Bunda, Ini Cara Kenali Kondisi Anak Kecanduan Gadget

Donny Adhiyasa, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Gadget atau gawai sudah menjadi salah satu barang yang kerap menemani anak dalam kesehraiannya, apalagi di tengah pandemi COVID-19 ini. Ponsel pintar yang bisa memacu kreativitas anak ini, dapat berdampak terbalik apabila diberikan secara berlebihan.

Tak dipungkiri, memahami dunia teknologi saat ini kerap diajarkan agar anak-anak bisa tumbuh sambil mengikuti perkembangan zaman. Alih-alih memahaminya, sebagian anak-anak malah kecanduan pada teknologi terbaru itu.

Kecanduan gadget pada anak menjadi salah satu dampak yang berbahaya dan tak diharapkan para orang tua. Seperti apa tanda-tanda anak kecanduan gadget? Adakah cara untuk mencegahnya? Berikut rangkumannya.

Screen time
Dipaparkan Psikolog Roslina Verauli, memperkenalkan anak di usia sebelum sekolah pada dunia digital diperbolehkan. Sebab, di dunia digital itu, terdapat beragam permainan yang juga dapat menstimulasi kemampuan anak.

Hanya saja, bermain dengan gadget merupakan komunikasi satu arah sehingga termasuk dalam bermain pasif.

"Karena kegiatan anak kan bermain. Jadi anak belajar lewat bermain, bermain pasif dn aktif, yang pasif itu dengan bermain game. 5 jam per hari untuk bermain, nah 2,5 jam pasif dan 2,5 jam aktif. Dengan melihat gadget dengan games, dia akan mengerti kode-kode internasional," kata Vera dalam acara virtual peluncuran aplikasi Cussons Kids Play, beberapa waktu lalu.

Tujuan bermain gadget
Karena bermain gadget hanya komunikasi satu arah, maka memerlukan pendampingan dengan orangtua agar bisa memberi penjelasan apabila anak salah dalam menjalankannya. Di tiap usia, pemakaian gadget juga berbeda-beda fungsi.

"Untuk bawah 2 tahun, untuk bermain saja, orangtua bisa jelaskan jika anak salah pencet sehingga standard pengetahuan anak lebih baik. Usia 3-5 tahun untuk belajar dan hiburan. Sementara usia sekolah, bertujuan untuk belajar, hiburan, dan komunikasi," paparnya

Gejala kecanduan
Bisa dilihat ketika anak bangun tidur, hal yang diingat biasanya adalah gadget. Saat mau tidur, mandi, bahkan makan, gadget juga tak pernah dilepasnya. Padahal, banyak hal lain yang seharusnya diingat anak.

"Secara fisik yang mulai menganggu seperti mata anak merah dan berair. Bahkan, gejala lain seperti tangan kaku dan anak mulai kegemukan karena lebih banyak aktivitas pasif. Padahal anak butuh bermain aktif juga," jelas Vera.

Pencegahan
Jika anak sudah mulai menunjukkan gejala kecanduan, maka orang tua harus segera mengatasi dengan cara tepat. Bukan omelan, melainkan ajakan untuk mau bermain secara aktif.

"Nggak pakai dengan cara bilang 'stop', bisa dengan ajak 'siapa yang mau nyiram tanaman bareng mama?'. Ajak dengan cara lebih semangat," jelas Vera.

Berikan juga durasi yang tepat dengan sering mengingatkan anak bahwa permainan di gadget telah selesai. Dengan begitu, anak lebih menyukai bermain secara aktif dan disiplin dalam pemakaian gadget.

"Gadget diperlukan si anak untuk belajar, mendapatkan hiburan, dan berkomunikasi. Tapi, menjadi catatan penting, orangtua harus mengontrolnya dan menjadikan teknologi bukan sebagai musuh, tetapi alat bantu yang bisa memaksimalkan kemampuan si anak, baik sistem motoriknya, emosional-sosialnya, pun potensi diri lain dari si anak," terang Vera.