahaan “plat merah” itu memiliki kinerja yang cukup baik, bahkan disandingkan dengan perusahaan kelas internasional.

Seakan tidak ingin disebut “jago kandang”, sejumlah BUMN terus melakukan ekspansi dengan melebarkan sayap ke luar negeri.

Saat ini setidaknya 17 BUMN telah beroperasi di luar negeri, dengan 83 kantor cabang yang tersebar di 26 negara.

Tidak hanya di Asia Tenggara, ekspansi BUMN juga merambah ke Asia, Timur Tengah, Afrika dan bahkan di Eropa.

Menurut data Kementerian BUMN, Bank BNI saat ini memiliki kantor di 6 negara, Bank BRI di 3 negara, Bank Mandiri di 4 negara, Pertamina 9 negara, Telkom Indonesia di 9 negara, Garuda Indonesia di 6 negara, Wijaya Karya di 6 negara, Sucofindo di 6 negara, Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) di 4 negara, MIND ID di 2 negara, PLN di Belanda, Kimia Farma di Saudi Arabia, Asuransi Jasindo di Malaysia, dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Amerika Serikat (AS).

Dari sisi sektoral, BUMN yang mengepakkan sayap bisnis di kancah dunia itu sangat beragam, seperti sektor perbankan, pertambangan, telekomunikasi, konstruksi, migas, industri kereta api, semen, hingga sektor farmasi.

WIKA banyak menggarap proyek konstruksi di Afrika seperti Senegal, Niger, dan Aljazair. Di Senegal, WIKA membangun gedung perkantoran 33 lantai, Goree Tower.

Perusahaan juga merenovasi istana presiden di Niger, membangun rumah subsidi di Aljazair sebanyak 150 tower apartemen dengan kapasitas 4.000 unit tempat tinggal. WIKA juga membangun bandara internasional di Timor Leste, dan ikut bagian dalam proyek MRT di Taiwan.

PT Pertamina (Persero) juga cukup aktif ekspansi bisnis mencari cadangan migas di luar negeri lewat anak usaha, Pertamina Internasional EP (PIEP).

Saat ini, Pertamina mengelola aset migas di 12 negara, yaitu Aljazair, Malaysia, Irak, Kanada, Prancis, Italia, Namibia, Tanzania, Gabon, Nigeria, Colombia dan Angola.

Perum Percetakan Uang RI (Peruri), memiliki sejarah panjang bisnis di luar negeri dengan mencetak mata uang antara lain Thailand, Filipina, Malaysia, Bangladesh, serta Nepal. Perum Peruri juga mencetak paspor, kartu pintar, prangko, dan dokumen-dokumen penting lainnya.

PT Industri Kereta Api (INKA) Persero, perusahaan yang bermarkas di Madiun, Jawa Timur sudah sejak lama menjadi pemasok gerbong ke sejumlah negara.

Pada 2020 INKA memenangkan tender pengadaan lebih dari 1.050 gerbong kereta api di Bangladesh. Pada 2019, sebelumnya juga memenangkan tender pengadaan 250 kereta api di Bangladesh. INKA terus ekspansi membidik pasar di negara Afrika dan Asia Tenggara.

Di sektor farmasi, PT Kimia Farma (Persero) Tbk juga melebarkan sayap ke Arab Saudi lewat anak usaha, Kimia Farma Dawaa. Di sana, Kimia Farma memiliki 19 apotek yang tersebar di Mekkah, Madinah, Jeddah, dan Thaif. Ekspansi apotek Kimia Farma di Arab Saudi untuk membidik pasar para peziarah, baik haji dan umrah, selain juga warga lokal.

Sedangkan PT Telkom Indonesia Tbk sejak 2013 memiliki cucu usaha Telkomcel, di Timor Leste. Demikian juga dengan Semen Indonesia yang telah berjaya di Vietnam, dan kini terus berusaha masuk Myanmar, Laos dan Kamboja.

Saat ini, di tengah pandemi COVID-19 ini peran BUMN sangat jelas dirasakan, terutama terkait dengan pengadaan vaksin global.

Menteri BUMN Erick Thohir bersama Menlu Retno Marsudi melakukan kunjungan kerja ke sejumlah negara seperti China, Inggris dan Swiss.

Di Inggris, berhasil menggaet Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) untuk melakukan kerja sama dengan PT Bio Farma (Persero) dalam pengembangan vaksin COVID-19. CEPI menempatkan Bio Farma dalam kategori perusahaan farmasi yang kompeten di dunia dalam pengembangan vaksin COVID-19.

Tak hanya bisnis di sektor kesehatan, perwakilan Indonesia dan Inggris sepakat untuk memperkuat kerja sama bisnis di sektor lainnya. Di antaranya, health tourism, meningkatkan industri pendidikan khususnya di bidang hospitality, bidang energi terbarukan, serta industri pertahanan.

Restrukturisasi

Untuk meningkatkan kinerja BUMN, salah satu langkah strategis yang ditempuh Kementerian BUMN adalah melakukan restrukturisasi.

Dari 107 BUMN, setidaknya sebanyak 35 perusahaan dipersiapkan masuk dalam daftar BUMN yang direstrukturisasi untuk meningkatkan nilai perusahaan.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan restrukturisasi dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan tata kelola bisnis perusahaan milik negara.

Target tersebut dipasang setelah melewati serangkaian langkah penyehatan mulai perombakan jajaran direksi dan komisaris, hingga membentuk holding sepanjang 2020 dan dilanjutkan pada 2021.

Kebijakan restrukturisasi juga dilakukan terhadap BUMN yang memiliki ekuitas atau modal negatif, beban utang yang besar yang jatuh tempo. Langkahnya yang bisa ditempuh melalui merger, pembentukan holding, menyuntik dana melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) maupun likuidasi.

Meski begitu, Kementerian BUMN sepertinya lebih mengedepankan strategi pembentukan holding seiring dengan situasi perekonomian yang masih tersendat akibat pandemi COVID-19 berkepanjangan.

Pasalnya, saat ini hampir 90 persen perusahaan BUMN kinerjanya terdampak dari wabah pandemi.

Terbentuknya sinergi antar anak perusahaan BUMN melalui koordinasi, pengendalian, serta pengelolaan yang dilakukan oleh induk perusahaan diharapkan mampu memperkuat keuangan, aset, hingga prospek bisnis ke depan.

Sebelumnya, beberapa holding yang terbentuk, yaitu holding BUMN Perkebunan di bawah PT Perkebunan Nusantara III (Persero), holding BUMN Kehutanan di bawah Perum Perhutani, holding BUMN pupuk di bawah PT Pupuk Indonesia (Persero), holding BUMN semen di bawah PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

Di era kepemimpinan Erick Thohir, holding BUMN yang sudah dituntaskan adalah Holding BUMN Pertambangan di bawah Mining Industry Indonesia (MIND ID), holding BUMN Migas di bawah PT Pertamina (Persero), holding BUMN Farmasi di bawah PT Biofarma (Persero), holding BUMN Rumah Sakit di bawah Pertamedika IHC, holding BUMN Perasuransian dan Penjaminan di bawah Indonesia Financial Group (IFG).

Selanjutnya, PT Survei Udara Penas (Persero) ditetapkan sebagai induk dari holding BUMN pariwisata dan pendukungnya.

Pembentukan holding BUMN dipercaya dapat menjadi motor penggerak ekonomi nasional.

Membenahi BUMN bisa menjadi tugas yang harus dijalankan secara berkelanjutan untuk menghasilkan korporasi milik pemerintah yang sebat dan mampu bersaing di tingkat internasional.

Setidaknya, Kementerian BUMN saat ini sudah berusaha cepat dengan mengeluarkan kebijakan yang “out of the box”, dalam membenahi BUMN dari hulu hingga hilir.

Yang juga penting adalah bagaimana kebijakan-kebijakan tersebut dapat diimplementasikan semua jajaran korporasi melalui nilai-nilai AKHLAK.

Baca juga: Realisasi anggaran Kementerian BUMN tahun 2020 capai 97,74 persen

Baca juga: Kementerian BUMN dan Pertamedika IHC komitmen sukseskan vaksinasi

Baca juga: Erick Thohir ingin komposisi direksi BUMN 15 persen dijabat perempuan