Bung Karno Bersimpuh di Makam Nabi Muhammad SAW

Dian Lestari Ningsih, Rahmatsahid
·Bacaan 3 menit

VIVABung Karno punya pengalaman spiritual ketika berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Bagi Bung Karno yang pada tahun 1955 menunaikan ibadah haji, setelah Masjidil Haram, masjid nomer dua yang umat muslim di duniaingin mengunjunginya adalah Masjid Nabawi.

Mengunjungi masjid ini memang tidak wajib saat melakukan haji dan umrah, namun setiap jemaah haji dan umrah selalu menyempatkan untuk berkunjung ke sini. Apalagi di komplek masjid ini makam Rasulullah SAW bersama dua sahabatnya yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Dan pada 1955, saat Bung Karno datang ke Arab Saudi Bung Karno juga mengunjungi masjid ini. Di Madinah, bahkan rombongan Soekarno juga mendapat kehormatan untuk melakukan upacara inagurasi menandai selesainya pemugaran Masjid Rasullah Nabawi yang telah mulai sejak Raja Saud bertahta pada 1953. Kemudian, Soekarno juga berkunjung ke Makam Nabi Muhammad SAW. Tidak main-main, saat berziarah ke tokoh paling mulia ini, Bung Karno ditemi langsung oleh Raja Saudi, Saud bin Abdulaziz al Saud.

Di situlah Raja Arab Raja Saud bin Abdul Aziz terkesima dengan apa yang dilakuakn Soekarno dan bagaimana lakunya dalam memuliakan Nabi Muhammad SAW. Melepas atribut pangkat kenegaraan sebagaimana National Geographic Indonesia memberitakan, saat Raja Saud menunjukkan makam Nabi, saat itu pula Bung Karno melepaskan semua atribut-atribut dan pangkat kenegaraannya.

Raja Saudi pun keheranan dan bertanya pada Bung Karno. “Di sana hanya ada Rasulullah SAW yang memiliki pangkat yang jauh lebih tinggi dari kita, aku, dan dirimu,” jawab Bung Karno. Ketika bersiarah ke makam nabi Muhammad, Presiden Soekarno dan beberapa orang mendapat kesempatan masuk langsung ke ruangan tempat makam Rasulullah SAW.

Di situlah Bung Karno, yang memang selalu mengatakan sebagai pengagum dan cinta mati terhadap Sang Rosululloh bersimpuh dan menangis. “Lama Bung Karno berdiri mengheningkan cipta, berdoa di samping makam Nabi Muhammad. Bung Karno menangis seperti anak kecil yang menangis… keras dan lama,” tulis Mangil Martowidjojo, dalam bukunga: Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967.

Mangil adalah komandan polisi pengawal pribadi presiden yang ikut dalam rombongan ketika Bung Karno menunaikan ibadah haji pada tahun 1955. Setelah melakukan ziarah ke makam Nabi Muhammad, selanjutnya Bung Karno dan rombongan menjalankan rangkaian ibadah haji di Mekah, Arafah, dan Mina. Dan dalam aktivitasnya di Mekkah, selain ibadah haji, Bung Karno juga menerima kunjungan para pemuda Indonesia yang belajar di Mekkah.

Bung Karno memberikan amanat di depan warga Indonesia, dan berkunjung ke perkemahan jamaah haji asal Indonesia. Selama di Arab Saudi, Bung Karno oleh Raja Saud diberikan fasilitas kendaraan berupa mobil Chrysler Crown Imperial. Dan saat hendak pulang ke tanah air, mobil itu dihadiahkan oleh Raja Saud untuk Bung Karno.

Bung Karno memang ketika menunaikan ibadah haji bertepatan dengan hari Jumat yang bisa disebut sebagai Haji Akbar. Dan menurut kebiasaan, maka sandal, kain, dan apa saja yang dipakai dalam menjalankan ibadah ini selama satu minggu dipadang-pasir mendjadi milik sesorang.

“Ketika aku akan kembali ketanah-air Radja Arab Saudi mengatakan, “Presiden Sukarno, mobil Chrysler Crown Imperial ini telah tuan pakai selama berada disini. Dan sekarang saya menjerahkannja kepada tuan sebagai hadiah.” Sudah tentu aku tidak akan menentang kebiasaan ini.

Disamping itu aku memang tertarik pada kendaraan itu semenjak aku mula melihatnya,” kata Bung Karno seperti ditulis Cindy Adams dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Belakangan diketahui, mobil Chrysler tersebut termasuk salah satu korban peristiwa Cikkini, yakni pelemparan geranat dalam upaya pembunuhan terhadap Presiden Soekarno.

BACA SUMBER BLOG...