Bung Karno, Pak Harto, Muammar Qaddafi, dan Ibadah Sosial

Oleh  Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub MA


Saat berkunjung ke Rusia pada tahun 1950-an, Presiden Soekarno menyaksikan hanya ada satu masjid yang diizinkan Pemerintah Uni Soviet untuk dipakai oleh umat Islam. Namun, atas upaya Bung Karno kepada Pemerintah Uni Soviet, umat Islam di negeri beruang putih itu bisa memiliki sebuah masjid lagi di St Petersburg, yang dikenal dengan masjid biru. Sejak saat itu, Bung Karno dianggap sebagai pahlawan bagi umat Islam.

Dalam konteks ini, Bung Karno telah menjalankan dua ibadah, yakni ibadah individual dan sosial. Ibadah individual telah terputus dengan wafatnya Bung karno. Tapi, ibadah sosial akan terus berlanjut, selama masjid itu dipakai umat Islam Rusia.

Pada pembangunan Masjid Istiqlal Jakarta, Bung Karno juga punya andil besar. Beliau berupaya mencarikan dana untuk pembangunan masjid tersebut. Mungkin, tanpa dukungan Bung Karno, baik secara moral maupun material, boleh jadi Masjid Istiqlal belum terwujud. Karena itu, selagi Masjid Istiqlal dipakai oleh umat Islam, selama itu pula Bung Karno akan mendapatkan pahala sebesar pahala umat Islam yang beribadah di Masjid Istiqlal. Masjid biru dan Masjid Istiqlal menjadi contoh ibadah sosial yang telah dilakukan oleh Bung Karno.

Seperti halnya Bung Karno, Pak Harto juga punya kontribusi bagi umat Islam. Sekadar contoh Pak Harto memprakarsai berdirinya ribuan masjid yang berada dalam naungan Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila. Pak Harto juga turut andil atas pendirian Masjid At-Tin di Pondok Gede, Jakarta Timur. Selagi masid-masjid itu dipakai oleh umat Islam, selama itu pula Pak Harto akan tetap mendapatkan pahala sebesar pahala umat Islam yang menggunakan masjid-masjid tersebut.

Demikian pula dengan Muamar Qadafi, mantan pemimpin Libya. Muamar Qadafi turut membantu memberikan sumbangan dana untuk pembangunan sejumlah masjid di Indonesia. Di antaranya, masjid di Toronto, Kanada, dan Masjid Muammar Qadhafi di Sentul, Bogor. Selain itu, Qadafi juga telah mengirimkan dan menggaji sekitar 5.700 orang dai yang disebarkan ke berbagai penjuru dunia untuk menyampaikan dakwah Islam.

Selagi masjid-masjid itu digunakan oleh umat Islam dan murid-murid dari para dai yang dikirimkan itu untuk menjalankan ibadah, niscaya selama itu pula Qadafi akan tetap mendapatkan pahala sejumlah orang-orang yang beribadah itu kendati jasadnya sudah hancur dimakan tanah.

Dalam ibadah, jika ibadah sosial dan individual sama-sama hukumnya sunah, Rasulullah SAW akan memprioritaskan ibadah sosial. Karena ibadah sosial merupakan ibadah yang pahalanya jauh lebih besar dan berkelanjutan bahkan hingga hari kiamat, dibandingkan dengan ibadah individual yang manfaatnya hanya sementara. Sebuah kaidah fikih menyebutkan; "Ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual."

Karena itu, tidak mustahil ibadah-ibadah sosial yang dilakukan ketiga pemimpin itu akan mengantarkan mereka ke dalam surga. Kendati, mereka punya kesalahan di masa silam. Ini berbeda dengan mayoritas kita yang saat ini lebih banyak mementingkan ibadah individual ketimbang ibadah sosial.

 

Tulisan ini dibuat di Republika cetak dengan judul Ibadah Sosial

 

_____________________________________________________

 Anda ingin BERSEDEKAH pengetahuan dan kebaikan? Mari berbagi hikmah dengan pembaca Republika Online. Kirim naskah Anda melalui hikmah@rol.republika.co.id.  Rubrik ini adalah forum dari dan untuk sidang pembaca sekalian, tidak disediakan imbalan.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.