Buntut Krisis Evergrande, Karyawan Diminta Beri Pinjaman demi Sokong Operasional

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Evergrande, raksasa properti China yang tengah alami krisis memaksa karyawannya untuk memberi pinjaman pada perusahaan. Karyawan diberitahu agar masing-masing menginvestasikan sejumlah uang dalam produk Evergrande Wealth. Jika mereka gagal melakukannya, gaji kinerja dan bonus mereka akan dikurangi.

Sekitar 70 hingga 80 persen karyawan Evergrande di seluruh China diminta untuk memberikan uang untuk membantu mendanai operasi Evergrande.

Beberapa pekerja menghubungi teman dan keluarga mereka untuk meminjamkan uang kepada perusahaan. Ada pula yang meminjam dari bank. Namun, bulan ini, Evergrande tiba-tiba berhenti membayar pinjaman dari karyawan tersebut.

Ratusan karyawan telah bergabung dengan pembeli rumah yang panik kemudian berkumpul di luar kantor perusahaan di seluruh China untuk menuntut uang mereka kembali. Karena Beijing dinilai tetap relatif tenang tentang masa depan perusahaan, mereka yang berhutang uang mengatakan mereka semakin tidak sabar.

“Tidak ada banyak waktu tersisa bagi kami,” kata Jin Cheng, seorang karyawan berusia 28 tahun di kota timur Hefei.

Ia mengaku telah memasukkan USD 62 ribu atau sekitar Rp 883,10 juta (asumsi kurs Rp 14.243 per dolar AS) dari uangnya sendiri ke Evergrande Wealth, cabang investasi perusahaan.

Saat desas-desus menyebar melalui internet Tiongkok Evergrande mungkin akan bangkrut bulan ini, Jin dan beberapa rekannya berkumpul di depan kantor pemerintah provinsi untuk menekan pihak berwenang agar turun tangan.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Real Estate Dapat Sorotan Pemerintah China

Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Jin mengatakan, karyawan di Fangchebao, platform online Evergrande untuk penjualan real estat dan mobil, diberitahu setiap departemen harus investasi bulanan ke Evergrande Wealth.

Dilansir dari New York Times, Rabu (22/9/2021), Evergrande menjadi pengembang terbesar di China selama dua dekade. Perusahaan mencetak uang dari ledakan properti dalam skala yang belum pernah dilihat dunia.

Evergrande terus berkembang dan merambah banyak bisnis baru, seperti air minum kemasan hingga kendaraan listrik. Bank dan investor dengan senang hati memberikan uang mereka, bertaruh pada kelas menengah China yang sedang tumbuh.

Baru-baru ini, real estat mendapat sorotan dari regulator China yang ingin mengakhiri tahun-tahun booming dan telah memaksa industri untuk mulai melunasi utang.

Akan tetapi, saluran pendanaan Evergrande mulai mengering. Menurut wawancara dengan karyawan, laporan media pemerintah dan dokumen perusahaan yang dilihat oleh The New York Times, perusahaan mulai memaksa anggota staf untuk membantu menyelamatkan perusahaan pada awal April.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel